Distributor Resmi AMTAST di Indonesia

Panduan Lengkap Formulasi Disinfektan Rumah Sakit: Viskositas dan Homogenitas

High-quality viscometer and homogenizer on a laboratory benchtop for testing hospital disinfectant viscosity and homogeneity.

Di lingkungan rumah sakit yang kritis, efektivitas disinfektan bukanlah sebuah pilihan, melainkan sebuah keharusan mutlak. Namun, di balik klaim “membunuh 99,9% kuman”, terdapat parameter teknis yang sering diabaikan namun menjadi penentu kesuksesan atau kegagalan sebuah program pencegahan infeksi: viskositas dan homogenitas formulasi. Ketidakstabilan pada kedua aspek fisik ini dapat menyebabkan distribusi bahan aktif yang tidak merata, mengurangi efikasi desinfeksi, dan pada akhirnya, meningkatkan risiko penularan infeksi nosokomial.

Frustasi dengan kurangnya panduan praktis yang menghubungkan teori dengan aplikasi lapangan? Artikel ini hadir sebagai panduan teknis definitif bagi personel R&D, Quality Control/Assurance, dan procurement di industri farmasi, kimia, dan fasilitas kesehatan. Kami tidak hanya akan menjabarkan “apa” yang diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No. 62 Tahun 2017, tetapi juga mendalami “bagaimana” dan “mengapa” hubungan simbiosis antara viskositas dan homogenitas menjadi kunci kesuksesan formulasi. Dilengkapi dengan protokol pengujian, strategi optimasi, dan panduan troubleshooting berbasis regulasi dan prinsip farmasi, panduan ini dirancang untuk membantu Anda menjamin produk disinfektan yang aman, efektif, dan konsisten.

  1. Standar Regulasi dan Parameter Kualitas Kritis Disinfektan Rumah Sakit
    1. Mengapa Standar Rumah Sakit Lebih Ketat?
    2. Parameter Kualitas Utama dalam Pengujian Disinfektan
  2. Hubungan Simbiosis: Bagaimana Viskositas Mempengaruhi Homogenitas dan Efektivitas
    1. Mekanisme Reologi: Viskositas dan Kemampuan Pencampuran
    2. Dampak Ketidakseimbangan pada Efektivitas Akhir
  3. Teknik dan Metode Praktis untuk Mencapai Formulasi Optimal
    1. Panduan Pengukuran: Viskositas dan Homogenitas
    2. Strategi Optimasi Formulasi: Bahan dan Proses
  4. Troubleshooting: Diagnosis dan Solusi Masalah Formulasi Umum
    1. Mendiagnosis Akar Penyebab Ketidakhomogenan
    2. Menangani Viskositas yang Berfluktuasi
  5. Pemastian Kualitas Berkelanjutan: Pengujian dan Monitoring
    1. Protokol Stability Testing dan Prediksi Masa Simpan
    2. Membangun Sistem Quality Control yang Efektif
  6. Kesimpulan
  7. Referensi

Standar Regulasi dan Parameter Kualitas Kritis Disinfektan Rumah Sakit

Landasan utama dalam produksi dan penggunaan disinfektan rumah sakit di Indonesia adalah Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 62 Tahun 2017 tentang Izin Edar Alat Kesehatan dan Perbekalan Kesehatan Rumah. Regulasi ini menetapkan kerangka wajib yang menjamin keamanan, mutu, dan kemanfaatan perbekalan kesehatan, termasuk disinfektan [1]. Selain Kemenkes, standar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta Farmakope Indonesia juga menjadi acuan penting dalam menjamin kualitas produk. Pengujian disinfektan rumah sakit yang komprehensif, sebagaimana diidentifikasi dalam penelitian, umumnya meliputi parameter organoleptik (warna, bau), pH, homogenitas, viskositas, dan koefisien fenol [1]. Memahami kerangka regulasi ini adalah langkah pertama yang kritis untuk kepatuhan dan keselamatan pasien. Untuk konteks yang lebih luas, organisasi kesehatan global seperti WHO juga telah menetapkan pedoman mendasar, seperti tercantum dalam Panduan WHO untuk Program Pencegahan Infeksi di Fasilitas Kesehatan.

Mengapa Standar Rumah Sakit Lebih Ketat?

Disinfektan rumah sakit tidak dapat disamakan dengan produk pembersih rumah tangga. Lingkungan rumah sakit dihuni oleh patogen yang lebih virulen dan resisten, seperti Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA), Clostridioides difficile, dan berbagai virus enveloped. Kegagalan desinfeksi terhadap patogen-patogen spesifik ini dapat menyebabkan Healthcare-Associated Infections (HAIs) yang memperpanjang masa rawat, meningkatkan biaya, dan berpotensi menyebabkan kematian. Oleh karena itu, standar efikasi dan konsistensi harus jauh lebih ketat. Pedoman teknis dari pusat pengendalian penyakit terkemuka, seperti yang dirilis CDC, memberikan rincian mendalam tentang tantangan ini, sebagaimana dapat dipelajari dalam Panduan CDC untuk Disinfeksi dan Sterilisasi di Fasilitas Kesehatan.

Parameter Kualitas Utama dalam Pengujian Disinfektan

Setiap parameter pengujian memiliki peran spesifik dalam menjamin keamanan dan efektivitas:

  • Organoleptik & pH: Menjamin karakteristik fisik dasar dan keamanan bagi permukaan serta peralatan.
  • Koefisien Fenol: Ukuran standar aktivitas antimikroba secara kimiawi.
  • Homogenitas: Parameter kritis yang menjamin distribusi bahan aktif yang merata di seluruh volume produk. Ketidakhomogenan berarti variasi dosis, yang langsung berdampak pada efikasi.
  • Viskositas: Parameter fisik kunci yang tidak hanya mempengaruhi cara aplikasi (semprot, lap, pel), tetapi juga secara langsung mempengaruhi pencapaian dan pemeliharaan homogenitas, serta stabilitas formulasi dalam jangka panjang.

Hubungan Simbiosis: Bagaimana Viskositas Mempengaruhi Homogenitas dan Efektivitas

Hubungan antara viskositas dan homogenitas dalam formulasi disinfektan bersifat simbiosis dan dinamis. Viskositas, atau kekentalan cairan, menentukan lingkungan fisik di mana partikel bahan aktif dan eksipien harus didistribusikan secara merata. Viskositas yang terlalu tinggi dapat menciptakan hambatan bagi pergerakan partikel, menghambat pencampuran yang sempurna dan menyebabkan “pocket” konsentrasi bahan aktif yang tidak merata. Sebaliknya, viskositas yang terlalu rendah dapat mengurangi kemampuan sistem untuk menjaga partikel tersuspensi, mengakibatkan sedimentasi atau pemisahan fase seiring waktu.

Rentang viskositas optimal untuk aplikasi dan stabilitas disinfektan umumnya berkisar antara 100 hingga 500 centipoise (cP), tergantung pada metode aplikasinya (semprot, lap, atau pel) [2]. Rentang ini, yang berasal dari praktik industri dan panduan otoritatif, memfasilitasi distribusi partikel yang merata (homogenitas) sekaligus memastikan produk dapat diaplikasikan dengan benar dan menempel pada permukaan cukup lama untuk bekerja efektif. Penelitian juga menunjukkan bahwa viskositas mempengaruhi difusi bahan aktif dalam media uji, yang berhubungan langsung dengan pembentukan zona hambat dalam uji efikasi mikrobiologis [1]. Dasar ilmiah dari hubungan reologi dan stabilitas sistem dispersi ini dijelaskan lebih lanjut dalam literatur farmasi, seperti yang dibahas dalam Prinsip Ilmiah Formulasi Farmasi: Viskositas dan Homogenitas.

Mekanisme Reologi: Viskositas dan Kemampuan Pencampuran

Reologi, ilmu yang mempelajari aliran dan deformasi materi, adalah kunci untuk memahami hubungan ini. Viskositas bukanlah angka statis; ia dapat berubah tergantung pada gaya geser (shear rate) yang diterapkan. Dalam konteks disinfektan, shear rate yang relevan terjadi selama pencampuran di tangki, pemompaan, penyemprotan, atau pengelapan di permukaan. Viskositas yang diukur harus merepresentasikan kondisi aplikasi ini. Sebuah panduan teknis dari Brookfield Engineering, pemimpin dalam pengukuran viskositas, menekankan bahwa pengukuran yang akurat memerlukan pemilihan geometri spindle dan kecepatan rotasi yang sesuai dengan shear rate aplikasi nyata [2]. Pemahaman ini penting untuk mengembangkan formulasi yang tidak hanya homogen di dalam drum, tetapi juga tetap konsisten saat diaplikasikan.

Dampak Ketidakseimbangan pada Efektivitas Akhir

Ketika hubungan simbiosis ini terganggu, konsekuensinya langsung terasa pada kinerja produk. Formulasi yang tidak homogen berarti bahwa satu bagian produk mungkin memiliki konsentrasi bahan aktif yang memadai, sementara bagian lain tidak. Penggunaan produk seperti ini menyebabkan “hot spot” dan “cold spot” pada permukaan yang didesinfeksi, meninggalkan area yang tidak terbasmi mikroba. Di sisi lain, viskositas yang tidak tepat dapat menyebabkan produk terlalu encer sehingga mengalir dan mengering terlalu cepat (waktu kontak tidak cukup), atau terlalu kental sehingga sulit menyebar merata dan meninggalkan residu. Kedua skenario ini berujung pada hal yang sama: efektivitas disinfektan berkurang. Dalam setting rumah sakit, hal ini bukan hanya masalah kinerja produk, tetapi sebuah risiko klinis yang dapat menyebabkan transmisi infeksi.

Teknik dan Metode Praktis untuk Mencapai Formulasi Optimal

Setelah memahami “mengapa”, langkah selanjutnya adalah “bagaimana”. Bagian ini memberikan panduan praktis untuk mengukur dan mengoptimasi kedua parameter kritis ini, mengisi kesenjangan informasi spesifik yang sering dicari oleh praktisi.

Panduan Pengukuran: Viskositas dan Homogenitas

Pengukuran Viskositas:

  1. Alat: Gunakan viskometer rotasional (seperti tipe Brookfield) atau cup viskometer. Viskometer Brookfield adalah pilihan umum di industri karena kemampuannya mengontrol shear rate.
  2. Kalibrasi & Suhu: Kalibrasi alat secara berkala sesuai standar pabrik. Lakukan pengukuran pada suhu terkontrol (misalnya, 25°C ± 0.5°C), karena viskositas sangat dipengaruhi suhu.
  3. Prosedur: Pilih spindle dan kecepatan rotasi yang sesuai dengan rentang viskositas sampel. Catat pembacaan viskositas dalam satuan centipoise (cP) atau Pascal-detik (Pa.s) setelah pembacaan stabil.
  4. Pelaporan: Laporkan nilai viskositas beserta kondisi pengukuran (spindle, kecepatan, suhu).

Pengujian Homogenitas (Metode Kaca Preparat):

  1. Alat: Dua keping kaca preparat atau pelat transparan bersih dan kering.
  2. Prosedur: Ambil sampel kecil formulasi. Oleskan secara tipis dan merata di antara dua keping kaca preparat.
  3. Evaluasi: Amati dengan mata telanjang di bawah pencahayaan yang baik terhadap latar belakang putih dan hitam.
  4. Interpretasi: Formulasi dinyatakan homogen jika tidak terlihat butiran, gumpalan, garis-garis, atau variasi warna. Adanya ketidakseragaman visual menunjukkan masalah. Prinsip ini selaras dengan konsep keseragaman (uniformity) yang diatur dalam standar farmasi seperti USP General Chapter <905> [3].

Strategi Optimasi Formulasi: Bahan dan Proses

Untuk mencapai viskositas dan homogenitas optimal, pertimbangkan faktor-faktor berikut:

  • Pemilihan Bahan Tambahan (Excipients):
    • Thickener (Pembentuk Kekentalan): Pilih polimer (seperti Carbomer, Xanthan Gum) yang kompatibel dengan sistem pelarut dan bahan aktif. Konsentrasi harus dioptimasi untuk mencapai rentang 100-500 cP.
    • Surfaktan: Berperan menurunkan tegangan permukaan, meningkatkan wettability (kemampuan membasahi), dan membantu stabilisasi sistem dispersi, sehingga meningkatkan homogenitas.
    • Stabilizer: Digunakan untuk mencegah sedimentasi atau pemisahan fase, menjaga homogenitas selama masa simpan.
  • Optimasi Proses Pencampuran:
    • Peralatan: Gunakan homogenizer berkecepatan tinggi atau mixer yang mampu menghasilkan geseran cukup untuk memecah aglomerat.
    • Parameter: Optimasi kecepatan pengadukan, waktu pencampuran, dan suhu proses.
    • Urutan Pencampuran: Urutan penambahan bahan dapat mempengaruhi hasil akhir. Umumnya, thickener didispersikan dalam pelarut terlebih dahulu sebelum penambahan bahan aktif dan eksipien lain.

Troubleshooting: Diagnosis dan Solusi Masalah Formulasi Umum

Bahkan dengan perencanaan matang, masalah dapat muncul. Bagian ini memberikan pendekatan sistematis untuk diagnosis dan perbaikan.

Mendiagnosis Akar Penyebab Ketidakhomogenan

Jika formulasi menunjukkan tanda-tanda seperti lapisan terpisah, endapan di dasar, atau variasi warna/warna keruh, lakukan diagnosa bertahap:

  1. Periksa Kompatibilitas Bahan: Apakah semua bahan (aktif dan eksipien) secara kimia dan fisika kompatibel? Konsultasi dengan pemasok atau data sheet teknis.
  2. Evaluasi Proses Pencampuran: Apakah waktu dan kecepatan pencampuran cukup? Apakah urutan penambahan bahan sudah benar?
  3. Periksa Konsentrasi Thickener/Stabilizer: Apakah konsentrasinya sudah optimal untuk sistem ini? Terlalu rendah dapat menyebabkan sedimentasi, terlalu tinggi dapat menghambat pencampuran.
  4. Ukur pH: Perubahan pH dapat mempengaruhi kelarutan bahan aktif dan stabilitasi sistem thickener (terutama polimer ionik).

Menangani Viskositas yang Berfluktuasi

Viskositas yang berubah seiring waktu mengindikasikan ketidakstabilan formulasi. Penyebab umum meliputi:

  • Degradasi Polimer Thickener: Paparan suhu ekstrem, pH tidak sesuai, atau kontaminasi mikroba dapat memutus rantai polimer.
  • Perubahan pH: Dapat mengubah konformasi dan daya thickener polimer ionik.
  • Penguapan Pelarut: Kemasan yang tidak kedap dapat menyebabkan penguapan pelarut (seperti air), meningkatkan konsentrasi dan viskositas.

Solusi: Lakukan stability testing yang mencakup pemantauan viskositas pada interval waktu tertentu. Protokol accelerated aging test, misalnya menyimpan sampel pada 40°C dan kelembaban relatif 75% selama 6 bulan, dapat membantu memprediksi stabilitas jangka panjang [4]. Identifikasi dan koreksi akar penyebab, misalnya dengan menambahkan buffer pH, pengawet, atau mengganti thickener yang lebih stabil.

Pemastian Kualitas Berkelanjutan: Pengujian dan Monitoring

Kontrol kualitas tidak berhenti pada satu batch. Dibutuhkan sistem monitoring berkelanjutan untuk memastikan konsistensi dan efektivitas sepanjang masa simpan produk.

Protokol Stability Testing dan Prediksi Masa Simpan

Sebagai bagian dari jaminan kualitas, lakukan dua jenis pengujian stabilitas:

  1. Real-Time Stability Testing: Menyimpan produk dalam kemasan akhir pada kondisi penyimpanan yang direkomendasikan (misalnya, suhu kamar) dan menguji parameter kritis (viskositas, homogenitas, pH, efikasi) pada interval waktu tertentu hingga masa simpan yang diklaim.
  2. Accelerated Stability Testing: Menyimpan produk pada kondisi stres (seperti 40°C ± 2°C / 75% RH ± 5% RH) untuk periode yang lebih singkat (minimal 6 bulan) guna mengidentifikasi potensi masalah dan memberikan indikasi awal stabilitas [4]. Viskositas dan homogenitas harus menjadi atribut kualitas kritis yang dipantau dalam studi ini.

Membangun Sistem Quality Control yang Efektif

Implementasikan checklist quality control sederhana namun komprehensif untuk setiap batch produksi:

  • Pra-Produksi: Konfirmasi spesifikasi dan sertifikat analisis semua bahan baku.
  • Selama Pencampuran: Monitor suhu dan waktu pencampuran. Ambil sampel in-process untuk uji pH awal.
  • Setelah Pencampuran (Batch Release):
    • Ukur dan catat viskositas (pada suhu terkontrol).
    • Lakukan uji homogenitas visual dengan metode kaca preparat.
    • Ukur pH.
    • Lakukan uji identifikasi/kualitatif bahan aktif (jika ada).
  • Stabilitas: Jadwalkan pengujian stabilitas berkala (misal, bulan ke-0, 3, 6, 12, 18, 24) untuk batch yang disimpan.

Sistem ini, yang selaras dengan prinsip Good Manufacturing Practice (GMP), memungkinkan deteksi dini penyimpangan dan menjamin kepatuhan terhadap standar, termasuk kerangka program pencegahan infeksi berkelanjutan dari WHO.

Kesimpulan

Viskositas dan homogenitas jauh lebih dari sekadar angka di lembar spesifikasi; mereka adalah pilar fisik yang mendukung efektivitas biologis disinfektan rumah sakit. Hubungan simbiosis antara keduanya menentukan apakah bahan aktif didistribusikan dan diaplikasikan secara merata untuk mencapai kill rate yang diharapkan. Penguasaan terhadap hubungan ini, didukung oleh pemahaman mendalam terhadap regulasi Kemenkes dan penerapan metode pengujian serta optimasi yang tepat, merupakan kunci operasional untuk memastikan keamanan pasien, melindungi tenaga kesehatan, dan mendukung keberhasilan program pencegahan dan pengendalian infeksi.

Langkah selanjutnya adalah menerapkan prinsip-prinsip dalam panduan teknis ini ke dalam protokol kerja Anda. Selalu prioritaskan untuk merujuk pada regulasi terbaru dari Kemenkes dan BPOM, serta berkonsultasilah dengan ahli farmasi atau formulasi untuk implementasi yang spesifik dan sesuai dengan kebutuhan fasilitas Anda.

Tentang CV. Java Multi Mandiri

Sebagai mitra tepercaya bagi industri dan bisnis, CV. Java Multi Mandiri berkomitmen untuk mendukung operasional yang presisi dan efisien. Kami adalah pemasok dan distributor alat ukur serta alat uji berkualitas tinggi, termasuk viskometer dan peralatan laboratorium kontrol kualitas lainnya yang esensial untuk menjamin akurasi dalam pengujian parameter seperti viskositas dan homogenitas formulasi. Bagi perusahaan yang ingin mengoptimalkan proses quality control formulasi disinfektan atau produk industri lainnya, kami siap menyediakan solusi peralatan yang tepat. Hubungi tim kami melalui halaman konsultasi solusi bisnis untuk mendiskusikan kebutuhan spesifik perusahaan Anda.

Disclaimer: Artikel ini ditujukan untuk tujuan informasi dan edukasi teknis. Implementasi formulasi dan pengujian disinfektan untuk penggunaan di rumah sakit harus merujuk pada regulasi resmi Kemenkes dan BPOM, serta dilakukan di bawah pengawasan tenaga profesional yang kompeten.

Rekomendasi Alat Laboratorium

Referensi

  1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2017). Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 62 Tahun 2017 tentang Izin Edar Alat Kesehatan dan Perbekalan Kesehatan Rumah. [Sumber Regulasi].
  2. Brookfield Engineering Laboratories, Inc. (N.D.). Viscosity Measurement in Pharmaceutical Manufacturing. Application Notes. Diakses dari https://www.brookfieldengineering.com/learning-center/application-notes/pharmaceuticals/viscosity-measurement-in-pharmaceutical-manufacturing
  3. United States Pharmacopeia (USP). (N.D.). USP General Chapter <905> Uniformity of Dosage Units. Diakses dari https://www.usp.org/sites/default/files/usp/document/our-work/chemical-medicines/key-issues/usp-general-chapter-905-uniformity-of-dosage-units.pdf
  4. U.S. Food and Drug Administration (FDA). (N.D.). FDA Guidance for Industry: Stability Testing of Drug Substances and Drug Products. Diakses dari https://www.fda.gov/media/83271/download

Main Menu