
Marka jalan yang pudar, mengelupas, atau retak dalam hitungan bulan setelah aplikasi adalah masalah yang terlalu umum—dan mahal. Bagi kontraktor, insinyur sipil, dan staf dinas pekerjaan umum, kegagalan dini ini tidak hanya berarti biaya pengerjaan ulang yang membengkak dan jadwal proyek yang terganggu, tetapi juga menciptakan risiko keselamatan lalu lintas yang serius. Akar masalahnya sering kali terletak pada satu faktor fundamental yang terabaikan: ketebalan cat.
Informasi mengenai standar dan praktik terbaik sering kali tersebar di berbagai dokumen teknis yang padat dan situs web pemasok yang tidak lengkap. Akibatnya, para profesional di lapangan kesulitan menemukan panduan yang jelas dan dapat ditindaklanjuti.
Artikel ini adalah solusi Anda. Anggap ini sebagai Panduan Lapangan A-Z yang dirancang khusus untuk para profesional marka jalan di Indonesia. Kami menjembatani kesenjangan antara spesifikasi teknis pemerintah dan tantangan aplikasi di dunia nyata. Anda akan menemukan pembahasan mendalam mengenai:
Mari kita mulai membangun fondasi untuk marka jalan yang aman, patuh standar, dan tahan lama.
Sebelum cat menyentuh aspal, keputusan terpenting telah dibuat di atas kertas. Memahami standar dan spesifikasi teknis bukan hanya tentang kepatuhan—ini tentang membangun dasar untuk kinerja, keamanan, dan efisiensi biaya jangka panjang. Bagian ini akan menguraikan ‘mengapa’ di balik pentingnya ketebalan dan ‘apa’ yang menjadi standar resmi di Indonesia.
Engineer’s Note: Ketebalan cat marka jalan bukanlah sekadar angka dalam dokumen tender. Ini adalah variabel kritis yang secara langsung memengaruhi biaya siklus hidup (life-cycle cost) proyek. Aplikasi yang lebih tebal dan sesuai standar mungkin memerlukan investasi awal yang sedikit lebih tinggi, tetapi secara signifikan mengurangi frekuensi dan biaya pemeliharaan ulang di masa depan, menghasilkan penghematan total yang jauh lebih besar.
Otoritas utama dalam penetapan standar ini di Indonesia adalah badan-badan seperti Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal Bina Marga dan Badan Standardisasi Nasional (BSN), yang memastikan adanya acuan teknis yang seragam dan teruji untuk keselamatan infrastruktur jalan.
Sering kali, untuk menekan biaya, ketebalan cat dikurangi. Namun, ini adalah penghematan semu yang justru menimbulkan biaya lebih besar di kemudian hari. Menjawab pertanyaan mendasar, “Mengapa ketebalan yang tepat penting untuk keamanan lalu lintas?” dan “Apa yang terjadi jika cat marka jalan terlalu tipis?”, jawabannya terletak pada tiga pilar kinerja:
Untuk memastikan keseragaman dan kualitas, Indonesia memiliki Standar Nasional Indonesia (SNI) yang mengatur spesifikasi cat marka jalan. Ini adalah jawaban definitif untuk pertanyaan, “Berapa standar ketebalan cat marka jalan menurut SNI?”.
Dokumen rujukan utama adalah SNI 06-4825-1998 mengenai Spesifikasi Campuran Cat Marka Jalan Siap Pakai[1]. Meskipun standar ini dan dokumen teknis lainnya dari Direktorat Jenderal Bina Marga memberikan spesifikasi yang komprehensif, persyaratan ketebalan minimum adalah salah satu parameter yang paling kritis untuk dipatuhi di lapangan.
Berikut adalah tabel perbandingan standar ketebalan minimum yang disederhanakan berdasarkan jenis material yang umum digunakan:
| Jenis Material Cat | Standar Ketebalan Minimum yang Direkomendasikan | Catatan Penting |
|---|---|---|
| Termoplastik | 1,5 mm (ketebalan kering) | Diaplikasikan dalam keadaan panas dan meleleh. Ketebalan ini memastikan daya tahan mekanis yang tinggi. |
| Non-Termoplastik | 0,38 mm (ketebalan basah) | Diaplikasikan dalam keadaan dingin (cair). Ketebalan basah akan menyusut saat pelarut menguap. |
| Ketebalan Umum | 2,0 mm hingga 3,0 mm | Rentang ini sering dianggap sebagai praktik terbaik untuk daya tahan optimal di berbagai kondisi lalu lintas[7]. |
Mematuhi standar ini bukan hanya soal regulasi, tetapi juga jaminan bahwa material yang digunakan akan berfungsi sebagaimana mestinya.
Memilih antara cat termoplastik dan cold plastic (sering juga disebut cat dua komponen) adalah keputusan teknis yang memengaruhi metode aplikasi, waktu pengeringan, dan kinerja jangka panjang. Memahami perbedaan teknis mereka sangat penting bagi manajer proyek dan insinyur.
Engineer’s Note: Istilah teknis seperti softening point (titik pelunakan) sangat relevan. Softening point yang lebih tinggi pada cat termoplastik menunjukkan bahwa cat tidak akan mudah melunak atau berubah bentuk di bawah suhu permukaan aspal yang tinggi, sebuah pertimbangan krusial untuk iklim tropis di Indonesia.
Berikut tabel perbandingan spesifikasi teknis utama, dengan wawasan dari sumber industri seperti Suryaline.com yang menjelaskan perbedaan material secara detail[2]:
| Parameter Teknis | Cat Termoplastik (Thermoplastic) | Cat Cold Plastic |
|---|---|---|
| Komposisi Utama | Resin, pigmen, filler, dan glass beads dalam bentuk padat (blok/bubuk). | Resin akrilik atau metil metakrilat (MMA) cair + pengeras (katalis). |
| Metode Aplikasi | Dipanaskan hingga suhu 180-220°C, diaplikasikan dengan mesin khusus. | Dicampur di lokasi, diaplikasikan dalam keadaan dingin dengan alat semprot atau manual. |
| Waktu Pengeringan | Sangat cepat (beberapa menit), kering saat suhu turun. Lalu lintas bisa dibuka kembali dengan cepat. | Lebih lama (bisa 30 menit hingga beberapa jam), tergantung suhu dan kelembapan. |
| Daya Tahan | Sangat baik, terutama terhadap abrasi. Ideal untuk jalan raya dan area lalu lintas padat. | Sangat baik, memiliki ketahanan kimia dan daya rekat kuat pada beton dan aspal. |
| Ketebalan Aplikasi | Tebal (umumnya 1,5 mm – 3,0 mm). | Bisa diaplikasikan lebih tebal dari cat biasa, sering digunakan untuk marka berstruktur. |
| Peralatan | Membutuhkan mesin pemanas (preheater) dan mesin aplikasi khusus. | Membutuhkan peralatan pencampur dan aplikasi semprot atau manual. |
Pemilihan antara keduanya bergantung pada kebutuhan spesifik proyek: kecepatan pengerjaan, volume lalu lintas, jenis permukaan jalan, dan anggaran.
Teori dan standar adalah panduan, tetapi eksekusi di lapangan adalah penentu keberhasilan. Bagian ini adalah panduan praktis Anda, yang mengubah spesifikasi teknis menjadi langkah-langkah yang dapat ditindaklanjuti, mulai dari persiapan kritis hingga kontrol kualitas akhir melalui pengukuran.
Contractor’s Field Tip: Jangan pernah meremehkan kondisi cuaca. Aplikasi cat pada permukaan yang lembap atau saat suhu udara terlalu rendah/tinggi di luar rekomendasi pabrikan adalah resep pasti untuk kegagalan daya rekat. Selalu periksa prakiraan cuaca dan suhu permukaan aspal sebelum memulai pekerjaan.
Aplikasi cat marka terbaik di dunia akan gagal jika diaplikasikan pada permukaan yang tidak siap. Daya rekat adalah segalanya. Persiapan permukaan yang buruk adalah penyebab utama dari pengelupasan (peeling) dan retak. Sumber-sumber berbasis pengalaman lapangan seperti Solidline.id secara konsisten menekankan bahwa permukaan yang kotor atau lembap adalah biang keladi kegagalan cat[3].
Gunakan daftar periksa berikut untuk memastikan persiapan yang sempurna:
Inspector’s Checklist: Persiapan Permukaan
- Kebersihan: Permukaan harus benar-benar bebas dari debu, kotoran, pasir, dan kerikil lepas. Gunakan sikat kawat, kompresor udara (air compressor), atau mesin penyapu jalan.
- Bebas Minyak & Gemuk: Setiap tumpahan oli atau gemuk harus dihilangkan dengan deterjen atau degreaser yang sesuai, lalu dibilas hingga bersih. Sisa minyak akan mencegah cat menempel.
- Kelembapan: Permukaan harus benar-benar kering. Jangan melakukan aplikasi setelah hujan atau dalam kondisi kabut tebal. Gunakan alat ukur kelembapan jika perlu.
- Marka Lama: Marka lama yang sudah tebal dan mengelupas harus dihilangkan terlebih dahulu dengan metode grinding atau water blasting untuk memberikan “gigi” bagi lapisan baru.
- Suhu Permukaan: Pastikan suhu permukaan jalan sesuai dengan rekomendasi teknis dari produsen cat.
Mengabaikan salah satu dari langkah-langkah ini sama saja dengan membuang-buang waktu, material, dan uang.
Verifikasi adalah kunci kepatuhan. Setelah aplikasi, Anda harus dapat membuktikan bahwa ketebalan marka sesuai dengan standar yang disyaratkan. Alat utama untuk tugas ini adalah Coating Thickness Gauge atau alat ukur ketebalan lapisan.

Menurut para ahli dari penyedia alat uji seperti Alatuji.com, alat ini bekerja dengan berbagai prinsip, namun yang umum untuk marka jalan adalah metode mekanis atau ultrasonik untuk mengukur perbedaan ketinggian antara puncak marka dan permukaan jalan[4]. Prosedur pengukuran yang benar, seperti yang diuraikan dalam dokumen teknis dari Pusat Litbang Jalan dan Jembatan[5], sangat penting untuk mendapatkan hasil yang akurat.
Berikut adalah langkah-langkah umum untuk mengukur ketebalan cat marka jalan:
Pengukuran yang terdokumentasi dengan baik adalah bukti tak terbantahkan dari kualitas pekerjaan dan kepatuhan terhadap kontrak dan standar keselamatan.
Memenuhi standar minimum adalah satu hal; mengoptimalkan kinerja untuk daya tahan maksimal dan visibilitas superior adalah hal lain. Bagian ini berfokus pada hasil akhir: bagaimana memastikan marka jalan Anda tidak hanya patuh, tetapi juga berfungsi secara efektif selama mungkin, terutama dalam kondisi kritis seperti malam hari atau hujan lebat.
Pernah bertanya-tanya “Bagaimana cara membuat marka jalan menyala di malam hari?” Jawabannya bukan karena cat itu sendiri bersinar, melainkan sebuah fenomena optik yang disebut retroreflektivitas. Ini adalah kemampuan marka untuk memantulkan cahaya dari lampu depan mobil kembali ke arah mata pengemudi, membuatnya tampak bersinar terang dalam kegelapan.

Kunci dari retroreflektivitas adalah glass beads atau manik-manik kaca. Manik-manik kecil ini ditaburkan atau dicampur ke dalam cat saat aplikasi.
Menurut sumber teknis, diameter manik-manik kaca yang umum digunakan berkisar antara 0,1 mm hingga 1,4 mm[6]. Ukuran dan kualitas manik-manik ini, serta kedalaman penanamannya di dalam cat (sekitar 60% tertanam), sangat menentukan efektivitasnya. Pemasok material seperti Purfequ.com menjelaskan bahwa ada dua metode aplikasi utama: drop-on (ditaburkan di atas cat basah) dan intermix (dicampur langsung ke dalam cat), di mana metode drop-on memberikan retroreflektivitas awal yang paling tinggi[6].
Daya tahan marka jalan tidak seragam; ia dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan dan operasional. Memahami faktor-faktor ini memungkinkan perencanaan pemeliharaan yang lebih baik dan pemilihan material yang lebih tepat. Dokumen teknis dari lembaga penelitian seperti Pusat Litbang Jalan dan Jembatan sering kali membahas metode pengujian untuk parameter daya tahan ini[5].
Faktor utama yang mempengaruhi umur pakai meliputi:
Untuk membantu perencanaan, berikut adalah tabel perkiraan umur pakai berdasarkan jenis cat dan kondisi lalu lintas, sebuah informasi yang sering kali menjadi kesenjangan dalam konten lain:
| Jenis Material Cat | Kondisi Lalu Lintas Rendah (mis. Area Parkir) | Kondisi Lalu Lintas Sedang (mis. Jalan Perkotaan) | Kondisi Lalu Lintas Tinggi (mis. Jalan Tol/Arteri) |
|---|---|---|---|
| Cat Water-Based/Solvent-Based | 1 – 2 tahun | 6 – 12 bulan | < 6 bulan |
| Cat Cold Plastic | 4 – 6 tahun | 2 – 4 tahun | 1 – 3 tahun |
| Cat Termoplastik | 5 – 8 tahun | 3 – 5 tahun | 2 – 4 tahun |
Catatan: Angka ini adalah perkiraan dan dapat sangat bervariasi tergantung pada semua faktor yang disebutkan di atas.
Bagian ini adalah inti dari panduan lapangan Anda—sebuah ensiklopedia visual untuk mendiagnosis masalah. Ketika marka jalan gagal sebelum waktunya, mengetahui mengapa adalah langkah pertama untuk memperbaikinya dengan benar dan mencegahnya terjadi lagi. Kami akan memecah kegagalan paling umum, menunjukkan seperti apa bentuknya, menjelaskan kemungkinan penyebabnya, dan merekomendasikan solusinya.
Contractor’s Field Tip: Selalu dokumentasikan kegagalan dengan foto sebelum melakukan perbaikan. Ini tidak hanya membantu dalam analisis akar masalah tetapi juga penting untuk klaim garansi atau diskusi dengan pemasok material.
Tampilan Visual: Warna marka jalan (putih atau kuning) tampak kusam, pucat, dan kehilangan kontrasnya dengan aspal, jauh sebelum terkikis secara fisik.
Kemungkinan Penyebab:
Solusi yang Direkomendasikan:
Ini adalah dua mode kegagalan yang berbeda namun sering kali terkait dengan masalah daya rekat dan fleksibilitas.
Kemungkinan Penyebab:
Solusi yang Direkomendasikan:
Tampilan Visual: Marka jalan yang diaplikasikan pada aspal yang baru dihampar tampak bernoda kecoklatan atau kekuningan. Noda ini seolah-olah “merembes” dari bawah ke atas permukaan cat.
Kemungkinan Penyebab:
Solusi yang Direkomendasikan:
Dengan memahami tanda-tanda visual ini, Anda dapat beralih dari sekadar memperbaiki masalah menjadi seorang ahli diagnostik yang mencegah kegagalan sejak awal.
Ketebalan cat marka jalan jauh lebih dari sekadar angka dalam spesifikasi; ia adalah fondasi dari daya tahan, visibilitas, dan keselamatan jalan. Dengan menguasai empat pilar utama yang telah kita bahas—kepatuhan terhadap standar SNI, ketelitian dalam aplikasi dan pengukuran, strategi untuk memaksimalkan kinerja dan visibilitas, serta kemampuan untuk mendiagnosis kegagalan—Anda memegang kendali penuh atas kualitas dan umur pakai proyek Anda.
Artikel ini telah membekali Anda dengan pengetahuan terpadu, menjembatani teori regulasi dengan praktik di lapangan. Anda kini dapat membuat keputusan yang lebih cerdas dalam pemilihan material, melaksanakan aplikasi yang presisi, dan memecahkan masalah dengan percaya diri. Ingatlah bahwa setiap garis marka yang Anda aplikasikan dengan benar adalah investasi langsung untuk keselamatan setiap pengguna jalan.
Untuk memastikan proyek Anda selalu sesuai standar, unduh Checklist Kepatuhan SNI & Aplikasi Marka Jalan gratis kami. Atau, hubungi tim ahli kami untuk konsultasi material pada proyek Anda berikutnya.
Disclaimer: Informasi dalam artikel ini bertujuan sebagai panduan umum dan harus digunakan bersamaan dengan konsultasi dokumen resmi SNI/PUPR terbaru dan spesifikasi teknis dari produsen cat. Selalu patuhi regulasi keselamatan kerja dan lalu lintas saat melakukan aplikasi di lapangan.

Pengiriman Produk
Ke Seluruh Indonesia
Gratis Ongkir
S & K Berlaku
Garansi Produk
Untuk Produk Tertentu
Customer Support
Konsultasi & Technical
Distributor Resmi AMTAST di Indonesia
AMTAST Indonesia di bawah naungan Ukurdanuji (CV. Java Multi Mandiri) merupakan distributor resmi AMTAST di Indonesia. AMTAST adalah brand instrumen pengukuran dan pengujian ternama yang menyediakan berbagai macam alat ukur dan uji untuk laboratorium dan berbagai industri sesuai kebutuhan Anda.
© 2025 Copyright by CV. Java Multi Mandiri