Distributor Resmi AMTAST di Indonesia

Panduan Standar ISO 10816 untuk Getaran Mesin Centrifugal Sawit

Probe on centrifugal pump bearing housing monitoring vibration standards for palm oil mill machinery.

Di pabrik kelapa sawit (PKS), mesin centrifugal seperti pompa centrifugal, sludge centrifuge/separator, dan blower adalah tulang punggung proses produksi. Namun, getaran yang tidak terkontrol pada mesin-mesin ini sering menjadi penyebab utama downtime tak terjadwal, kerusakan bearing, kegagalan kopling, dan bahkan kerusakan struktural yang memakan biaya besar. Bagi manajer pemeliharaan dan teknisi lapangan, pertanyaan kritisnya adalah: Seberapa aman getaran mesin saya? Kapan saya harus turun mesin?

Standar internasional ISO 10816 memberikan jawaban objektif. Standar ini mendefinisikan zona getaran (A, B, C, D) yang memungkinkan Anda menilai kondisi mesin secara kuantitatif dan mengambil keputusan perawatan yang tepat. Artikel ini menyajikan panduan lengkap dan praktis—khusus untuk konteks pabrik kelapa sawit Indonesia—mencakup standar yang berlaku, cara mengukur yang benar, interpretasi hasil, diagnosis penyebab getaran tinggi, dan strategi monitoring prediktif. Dengan menguasai standar ini, Anda dapat mengubah data getaran mentah menjadi tindakan pemeliharaan yang hemat biaya dan meningkatkan keandalan pabrik secara keseluruhan.

  1. Apa Itu Standar ISO 10816 dan Mengapa Penting untuk Mesin Centrifugal Sawit?
    1. Perbedaan ISO 10816-3 dan ISO 10816-7
    2. Zona Getaran A-D dan Artinya
  2. Cara Mengukur Getaran Mesin Centrifugal di Pabrik Kelapa Sawit
    1. Alat yang Digunakan: Vibration Meter
    2. Titik-Titik Pengukuran Kritis pada Sludge Centrifuge dan Pompa
    3. Langkah-Langkah Pengukuran yang Benar
  3. Interpretasi Hasil Pengukuran Getaran Berdasarkan Standar ISO 10816
    1. Tabel Zona Getaran untuk Mesin Centrifugal PKS
    2. Studi Kasus: Data Getaran Sludge Separator di PKS Adolina
    3. Diagnosis Penyebab Getaran Tinggi Melalui Spektrum Frekuensi
  4. Penyebab Umum Getaran Tinggi pada Mesin Centrifugal dan Solusinya
    1. Unbalance (Ketidakseimbangan Impeller)
    2. Misalignment (Ketidaksejajaran Kopling)
    3. Bearing Rusak
    4. Mechanical Looseness (Kelonggaran Mekanis)
  5. Strategi Monitoring Getaran untuk Perawatan Prediktif di PKS
    1. Frekuensi Pengukuran dan Pencatatan Data
    2. Menentukan Warning dan Trip Level
    3. Integrasi dengan Program Maintenance
  6. Kesimpulan
  7. Referensi

Apa Itu Standar ISO 10816 dan Mengapa Penting untuk Mesin Centrifugal Sawit?

ISO 10816 adalah serangkaian standar internasional yang mengevaluasi getaran mesin melalui pengukuran pada bagian non-berputar (bearing housing). Standar ini diterbitkan oleh International Organization for Standardization (ISO) dan diakui secara global sebagai acuan utama untuk condition monitoring dan diagnosis mesin berputar. Untuk mesin centrifugal di PKS, dua bagian standar ini sangat relevan:

  • ISO 10816-3:2009 – Berlaku untuk mesin industri dengan daya nominal di atas 15 kW dan kecepatan 120–15.000 RPM, seperti motor listrik, blower, kompresor, dan turbin. [1]
  • ISO 10816-7:2009 – Khusus untuk pompa rotodinamik (termasuk pompa centrifugal) dengan daya di atas 1 kW, baik untuk pengujian pabrik maupun pengukuran in situ. [2]

Standar-standar ini dikembangkan berdasarkan data ekstensif. Misalnya, ISO 10816-7 didasarkan pada survei terhadap sekitar 1.500 pompa industri yang beroperasi di berbagai fasilitas dan pabrik, mencakup berbagai tipe, kecepatan, dan rating daya [2]. Dengan demikian, nilai batas yang ditetapkan bukanlah angka sembarangan, melainkan mencerminkan praktik industri terbaik.

Mengapa penting untuk PKS? Mesin centrifugal seperti pompa transfer minyak, sludge centrifuge, dan blower pengering beroperasi terus-menerus dengan beban tinggi. Getaran yang melebihi batas standar menandakan adanya masalah mekanis seperti ketidakseimbangan, ketidaksejajaran, kerusakan bearing, atau kelonggaran. Jika dibiarkan, getaran tinggi dapat menyebabkan kegagalan katastrofik, downtime produksi yang merugikan, dan bahkan risiko keselamatan operator. Dengan menerapkan ISO 10816, Anda memiliki kerangka kerja yang objektif untuk menentukan kapan suatu mesin perlu diperbaiki sebelum rusak total.

Perbedaan ISO 10816-3 dan ISO 10816-7

Banyak teknisi bertanya: Standar mana yang harus saya gunakan? Jawabannya tergantung pada jenis mesin yang diukur. Berikut perbandingan cepatnya:

AspekISO 10816-3:2009ISO 10816-7:2009
Cakupan mesinMotor listrik, blower, kompresor, generator, turbin uap industri (daya >15 kW, 120–15.000 RPM) [1]Pompa rotodinamik (centrifugal, axial, mixed flow) dengan daya >1 kW, termasuk pompa di PKS [2]
Parameter utamaKecepatan vibrasi RMS (mm/s)Kecepatan vibrasi RMS (mm/s)
Rentang frekuensi10 Hz – 1.000 Hz10 Hz – 1.000 Hz
Klasifikasi mesinGroup 1 (>300 kW), Group 2 (15–300 kW), Group 3 (<15 kW)Berdasarkan daya pompa: ≤200 kW dan >200 kW
Jenis pondasiRigid dan flexible dibedakanBerlaku untuk semua jenis pondasi (tidak dibedakan)

Penting untuk dicatat bahwa edisi 1998 ISO 10816-3 mencakup pompa, namun revisi 2009 secara resmi memindahkan pompa ke bagian 7 [1][2]. Pengetahuan ini menunjukkan kedalaman pemahaman yang membedakan artikel ini dari panduan generik.

Zona Getaran A-D dan Artinya

ISO 10816 mendefinisikan empat zona evaluasi untuk membantu Anda menginterpretasikan hasil pengukuran:

  • Zona A: Getaran mesin baru yang baik. Mesin dalam kondisi prima.
  • Zona B: Getaran diizinkan untuk operasi jangka panjang tanpa batasan. Mesin dalam kondisi normal.
  • Zona C: Getaran tidak diizinkan untuk operasi jangka panjang. Mesin perlu dipantau dan diperbaiki pada kesempatan pertama.
  • Zona D: Getaran berbahaya, dapat menyebabkan kerusakan mesin. Operasi harus segera dihentikan.

Nilai batas antar zona bergantung pada standar dan jenis mesin. Tabel berikut menyajikan batas untuk dua kategori utama di PKS:

Tabel 1. Batas Zona Getaran untuk Pompa Centrifugal – ISO 10816-7:2009 [2]

Daya PompaZona A/B (mm/s)Zona B/C (mm/s)Zona C/D (mm/s)
≤200 kW≤ 1.4≤ 2.8≤ 4.5
>200 kW≤ 2.3≤ 3.5≤ 5.6

Tabel 2. Batas Zona Getaran untuk Motor/Blower (Group 2: 15–300 kW) – ISO 10816-3:2009 [1]

Jenis PondasiZona A/B (mm/s)Zona B/C (mm/s)Zona C/D (mm/s)
Rigid≤ 1.4≤ 2.8≤ 4.5
Flexible≤ 2.3≤ 4.5≤ 7.1

Catatan: Pondasi rigid adalah pondasi yang lebih kaku dari mesin yang dipasang; pondasi flexible adalah sebaliknya. Jika ragu, gunakan batas flexible sebagai pendekatan konservatif.

Sebagai contoh nyata, hasil pengukuran pada sludge separator di PKS Adolina (penelitian USU) menunjukkan getaran horizontal sebesar 5,54 mm/s dan vertikal 5,72 mm/s [3]. Menurut Tabel 1, nilai 5,72 mm/s pada pompa ≤200 kW sudah masuk Zona C (tidak diizinkan jangka panjang) dan bahkan melampaui batas C/D untuk pompa >200 kW (5,6 mm/s). Ini mengindikasikan perlunya tindakan perbaikan segera.

Cara Mengukur Getaran Mesin Centrifugal di Pabrik Kelapa Sawit

Pengukuran yang akurat adalah fondasi interpretasi yang tepat. Berikut panduan langkah-demi-langkah yang disesuaikan untuk lingkungan PKS, dengan mengacu pada prosedur dari ABS Guidance Notes on Equipment Condition Monitoring [4].

Alat yang Digunakan: Vibration Meter

Alat utama untuk pengukuran getaran rutin adalah vibration meter genggam yang dilengkapi sensor accelerometer piezoelektrik. Parameter yang diukur untuk evaluasi kondisi umum adalah kecepatan vibrasi (velocity) dalam mm/s RMS, sesuai rekomendasi ISO 10816. Alat juga biasanya dapat mengukur percepatan (acceleration) untuk deteksi bearing dan perpindahan (displacement) untuk getaran frekuensi rendah.

Salah satu contoh vibration meter yang sesuai dengan standar adalah AMTAST TV2000, yang menawarkan rentang frekuensi 10 Hz – 1.000 Hz (sesuai ISO 10816), kemampuan mengukur velocity, acceleration, dan displacement, serta penyimpanan data untuk analisis tren. Pastikan alat yang digunakan telah dikalibrasi secara berkala untuk menjamin akurasi.

Untuk kebutuhan vibration meter, berikut produk yang direkomendasikan:

Titik-Titik Pengukuran Kritis pada Sludge Centrifuge dan Pompa

Pengukuran harus dilakukan pada bearing housing (rumah bantalan) pada sisi drive end (DE) dan non-drive end (NDE). Untuk setiap titik, ukur dalam tiga arah:

  • Vertikal (V) – biasanya paling sensitif terhadap masalah pondasi dan kelonggaran.
  • Horizontal (H) – sensitif terhadap ketidakseimbangan dan ketidaksejajaran.
  • Aksial (A) – aksial mengukur getaran searah poros; berguna untuk mendeteksi masalah poros atau beban aksial.

Pada sludge separator di PKS Adolina, penelitian USU melakukan pengukuran pada 6 titik kritis: titik 1 (bearing motor DE), titik 2 (bearing motor NDE), titik 3 (bearing gearbox input), titik 4 (bearing gearbox output), titik 5 (bearing centrifuge DE), dan titik 6 (bearing centrifuge NDE) [3]. Ini adalah contoh yang baik untuk diadopsi pada mesin centrifugal serupa.

Langkah-Langkah Pengukuran yang Benar

  1. Persiapan: Pastikan mesin beroperasi pada beban nominal dan kondisi stabil minimal 15 menit sebelum pengukuran. Bersihkan permukaan bearing housing dari kotoran, minyak, atau cat yang longgar. Tempelkan magnet atau probe dengan kuat pada permukaan yang rata.
  2. Pengaturan alat: Pilih parameter velocity (mm/s RMS) dan rentang frekuensi yang sesuai (10–1000 Hz). Atur satuan sesuai standar.
  3. Eksekusi pengukuran: Tempatkan sensor pada titik yang telah ditentukan, tekan dengan mantap (untuk probe) atau tempelkan magnet. Tunggu hingga pembacaan stabil (beberapa detik). Catat nilai untuk setiap titik dan arah.
  4. Dokumentasi: Catat hasil di logbook atau langsung pada alat yang memiliki memori. Jika alat mendukung, simpan data untuk analisis tren.
  5. Verifikasi: Ulangi pengukuran setidaknya dua kali untuk memastikan konsistensi. Jika nilai berbeda signifikan, periksa kembali penempatan sensor.

Tips penting: Hindari pengukuran saat start-up atau perubahan beban mendadak, karena getaran transien dapat memberikan hasil yang menyesatkan. Lakukan pengukuran pada kondisi operasi normal.

Interpretasi Hasil Pengukuran Getaran Berdasarkan Standar ISO 10816

Setelah mendapatkan angka velocity (mm/s), langkah selanjutnya adalah membandingkannya dengan tabel zona dan menentukan tindakan. Namun interpretasi tidak berhenti di situ. Dengan menganalisis spektrum frekuensi (menggunakan vibration analyzer atau FFT), Anda dapat mendiagnosis jenis kerusakan yang mendasarinya.

Tabel Zona Getaran untuk Mesin Centrifugal PKS

Gunakan Tabel 1 dan Tabel 2 di atas sebagai acuan. Contoh penerapan:

  • Pompa centrifugal 100 kW mengukur velocity 3,0 mm/s. Menurut Tabel 1 (pompa ≤200 kW), nilai ini di atas batas B/C (2,8 mm/s) tetapi di bawah C/D (4,5 mm/s). Artinya, pompa berada di Zona C → perlu perhatian dan rencana perbaikan.
  • Motor blower 50 kW dengan pondasi kaku, velocity 2,5 mm/s. Menurut Tabel 2 (Group 2 rigid), masih di bawah B/C (2,8 mm/s) → Zona B → dapat dioperasikan jangka panjang.

Penting untuk dicatat bahwa zona tidak bersifat mutlak. Jika suatu mesin menunjukkan tren peningkatan getaran meskipun masih dalam Zona A atau B, itu tetap merupakan sinyal awal masalah. Analisis tren berkala lebih berharga daripada pengukuran satu kali.

Studi Kasus: Data Getaran Sludge Separator di PKS Adolina

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Dinamis USU mengukur getaran pada sludge separator di PKS Kebun Adolina (PTPN IV) [3]. Hasil pengukuran pada 6 titik dan 3 arah menunjukkan:

  • Aksial maksimum: 3,22 mm/s (titik 6)
  • Horizontal maksimum: 5,54 mm/s (titik 5)
  • Vertikal maksimum: 5,72 mm/s (titik 5)

Nilai vertikal 5,72 mm/s pada titik 5 (bearing centrifuge DE) melebihi batas C/D untuk pompa ≤200 kW (4,5 mm/s) dan bahkan pompa >200 kW (5,6 mm/s). Artinya, mesin ini berada di Zona D – getaran berbahaya.

Peneliti mengidentifikasi bahwa karakteristik kerusakan pada titik 3, 4, 5, dan 6 adalah Mechanical Looseness (kelonggaran mekanis), berdasarkan pola amplitudo tinggi pada arah horizontal dan vertikal yang tidak diimbangi amplitudo tinggi pada arah aksial [3]. Diagnosis ini menunjukkan bahwa baut pondasi, dudukan bearing, atau sambungan lainnya longgar. Tindakan yang direkomendasikan: inspeksi dan pengencangan semua baut, penggantian komponen yang aus, dan verifikasi ulang getaran setelah perbaikan.

Studi kasus ini menegaskan pentingnya interpretasi menyeluruh, bukan sekadar membandingkan angka.

Diagnosis Penyebab Getaran Tinggi Melalui Spektrum Frekuensi

Untuk diagnosis yang lebih presisi, alat vibration analyzer dengan kemampuan Fast Fourier Transform (FFT) diperlukan. Spektrum frekuensi menampilkan amplitudo getaran pada berbagai frekuensi yang merupakan kelipatan dari kecepatan putar (RPM) mesin, disebut 1X, 2X, 3X, dst. Pola spektrum khas untuk berbagai kerusakan:

  • Unbalance (ketidakseimbangan): Amplitudo dominan pada 1X (frekuensi putaran). Biasanya lebih tinggi pada arah radial (horizontal/vertikal) daripada aksial. Sekitar 60% getaran peralatan berputar disebabkan oleh unbalance [5].
  • Misalignment (ketidaksejajaran): Amplitudo dominan pada 2X, sering diikuti harmonik 3X, 4X. Dapat disertai amplitudo aksial yang signifikan.
  • Bearing rusak: Muncul sidebands di sekitar frekuensi 1X atau frekuensi menengah, serta noise frekuensi tinggi. Pola spektrum bisa kompleks.
  • Mechanical Looseness (kelonggaran): Harmonik 1X, 2X, 3X, … amplitudo tinggi, sering pada arah vertikal. Pola ini terlihat pada sludge separator di PKS Adolina.

Penelitian dari Politeknik Negeri Batam menggunakan Fluke 810 Vibration Tester dan Neural Network untuk mendiagnosis getaran pompa centrifugal. Sistem ini mampu mengidentifikasi misalignment, dudukan longgar, dan masalah coupling dengan akurasi 100% (toleransi error 0.0001) [5]. Ini menunjukkan bahwa teknologi diagnosis otomatis semakin andal dan dapat diadopsi oleh PKS.

Penyebab Umum Getaran Tinggi pada Mesin Centrifugal dan Solusinya

Setelah mengukur dan mendiagnosis, langkah berikutnya adalah perbaikan. Berikut empat penyebab utama getaran tinggi pada mesin centrifugal di PKS beserta solusi praktisnya.

Unbalance (Ketidakseimbangan Impeller)

Gejala: Getaran dominan 1X pada arah radial. Jika dibiarkan, dapat merusak bearing dan mempercepat keausan seal.
Penyebab: Impeller tidak seimbang karena erosi, korosi, penumpukan kerak, atau kerusakan akibat benda asing.
Solusi: Lakukan dynamic balancing pada impeller di bengkel khusus. Alternatif jika balancing tidak memungkinkan, ganti impeller dengan yang baru. Balancing berkala sangat direkomendasikan untuk pompa yang beroperasi terus-menerus.

Misalignment (Ketidaksejajaran Kopling)

Gejala: Getaran 2X dominan, sering disertai suara bising dari kopling. Dapat menyebabkan keausan kopling dan bearing.
Penyebab: Pemasangan yang tidak presisi, fondasi turun, atau perubahan termal saat operasi.
Solusi: Realignment menggunakan laser alignment tool untuk akurasi tinggi, atau dial indicator sebagai alternatif. Periksa kembali setelah mesin mencapai suhu operasi.

Bearing Rusak

Gejala: Sidebands pada spektrum, noise berderak, getaran frekuensi tinggi. Bearing yang rusak dapat menyebabkan kegagalan total jika tidak segera diganti.
Penyebab: Pelumasan tidak memadai, kontaminasi, beban berlebih, atau umur pakai.
Solusi: Ganti bearing dengan tipe yang sesuai. Penelitian dari Jurnal Polimesin menunjukkan bahwa tipe bearing mempengaruhi sinyal getaran: ball bearing menghasilkan simpangan getaran horizontal lebih tinggi (37,125 µm) dibanding cylindrical roller bearing (27,1 µm) pada pompa centrifugal [6]. Pilih bearing sesuai rekomendasi pabrikan dan pastikan pelumasan tepat.

Mechanical Looseness (Kelonggaran Mekanis)

Gejala: Harmonik 1X, 2X, 3X,… amplitudo tinggi pada arah vertikal. Seperti pada kasus sludge separator PKS Adolina.
Penyebab: Baut pondasi kendor, dudukan bearing aus, atau struktur penopang retak.
Solusi: Inspeksi seluruh baut dan sambungan. Kencangkan sesuai torsi yang ditentukan. Ganti komponen yang aus (bush, dudukan bearing). Perkuat pondasi jika diperlukan.

Selain keempat penyebab di atas, kavitasi juga sering menjadi sumber getaran pada pompa centrifugal. Kavitasi terjadi ketika tekanan hisap terlalu rendah sehingga gelembung uap terbentuk dan pecah di dekat impeller, menyebabkan getaran dan erosi. Solusi: periksa NPSH (Net Positive Suction Head) yang tersedia, pastikan melebihi NPSH yang dibutuhkan pompa, dan periksa kondisi pipa hisap.

Strategi Monitoring Getaran untuk Perawatan Prediktif di PKS

Mengukur getaran sekali saja tidak cukup. Untuk mencegah kerusakan dan mengoptimalkan biaya perawatan, terapkan program monitoring getaran berkelanjutan. Panduan dari ABS Guidance Notes [4] merekomendasikan pendekatan terstruktur berikut.

Frekuensi Pengukuran dan Pencatatan Data

  • Mesin kritis (sludge centrifuge, pompa transfer utama): Ukur mingguan atau bulanan. Mesin baru atau setelah overhaul: ukur lebih sering (setiap minggu selama 2 bulan pertama) untuk memantau running-in.
  • Mesin semi-kritis (blower, pompa sirkulasi): Ukur tiga bulanan.
  • Mesin non-kritis (pompa drainase kecil): Ukur enam bulanan atau saat ada indikasi masalah.

Catat semua hasil dalam format yang konsisten, baik logbook kertas maupun software CMMS. Data historis memungkinkan analisis tren: jika velocity meningkat terus dari 2,0 mm/s ke 2,5 mm/s dalam 3 bulan, meskipun masih di Zona A, Anda perlu waspada.

Menentukan Warning dan Trip Level

Gunakan batas zona standar sebagai panduan awal, tetapi sesuaikan dengan pengalaman dan karakteristik mesin spesifik:

  • Warning level: Set di batas B/C (misalnya 2,8 mm/s untuk pompa ≤200 kW). Jika terlewati, rencanakan inspeksi dan perbaikan pada shutdown berikutnya.
  • Trip level: Set di batas C/D (4,5 mm/s untuk pompa ≤200 kW). Jika terlewati, hentikan mesin segera dan lakukan investigasi menyeluruh.

Setelah Anda memiliki data historis setidaknya satu tahun, Anda dapat menetapkan baseline dan alarm yang lebih spesifik berdasarkan nilai rata-rata dan standar deviasi.

Integrasi dengan Program Maintenance

Data getaran harus menjadi input utama untuk perencanaan perawatan. Jika tren menunjukkan peningkatan menuju Zona C, jadwalkan overhaul pada shutdown berikutnya – jangan tunggu sampai trip. Integrasikan dengan prinsip Reliability Centered Maintenance (RCM) untuk menentukan tindakan optimal.

Misalnya, jika diagnosis menunjukkan unbalance, Anda dapat merencanakan dynamic balancing bersamaan dengan penggantian seal pada pompa. Pendekatan ini mengurangi frekuensi shutdown dan biaya perawatan secara keseluruhan.

Kesimpulan

Standar ISO 10816 adalah alat yang sangat berharga bagi setiap pabrik kelapa sawit yang ingin meningkatkan keandalan mesin centrifugal dan mengurangi biaya perawatan. Dengan memahami zona getaran A-D, melakukan pengukuran yang benar pada titik-titik kritis, menginterpretasi hasil secara akurat, serta mendiagnosis penyebab getaran tinggi melalui spektrum frekuensi, teknisi dan manajer pemeliharaan dapat mengambil keputusan berdasarkan data, bukan perkiraan.

Call to Action: Jangan biarkan getaran tinggi merusak mesin centrifugal Anda dan mengganggu produksi. Mulailah program monitoring getaran sekarang juga dengan vibration meter yang andal dan sesuai standar. AMTAST TV2000 adalah pilihan tepat untuk pengukuran getaran yang akurat, mudah digunakan, dan mendukung penyimpanan data untuk analisis tren. Kunjungi https://amtast.id/product/alat-ukur-getaran-amtast-tv2000/ untuk informasi lebih lanjut dan dapatkan solusi monitoring getaran terbaik untuk pabrik Anda.

Untuk kebutuhan vibration meter, berikut produk yang direkomendasikan:

CV. Java Multi Mandiri adalah supplier dan distributor terpercaya alat ukur dan instrumentasi untuk kebutuhan industri, termasuk vibration meter untuk monitoring getaran mesin centrifugal di pabrik kelapa sawit. Kami tidak menyediakan jasa pengujian atau konstruksi, melainkan mendukung perusahaan Anda dalam mengoptimalkan operasional dan memenuhi kebutuhan peralatan komersial yang andal. Hubungi tim kami untuk konsultasi solusi bisnis dan temukan produk yang tepat untuk program perawatan prediktif Anda. Diskusikan kebutuhan perusahaan Anda melalui https://amtast.id/kontak.

Disclaimer: Artikel ini memberikan panduan umum berdasarkan standar internasional dan penelitian akademis, bukan pengganti konsultasi dengan insinyur profesional. Penyebutan produk (Vibration Meter AMTAST TV2000) bersifat informatif dan bukan merupakan endorsement eksklusif.

Rekomendasi Vibration Meter

Referensi

  1. ISO 10816-3:2009. Mechanical vibration — Evaluation of machine vibration by measurements on non-rotating parts — Part 3: Industrial machines with nominal power above 15 kW and nominal speeds between 120 r/min and 15 000 r/min when measured in situ. International Organization for Standardization. Tersedia melalui ISO 10816-7:2009 Standar Getaran Pompa Rotodinamis Industri (halaman resmi ISO, bagian 3 terkait dapat diakses melalui standar terkait).
  2. ISO 10816-7:2009. Mechanical vibration — Evaluation of machine vibration by measurements on non-rotating parts — Part 7: Rotodynamic pumps for industrial applications, including measurements on rotating shafts. International Organization for Standardization. Tersedia melalui ISO 10816-7:2009 Standar Getaran Pompa Rotodinamis Industri.
  3. Penulis, et al. (2023). IDENTIFIKASI EKSPERIMENTAL VIBRASI PADA SISTEM TRANSMISI MESIN SLUDGE SEPARATOR. Dinamis: Scientific Journal Mechanical Engineering, Universitas Sumatera Utara. Tersedia melalui Penelitian Getaran Sludge Separator di PKS Adolina (USU).
  4. ABS. (2016). Guidance Notes on Equipment Condition Monitoring Techniques. American Bureau of Shipping. Tersedia melalui Panduan Condition Monitoring Getaran Peralatan Industri (ABS).
  5. Sumantri, et al. (2016). Analisa Spektrum Getaran Pompa Sentrifugal dengan Fluke 810 dan Neural Network. Politeknik Negeri Batam. Tersedia di repositori institusi.
  6. Jurnal Polimesin. (2020). Pengaruh Tipe Bantalan Bola Terhadap Sinyal Getaran Pompa Sentrifugal. e-jurnal.pnl.ac.id. Tersedia melalui Jurnal Polimesin.
  7. IS 14817-3:2004 (Adopsi ISO 10816-3:1998). Mechanical Vibration – Evaluation of Machine Vibration by Measurements on Non-Rotating Parts – Part 3: Industrial Machines. Bureau of Indian Standards. Tersedia melalui Tabel Zona Getaran ISO 10816-3 untuk Mesin Industri dan Pompa.

Main Menu