Distributor Resmi AMTAST di Indonesia

Panduan Definitif Pengukuran Aw untuk Meningkatkan Kualitas Biskuit

Professional food scientist measuring water activity for biscuit quality control in a lab, with equipment and biscuits on a wooden table.

Di lini produksi biskuit, konsistensi adalah segalanya. Namun, masalah seperti biskuit mudah melempem, umur simpan tak terduga, dan ketidaksesuaian dengan standar mutu masih menjadi tantangan harian bagi banyak produsen, dari UKM hingga korporat. Akar masalahnya seringkali bukan pada jumlah air dalam produk, melainkan pada ketersediaan air tersebut untuk mendukung reaksi merugikan. Inilah yang diukur oleh parameter kritis bernama Aktivitas Air atau Aw. Sayangnya, pemahaman tentang Aw dan strategi pengukurannya yang efektif masih menjadi gap besar dalam literatur berbahasa Indonesia untuk industri biskuit.

Artikel ini hadir sebagai panduan komprehensif pertama yang secara praktis menjembatani teori ilmiah Aw dengan implementasi strategis di lantai produksi. Kami akan membekali Anda—sebagai profesional QC, manajer produksi, atau pelaku usaha—dengan framework berbasis Standar Nasional Indonesia (SNI) dan standar internasional untuk menguasai pengukuran Aw, sehingga Anda dapat secara proaktif meningkatkan kualitas, menjamin keamanan, memperpanjang umur simpan, dan pada akhirnya melindungi investasi serta reputasi bisnis biskuit Anda.

  1. Dasar Ilmiah Aktivitas Air (Aw) dan Pentingnya untuk Biskuit
    1. Apa Itu Aktivitas Air (Aw)? Definisi dan Prinsip Dasar
    2. Aw vs. Kadar Air: Perbedaan Mendasar yang Harus Diketahui
    3. Mengapa Aw Lebih Penting untuk Kualitas dan Keamanan Biskuit?
  2. Standar Mutu Biskuit (SNI) dan Parameter Kritis Terkait Aw
    1. SNI 2973:2011 untuk Biskuit: Ringkasan Parameter Mutu
    2. Kadar Air Maksimal 5%: Interpretasi dan Hubungannya dengan Aw
    3. Batas Cemaran Mikroba dan Peran Aw dalam Pencegahannya
  3. Metode dan Protokol Akurat untuk Mengukur Aw pada Biskuit
    1. Memilih Alat Pengukur Aw: Jenis, Prinsip Kerja, dan Rekomendasi
    2. Langkah-Langkah Pengukuran Aw untuk Sampel Biskuit: Persiapan hingga Pembacaan
    3. Kalibrasi, Validasi, dan Pemeliharaan Alat untuk Hasil Terpercaya
  4. Strategi Integrasi Pengukuran Aw dalam Sistem Kontrol Kualitas
    1. Menetapkan Titik Kontrol Kritis (CCP) Berbasis Aw dalam Rencana HACCP
    2. Frekuensi dan Strategi Sampling untuk Monitoring Aw yang Efektif
    3. Dokumentasi dan Analisis Trend Data Aw untuk Perbaikan Berkelanjutan
  5. Solusi Praktis untuk Masalah Kualitas Biskuit Berbasis Nilai Aw
    1. Mencegah dan Mengatasi Biskuit Melempem: Strategi Berdasarkan Aw
    2. Koreksi Produksi jika Nilai Aw Tidak Memenuhi Target
    3. Optimalisasi Kemasan dan Penyimpanan untuk Mempertahankan Aw Ideal

Dasar Ilmiah Aktivitas Air (Aw) dan Pentingnya untuk Biskuit

Memahami konsep Aktivitas Air (Aw) adalah fondasi untuk mengendalikan kualitas biskuit secara efektif. Berbeda dengan pengukuran kadar air tradisional, Aw memberikan gambaran yang lebih akurat tentang stabilitas mikrobiologis dan fisiko-kimia produk, yang langsung berdampak pada keamanan dan daya tahannya di pasar.

Apa Itu Aktivitas Air (Aw)? Definisi dan Prinsip Dasar

Aktivitas Air (Aw) adalah parameter tanpa satuan yang mengukur status energi air dalam suatu produk pangan, dengan skala dari 0 (sangat kering) hingga 1 (air murni). Secara sederhana, Aw tidak memberitahu berapa banyak air yang ada, melainkan seberapa bebas air tersebut untuk berpartisipasi dalam reaksi kimia, enzimatis, atau mendukung pertumbuhan mikroorganisme. Prinsip pengukurannya telah distandardisasi secara internasional, misalnya dalam ISO 18787:2017 yang mendefinisikan metode berdasarkan pengukuran titik embun (dew-point) atau perubahan konduktivitas listrik dalam suatu sensor [2].

Bayangkan dua biskuit dengan kadar air total yang sama persis. Pada biskuit pertama, air mungkin terikat kuat pada matriks gula dan tepung (“bound water“), sedangkan pada biskuit kedua, air lebih bebas bergerak (“free water“). Biskuit kedua akan memiliki nilai Aw yang lebih tinggi dan jauh lebih rentan terhadap pertumbuhan kapang atau menjadi lembek.

Aw vs. Kadar Air: Perbedaan Mendasar yang Harus Diketahui

Kesalahan paling umum di industri adalah menyamakan kadar air dengan Aktivitas Air. Kadar air adalah pengukuran kuantitatif (biasanya dalam persen) yang menyatakan jumlah total air dalam suatu bahan. Sementara itu, Aw adalah pengukuran kualitatif yang mencerminkan ketersediaan air tersebut sebagai pelarut bagi reaksi-reaksi yang dapat merusak produk.

Ilustrasi nyata: Selai memiliki kadar air tinggi tetapi Aw-nya relatif rendah karena gula mengikat air, sehingga awet. Sebaliknya, kerupuk memiliki kadar air rendah tetapi jika Aw-nya mendekati 0.6, ia tetap berisiko ditumbuhi kapang. Dalam konteks biskuit, penelitian menemukan bahwa banyak produk di pasaran memiliki kadar air sekitar 5,18%—melebihi batas maksimal 5% yang ditetapkan SNI 1992 [1]. Namun, masalah sebenarnya mungkin bukan pada persentase itu, tetapi pada Aw-nya yang terlalu tinggi, membuat air yang ada menjadi “aktif” merusak tekstur dan mendorong pertumbuhan mikroba. Untuk memahami perbedaan metodologi ini lebih dalam, sumber seperti Metode Pengukuran Aktivitas Air dari Texas A&M University dapat menjadi referensi tekns yang berharga.

Mengapa Aw Lebih Penting untuk Kualitas dan Keamanan Biskuit?

Nilai Aw secara langsung menentukan stabilitas produk biskuit Anda dalam tiga area utama:

  1. Keamanan Mikrobiologis: Mayoritas bakteri patogen berhenti tumbuh di bawah Aw 0.85, sementara kapang dan ragi umumnya memerlukan Aw di atas 0.6 [1]. Dengan mengontrol Aw di bawah ambang ini, Anda secara signifikan mengurangi risiko bahaya biologis. Hal ini sejalan dengan Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) No. 13 Tahun 2019 tentang Batas Maksimal Cemaran Mikroba, di mana kontrol Aw adalah salah satu strategi pencegahan utama [3].
  2. Stabilitas Kimia & Fisika: Reaksi seperti oksidasi lemak (ketengikan) dan reaksi Maillard (pencoklatan non-enzimatik) melambat pada Aw rendah. Demikian pula, perubahan tekstur seperti pelakukan atau kekerasan berlebih sangat dipengaruhi oleh migrasi air yang dikendalikan oleh nilai Aw.
  3. Umur Simpan: Aw adalah prediktor umur simpan yang andal. Sebuah penelitian di jurnal Foods menegaskan bahwa Aw digunakan sebagai critical control point untuk pengembangan produk biskuit, dengan rentang nilai 0.35 hingga 0.56 menunjukkan kemampuan penyimpanan yang sesuai [1]. Artinya, dengan menargetkan dan mempertahankan Aw dalam rentang ini, Anda dapat memprediksi dan memperpanjang masa kedaluwarsa produk.

Standar Mutu Biskuit (SNI) dan Parameter Kritis Terkait Aw

Bagi produsen biskuit di Indonesia, Standar Nasional Indonesia (SNI) 2973:2011 tentang Biskuit adalah acuan wajib yang tidak hanya menjamin kualitas tetapi juga melindungi konsumen dan meningkatkan daya saing. Memahami bagaimana Aw berinteraksi dengan parameter SNI adalah kunci untuk kepatuhan yang bermakna, bukan sekadar formalitas.

SNI 2973:2011 untuk Biskuit: Ringkasan Parameter Mutu

SNI ini menetapkan persyaratan komprehensif mulai dari definisi, komposisi, hingga syarat mutu. Parameter mutu kunci meliputi:

  • Kadar Air: Maksimum 5%.
  • Kadar Abu: Maksimum tergantung jenis biskuit.
  • Cemaran Logam (Se, Sn, Pb, Cu, Zn, Hg): Sesuai batas yang ditetapkan.
  • Cemaran Mikroba: Angka Lempeng Total (ALT), E. coli, Kapang, dan Salmonella harus memenuhi batas.
  • Cemaran Kimia: Seperti mikotoksin (contohnya Deoksinivalenol/DON yang disebutkan dalam revisi 2018).

Dalam praktiknya, pengujian kadar air dengan metode thermogravimetri (oven) adalah yang paling sering dilakukan untuk memverifikasi kepatuhan. Namun, pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa pemantauan Aw memberikan wawasan tambahan yang kritis tentang mengapa suatu batch mungkin gagal dalam uji mikrobiologi meskipun kadar airnya secara teknis memenuhi syarat.

Kadar Air Maksimal 5%: Interpretasi dan Hubungannya dengan Aw

Batas kadar air 5% dalam SNI adalah parameter yang mudah diukur dan dipahami. Namun, angka ini tidak memberikan gambaran lengkap tentang stabilitas. Dua batch biskuit dengan kadar air 4.8% bisa memiliki nilai Aw yang berbeda karena perbedaan formulasi (rasio gula, garam, tepung) dan proses pemanggangan. Penelitian dari IPB pada 2010 mengenai pendugaan umur simpan biskuit menemukan bahwa “kadar air kritis” (titik di mana biskuit kehilangan kerenyahan) adalah sekitar 0.064 – 0.069 g H₂O/g padatan, yang menegaskan bahwa bahaya fisik (melempem) terjadi jauh sebelum kadar air total mencapai 5% [4].

Oleh karena itu, memenuhi syarat kadar air 5% adalah langkah pertama yang wajib, tetapi memastikan Aw berada dalam rentang aman (misalnya, di bawah 0.6) adalah langkah strategis untuk menjamin keamanan dan kualitas sesungguhnya. Informasi terkini tentang standar ini dapat selalu dirujuk pada sumber resmi seperti Revisi SNI Biskuit Terbaru dari BSN.

Batas Cemaran Mikroba dan Peran Aw dalam Pencegahannya

Peraturan BPOM No. 13 Tahun 2019 secara eksplisit menetapkan batas cemaran mikroba dalam pangan olahan [3]. Kepatuhan terhadap peraturan ini tidak bisa hanya mengandalkan pengujian akhir produk (end-product testing), tetapi harus melalui pendekatan pencegahan. Di sinilah Aw berperan sentral. Dengan menjadikan pengukuran Aw sebagai bagian dari Critical Control Point (CCP) dalam sistem HACCP, produsen dapat secara proaktif mencegah kondisi yang mendukung pertumbuhan mikroba. Memonitor Aw setelah proses pemanggangan dan sebelum pengemasan, misalnya, dapat menjadi sinyal awal apakah suatu batch berisiko tinggi terhadap kontaminasi kapang selama penyimpanan.

Metode dan Protokol Akurat untuk Mengukur Aw pada Biskuit

Setelah memahami “mengapa”, langkah selanjutnya adalah menguasai “bagaimana”. Pengukuran Aw yang akurat memerlukan alat yang tepat, protokol yang baik, dan pemeliharaan yang rutin. Berbeda dengan pengukuran kadar air yang relatif sederhana, pengukuran Aw membutuhkan perhatian lebih pada preparasi sampel dan kondisi pengukuran.

Memilih Alat Pengukur Aw: Jenis, Prinsip Kerja, dan Rekomendasi

Secara umum, ada dua tipe utama alat pengukur Aw (water activity meter) berdasarkan prinsipnya:

  1. Alat Berbasis Dew-Point: Mengukur suhu saat kondensasi pertama terbentuk pada cermin yang didinginkan di atas sampel dalam ruang tertutup. Alat ini dikenal sangat akurat dan stabil, cocok untuk laboratorium kontrol kualitas yang membutuhkan presisi tinggi. Contoh: seri Aqualab.
  2. Alat Berbasis Sensor Elektrik: Menggunakan sensor kapasitif atau resistif yang perubahan sifat listriknya (kapasitansi atau konduktivitas) berkorelasi dengan kelembaban relatif kesetimbangan di atas sampel. Alat ini sering lebih cepat, portabel, dan cocok untuk penggunaan di lantai produksi. Contoh: HygroPalm AW Set.

Pertimbangan bisnis dalam pemilihan alat meliputi: anggaran, akurasi yang dibutuhkan (±0.01 atau ±0.02 Aw), kecepatan pengukuran, kemudahan kalibrasi, dan volume pengujian harian. Untuk UKM yang baru memulai, alat portabel bisa menjadi investasi awal yang tepat, sementara industri besar mungkin memerlukan instrumen bench-top dengan kemampuan data logging untuk integrasi dengan sistem jaminan mutu.

Langkah-Langkah Pengukuran Aw untuk Sampel Biskuit: Persiapan hingga Pembacaan

Agar hasil pengukuran mewakili seluruh batch, ikuti protokol ini:

  1. Pengambilan Sampel: Ambil sampel secara acak dari berbagai titik dalam batch produksi. Gabungkan untuk mendapatkan sampel komposit.
  2. Preparasi: Untuk biskuit homogen (seperti biskuit polos), haluskan hingga mencapai kehalusan sekitar 20 mesh. Untuk biskuit berlapis coklat atau berisi krim, potong kecil-kecil untuk mendapatkan campuran yang representatif. Hindari memanaskan sampel selama preparasi.
  3. Pengisian Cawan: Isi cawan sampel alat hingga ⅔ penuh, tanpa memadatkannya. Permukaan sampel harus rata.
  4. Pengukuran: Tutup cawan dan masukkan ke dalam ruang pengukur. Alat akan mencatat kelembaban relatif dalam kesetimbangan dengan sampel dan mengkonversinya ke nilai Aw. Waktu pengukuran bervariasi, biasanya 5-15 menit, tergantung alat dan kesetimbangan.
  5. Pencatatan: Catat nilai Aw dan suhu pengukuran. Lakukan minimal dua kali replikasi untuk memastikan konsistensi.

Kesalahan umum termasuk sampel yang tidak representatif, pengisian cawan yang berlebihan, atau tidak membiarkan alat beraklimatisasi pada suhu ruang sebelum digunakan.

Kalibrasi, Validasi, dan Pemeliharaan Alat untuk Hasil Terpercaya

Akurasi alat pengukur Aw harus divalidasi secara berkala menggunakan larutan standar garam jenuh yang memiliki nilai Aw tertentu pada suhu tertentu (misal, Larutan KCl jenuh memiliki Aw ~0.843 pada 25°C). Kalibrasi rutin—sesuai jadwal yang ditetapkan produsen alat atau SOP internal—adalah keharusan dalam sistem mutu. Selain itu, pembersihan rutin ruang pengukur dan sensor dengan alkohol sesuai petunjuk manual akan mencegah kontaminasi dan drift pembacaan. Proses ini bukan biaya tambahan, melainkan investasi untuk menjaga reliabilitas data yang menjadi dasar keputusan bisnis Anda.

Strategi Integrasi Pengukuran Aw dalam Sistem Kontrol Kualitas

Pengukuran Aw yang sporadis tidak akan memberikan dampak signifikan. Nilainya terletak pada integrasi yang sistematis ke dalam kerangka kerja kontrol kualitas (QC) dan sistem HACCP perusahaan. Ini adalah strategi untuk mengubah data menjadi aksi pencegahan.

Menetapkan Titik Kontrol Kritis (CCP) Berbasis Aw dalam Rencana HACCP

Dalam alur produksi biskuit, tahap setelah keluar dari oven dan pendinginan, serta tahap sebelum pengemasan final, adalah kandidat kuat untuk ditetapkan sebagai CCP berbasis Aw. Pada titik-titik ini, pengukuran Aw dapat menentukan apakah proses pemanggangan telah cukup menurunkan Aw ke tingkat aman, atau apakah ada risiko re-absorpsi kelembaban sebelum dikemas. Jika nilai Aw melebihi batas kritis yang telah ditetapkan (misalnya, >0.60), batch tersebut dapat dialihkan untuk penanganan khusus (misalnya, pemanggangan ulang singkat) sebelum dilanjutkan, sehingga mencegah produk cacat masuk ke pasar. Toolbox FAO untuk Kontrol Operasi dan HACCP memberikan kerangka yang dapat diadaptasi untuk mengembangkan rencana ini.

Frekuensi dan Strategi Sampling untuk Monitoring Aw yang Efektif

Frekuensi pengukuran bergantung pada skala dan stabilitas proses. Untuk produksi kontinu skala besar, pengukuran per shift atau setiap 2-4 jam mungkin diperlukan. Untuk UKM dengan produksi batch, pengukuran per batch sudah cukup sebagai permulaan. Kuncinya adalah konsistensi dan representatif. Ambil sampel dari bagian depan, tengah, dan belakang oven, serta dari titik-titik di sepanjang konveyor pendingin. Strategi sampling yang terstruktur akan membantu membangun database yang kuat untuk analisis trend.

Dokumentasi dan Analisis Trend Data Aw untuk Perbaikan Berkelanjutan

Catat setiap hasil pengukuran Aw beserta informasi batch, tanggal, waktu, dan kondisi proses (suhu oven, dll.) dalam log sheet atau sistem digital. Data historis ini sangat berharga. Buat grafik kontrol sederhana dengan batas atas (batas kritis Aw) dan batas bawah. Analisis tren dari waktu ke waktu dapat mengungkapkan masalah seperti penurunan efisiensi oven, variasi kelembaban tepung, atau pengaruh musim terhadap kondisi ruang produksi. Dengan analisis ini, tindakan korektif dan preventif dapat diambil secara proaktif, jauh sebelum terjadi penolakan produk atau keluhan konsumen.

Solusi Praktis untuk Masalah Kualitas Biskuit Berbasis Nilai Aw

Pengetahuan tentang Aw menjadi sangat berharga ketika diterapkan untuk memecahkan masalah operasional yang nyata. Berikut adalah pendekatan berbasis data untuk tantangan umum di industri biskuit.

Mencegah dan Mengatasi Biskuit Melempem: Strategi Berdasarkan Aw

Biskuit melempem terjadi karena penyerapan kelembaban dari lingkungan (higroskopis). Strategi pencegahannya adalah memastikan Aw produk akhir cukup rendah dan menggunakan kemasan penghalang uap air yang baik. Targetkan nilai Aw akhir di rentang 0.35-0.56 seperti yang disarankan penelitian [1]. Jika nilai Aw mendekati batas atas, pertimbangkan untuk:

  • Mengoptimasi Proses: Memastikan suhu dan waktu pemanggangan merata, serta pendinginan yang cepat sebelum pengemasan.
  • Memilih Kemasan: Gunakan kemasan metalized film atau yang memiliki water vapor transmission rate (WVTR) sangat rendah. Tambahkan desiccant sachet untuk produk premium atau yang dikirim ke daerah lembab.
  • Teknik Penyimpanan: Simpan biskuit di gudang dengan kelembaban relatif (RH) terkontrol. RH gudang sebaiknya disesuaikan dengan Aw produk (misalnya, produk dengan Aw 0.4 sebaiknya disimpan di lingkungan dengan RH <40%).

Untuk biskuit yang sudah terlanjur melempem, teknik tradisional seperti memanaskan sebentar dalam oven (mirip teknik ‘desi’) dapat bekerja dengan prinsip menguapkan lapisan air bebas di permukaan, meskipun tekstur asli mungkin tidak sepenuhnya pulih.

Koreksi Produksi jika Nilai Aw Tidak Memenuhi Target

Jika pengukuran rutin menunjukkan nilai Aw konsisten di luar rentang target, lakukan investigasi berurutan:

  1. Bahan Baku: Periksa sertifikat analisis dan lakukan pengukuran Aw pada tepung, gula, atau bahan lain yang menyimpan kelembaban.
  2. Proses Pencampuran: Pastikan tidak ada penambahan air atau bahan basah yang tidak terkontrol.
  3. Proses Pemanggangan: Verifikasi kalibrasi termokopel oven, distribusi panas, dan waktu tinggal (dwell time). Area yang kurang panas akan menghasilkan produk dengan Aw lebih tinggi.
  4. Pendinginan: Pastikan aliran udara pendingin bersih dan kering. Pendinginan di ruang lembab dapat menyebabkan re-absorpsi uap air.

Optimalisasi Kemasan dan Penyimpanan untuk Mempertahankan Aw Ideal

Kemasan adalah pertahanan terakhir untuk mempertahankan Aw ideal selama distribusi. Pilih bahan kemasan berdasarkan moisture sorption isotherm biskuit Anda—kurva yang menunjukkan bagaimana biskuit menyerap air pada berbagai tingkat RH. Kemasan plastic-metalized foil yang disegel dengan baik terbukti efektif, sebagaimana ditunjukkan dalam penelitian IPB yang mencapai umur simpan 16-17 bulan untuk biskuit dalam kemasan tersebut [4]. Selain itu, pastikan kondisi penyimpanan di gudang dan selama transportasi terjaga, jauh dari sumber panas dan kelembaban.

Kesimpulan

Menguasai pengukuran dan pengelolaan Aktivitas Air (Aw) adalah lompatan strategis dari kontrol kualitas reaktif menuju jaminan mutu yang proaktif dan berbasis sains. Mulai dari memahami perbedaan mendasarnya dengan kadar air, mematuhi dan melampaui parameter SNI, menerapkan protokol pengukuran yang akurat, hingga mengintegrasikannya ke dalam sistem HACCP dan analisis tren—setiap langkah memberdayakan bisnis biskuit Anda untuk menghasilkan produk yang lebih aman, konsisten, dan tahan lama. Nilai Aw bukan sekadar angka di layar alat ukur; ia adalah fondasi data untuk pengambilan keputusan operasional yang cerdas, mengurangi waste, dan pada akhirnya meningkatkan profitabilitas serta reputasi merek.

Mulailah dengan mengevaluasi proses dan sistem Anda saat ini. Tentukan titik pengukuran Aw yang paling kritis, tetapkan target nilai yang aman berdasarkan standar dan penelitian, dan lakukan pengukuran rutin. Bangun budaya data-driven dalam tim kontrol kualitas Anda.

Sebagai mitra bagi industri dan bisnis di Indonesia, CV. Java Multi Mandiri menyediakan berbagai instrumen pengukuran dan pengujian yang andal, termasuk water activity meter yang tepat guna untuk mendukung operational excellence di lini produksi pangan. Kami memahami bahwa akurasi data adalah kunci bagi keputusan bisnis yang tepat. Jika Anda memerlukan konsultasi lebih lanjut untuk memilih alat yang sesuai dengan skala dan kebutuhan spesifik perusahaan Anda, jangan ragu untuk menghubungi tim ahli kami melalui halaman konsultasi solusi bisnis.

Disclaimer: Informasi ini ditujukan untuk tujuan edukasi dan panduan umum. Untuk aplikasi spesifik di produksi, konsultasikan dengan ahli teknologi pangan atau laboratorium terakreditasi. Hasil pengukuran dapat bervariasi tergantung alat dan kondisi sampel.

Rekomendasi Water Activity Meter

Referensi

  1. Vladic, J., et al. (2022). Effect of Beetroot Powder Incorporation on Functional Properties and Shelf Life of Biscuits. Foods, 11(24). https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9858528/
  2. International Organization for Standardization (ISO). (2017). ISO 18787:2017 – Foodstuffs — Determination of water activity. https://www.iso.org/standard/63379.html
  3. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia. (2019). Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 13 Tahun 2019 Tentang Batas Maksimal Cemaran Mikroba dalam Pangan Olahan. https://peraturan.go.id/id/peraturan-bpom-no-13-tahun-2019
  4. Kusnandar, F., Adawiyah, D.R., & Fitria, M. (2010). Pendugaan Umur Simpan Produk Biskuit Dengan Metode Akselerasi Berdasarkan Pendekatan Kadar Air Kritis. Jurnal Teknologi dan Industri Pangan, 21(1).
  5. Badan Standardisasi Nasional (BSN). (2018). SNI Biskuit Direvisi, Inilah yang Baru. https://bsn.go.id/main/berita/detail/9383/sni-biskuit-direvisi-inilah-yang-baru

Main Menu