Pasca peringatan siaga 3 dan kejadian banjir yang melanda beberapa wilayah di Kabupaten Tangerang, perhatian utama seringkali tertuju pada genangan air yang surut. Namun, bagi para pengelola fasilitas, manajer operasional, dan pemangku kepentingan industri, ancaman yang lebih laten justru muncul: dampak sekunder terhadap kualitas lingkungan permukiman dan tempat kerja. Lima kecamatan—Kresek, Gunung Kaler, Kosambi, Jayanti, dan Tigaraksa—dilaporkan masih terendam dengan ketinggian air 40 cm hingga 1 meter, menciptakan kondisi yang ideal bagi degradasi kualitas udara dan lingkungan dalam ruangan [1]. “Musuh tak terlihat” ini, berupa partikulat halus, gas berbahaya, dan kelembaban ekstrem, tidak hanya mengancam kesehatan namun juga dapat mengganggu produktivitas, menambah biaya operasional, dan meningkatkan risiko ketidakpatuhan terhadap standar kesehatan lingkungan kerja.
Artikel ini merupakan panduan definitif bagi para profesional dan pengambil keputusan untuk beralih dari kekhawatiran ke tindakan pencegahan yang terukur. Kami akan membahas parameter kunci lingkungan apa yang harus dipantau, risiko kesehatan dan operasional apa yang dihadapi, serta bagaimana teknologi modern seperti Internet of Things (IoT) dapat memberikan solusi pemantauan real-time yang efektif dan berdampak pada efisiensi bisnis.
- Parameter Kunci Kualitas Lingkungan Pasca Banjir dan Standar Baku Mutu
- Parameter Udara Dalam dan Luar Ruangan yang Harus Dipantau
- Standar Nasional (SBMKL, PP 41/1999) vs Internasional (WHO)
- Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Pasca Banjir
- Metode ARKL dan Hubungan Data Lingkungan dengan Penyakit
- Dampak Kesehatan Spesifik: Pernapasan, Infeksi, Hiperkapnia, dan Stagnansi Air
- Teknologi Pemantauan Modern Berbasis IoT untuk Lingkungan Pasca Banjir
- Komponen Sistem: Sensor, Mikrokontroler, dan Platform Data
- Studi Kasus Implementasi IoT di Indonesia (Gunung Merapi dan Potensi di Tangerang)
- Studi Kasus: Analisis Kualitas Lingkungan di Daerah Terdampak Banjir Tangerang
- Data Lapangan dan Kondisi Lingkungan Pasca Siaga 3
- Temuan dan Rekomendasi Berdasarkan Analisis Awal
- Panduan Praktis: Pemantauan Mandiri dan Antisipasi Dampak Sekunder
- Langkah-langkah Pemantauan Parameter Lingkungan di Rumah Tangga dan Fasilitas
- Interpretasi Data dan Tindakan Mitigasi Segera
- Kesimpulan
- Referensi
Parameter Kunci Kualitas Lingkungan Pasca Banjir dan Standar Baku Mutu
Setelah air banjir surut, lingkungan mengalami perubahan signifikan yang mempengaruhi parameter kualitas udara dan lingkungan dalam ruangan. Pemahaman atas parameter ini, beserta standar baku yang mengaturnya, adalah langkah pertama yang kritis dalam menilai risiko operasional dan merancang strategi mitigasi yang tepat sasaran bagi fasilitas dan area permukiman pekerja.
Parameter Udara Dalam dan Luar Ruangan yang Harus Dipantau
Bagi sektor bisnis dan industri, pemantauan parameter lingkungan pasca banjir terkait langsung dengan kewajiban hukum, keselamatan pekerja, dan keberlanjutan operasi. Lima parameter berikut merupakan indikator kritis:
- Partikulat Halus (PM2.5 dan PM10): Lumpur dan material yang tersisa pasca banjir mengering dan terangkat menjadi partikulat di udara. Paparan PM2.5 (partikel berdiameter ≤2.5 mikrometer) yang tinggi secara konsisten terkait dengan peningkatan risiko penyakit pernapasan dan kardiovaskular pada tenaga kerja, yang dapat menyebabkan peningkatan absensi sakit. Data dari Jakarta menunjukkan variasi konsentrasi PM2.5 antara 35.1 hingga 116 µg/m³, dengan rata-rata yang melebihi standar US-EPA National Ambient Air Quality Standards (NAAQS) meskipun masih di bawah ambang batas Peraturan Pemerintah (PP) No. 41/1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara, yaitu 65 μg/Nm³ [2].
- Karbon Dioksida (CO2): Di fasilitas atau ruang kantor yang padat dengan ventilasi terbatas pasca pembersihan, konsentrasi CO2 dapat meningkat pesat. Tingkat CO2 yang berlebihan dapat menyebabkan hiperkapnia pada penghuni, dengan gejala seperti sakit kepala, pusing, lesu, dan kesulitan berkonsentrasi—semua faktor yang secara langsung mengurangi produktivitas dan keselamatan kerja [3].
- Kelembaban Relatif (RH): Kelembaban tinggi (di atas 60%) merupakan konsekuensi langsung dari banjir. Kondisi ini mendorong pertumbuhan cepat jamur (mold) dan bakteri pada material bangunan, furnitur, dan sistem HVAC. Selain merusak aset properti dan inventaris, spora jamur merupakan alergen dan iritan pernapasan kuat yang dapat mempengaruhi kesehatan penghuni bangunan secara luas.
- Suhu: Suhu ruangan mempengaruhi tingkat kenyamanan termal dan juga berinteraksi dengan kelembaban. Suhu warm (di atas 28°C) bersama kelembaban tinggi menciptakan lingkungan ideal bagi mikroorganisme.
- Volatile Organic Compounds (VOC): Bahan kimia dari lumpur banjir, bahan pembersih yang intensif digunakan, serta emisi dari peralatan pemulihan dapat meningkatkan level VOC di udara dalam ruangan. Paparan jangka panjang berisiko terhadap kesehatan pekerja.
Standar Nasional (SBMKL, PP 41/1999) vs Internasional (WHO)
Memahami dan menerapkan standar yang relevan adalah bagian dari kepatuhan regulasi dan praktik terbaik manajemen fasilitas. Dua kerangka utama yang harus dipertimbangkan adalah:
- Standar Nasional Indonesia: Regulasi inti untuk pengendalian kualitas udara di Indonesia adalah Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara [4]. PP ini menetapkan baku mutu udara ambien untuk berbagai polutan, termasuk partikulat (TSP, PM10) dan gas (CO, NO2, SO2, O3, Pb). Di sisi lain, Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan (SBMKL) yang ditetapkan Kementerian Kesehatan mengatur parameter lingkungan dalam ruangan yang lebih spesifik, mencakup CO, CO2, Pb, NO2, SO2, formaldehida (HCHO), dan Total Suspended Particulate (TSP) [5]. Standar ini merupakan acuan hukum untuk menilai kelayakan hunian suatu bangunan pasca bencana.
- Pedoman Internasional (WHO/ASHRAE): Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan American Society of Heating, Refrigerating and Air-Conditioning Engineers (ASHRAE) menetapkan pedoman yang seringkali lebih ketat dan berbasis bukti ilmiah terkini. Misalnya, WHO merekomendasikan agar kelembaban relatif dalam ruangan dipertahankan antara 40-60% untuk mencegah pertumbuhan mikroorganisme dan memastikan kenyamanan termal [6]. Pedoman kualitas udara global WHO juga memberikan rekomendasi ambang batas untuk PM2.5 dan polutan lainnya yang dapat dijadikan target ideal bagi fasilitas yang berkomitmen pada standar kesehatan tertinggi.
Bagi pelaku bisnis, standar nasional adalah batas minimal yang harus dipatuhi, sementara pedoman internasional dapat diadopsi sebagai bagian dari program kesehatan dan keselamatan kerja (K3) yang unggul serta tanggung jawab sosial perusahaan.
Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Pasca Banjir
Setelah data parameter lingkungan terkumpul, langkah kritis berikutnya adalah menganalisisnya dalam kerangka Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL). Metodologi ini memungkinkan manajemen untuk mengkuantifikasi dan memprioritaskan ancaman, mengalihkan pendekatan dari reaktif menjadi proaktif dalam melindungi aset manusia dan operasional.
Metode ARKL dan Hubungan Data Lingkungan dengan Penyakit
ARKL adalah pendekatan sistematis yang menghubungkan data lingkungan dengan kemungkinan terjadinya efek kesehatan. Di Tangerang, metode ini telah digunakan untuk menilai hubungan antara kualitas udara dalam ruangan pasca banjir dan angka kesakitan penyakit tular udara di masyarakat [3]. Langkah-langkahnya mencakup:
- Identifikasi Bahaya: Menentukan agen fisik, kimia, atau biologis di lingkungan (misalnya, spora jamur dari kelembaban >70%, PM2.5 dari debu lumpur kering).
- Penilaian Paparan: Mengukur sejauh mana populasi pekerja atau penghuni bangunan terpapar bahaya tersebut (frekuensi, durasi, konsentrasi).
- Karakterisasi Risiko: Memperkirakan kemungkinan dan keparahan efek kesehatan yang merugikan berdasarkan hubungan dosis-respons.
Contoh praktis: Data pemantauan IoT menunjukkan kelembaban konsisten di atas 75% dan konsentrasi PM2.5 rata-rata di atas 50 µg/m³ di sebuah kantor selama lima hari pasca banjir. Melalui ARKL, manajemen dapat menyimpulkan adanya risiko tinggi peningkatan kasasi Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan reaksi alergi di antara karyawan, yang memerlukan intervensi segera seperti perbaikan ventilasi dan pembersihan profesional.
Dampak Kesehatan Spesifik: Pernapasan, Infeksi, Hiperkapnia, dan Stagnansi Air
Dampak sekunder banjir pada kesehatan memiliki implikasi langsung terhadap biaya perawatan kesehatan perusahaan, kehilangan hari kerja (absenteeism), dan penurunan kinerja (presenteeism). Risiko utama meliputi:
- Gangguan Pernapasan: Partikulat halus (PM2.5) dan spora jamur adalah iritan saluran napas yang dapat memicu eksaserbasi asma, bronkitis, dan ISPA. Populasi di daerah banjir perkotaan, seperti di Indonesia, sangat rentan terhadap infeksi pernapasan karena kondisi sanitasi yang belum pulih dan hunian sementara yang padat [7].
- Infeksi dan Penyakit Tular Air: Air banjir merupakan media subur bagi patogen. Leptospirosis (dari urine tikus), dermatitis, dan infeksi kulit lainnya merupakan ancaman langsung bagi pekerja yang terlibat dalam pembersihan. Genangan air yang tersisa juga menjadi tempat berkembang biak nyamuk, meningkatkan risiko Demam Berdarah Dengue (DBD) dan malaria di sekitar fasilitas.
- Hiperkapnia dan Sindrom Bangunan Sakit (Sick Building Syndrome): Ventilasi yang tidak memadai di dalam gedung pasca pembersihan dapat menyebabkan akumulasi CO2 dan VOC. Gejala seperti pusing, mual, dan kesulitan berkonsentrasi tidak hanya mengganggu kesejahteraan individu tetapi secara langsung merugikan produktivitas dan meningkatkan potensi kecelakaan kerja.
- Dampak Psikologis dan Stres: Lingkungan kerja yang tidak sehat dan ketidakpastian pasca bencana berkontribusi terhadap meningkatnya tingkat stres dan kecemasan di kalangan pekerja, yang pada gilirannya mempengaruhi moral dan keterlibatan kerja.
Teknologi Pemantauan Modern Berbasis IoT untuk Lingkungan Pasca Banjir
Untuk mengubah data menjadi keputusan bisnis yang cepat dan akurat, teknologi pemantauan berbasis Internet of Things (IoT) menawarkan solusi yang scalable dan efektif. Sistem ini memungkinkan pengukuran parameter lingkungan secara real-time, notifikasi otomatis saat ambang batas terlampaui, dan analisis data berkelanjutan untuk perbaikan proses—sebuah investasi dalam ketahanan operasional.
Sebuah sistem pemantauan IoT untuk lingkungan pasca banjir terdiri dari beberapa komponen kunci yang dapat diintegrasikan sesuai skala kebutuhan, dari satu gedung hingga kawasan industri:
- Sensor: Berfungsi sebagai “indra” sistem. Contohnya termasuk sensor DHT11 atau DHT22 untuk mengukur suhu dan kelembaban, sensor MQ-135 untuk mendeteksi kualitas udara secara umum (sensitif terhadap CO2, NH3, NOx, benzene), serta sensor PM2.5/PM10 khusus. Alat seperti air quality monitor portabel, thermo-hygrometer digital, dan portable gas detector pada dasarnya merupakan perangkat yang mengemas satu atau lebih sensor ini dengan tampilan yang user-friendly.
- Mikrokontroler: Bertindak sebagai “otak” yang membaca data dari sensor, mengolahnya, dan mengirimkannya ke cloud. Modul seperti NodeMCU ESP8266 sangat populer karena sudah memiliki chip Wi-Fi terintegrasi, memungkinkan konektivitas nirkabel yang mudah.
- Konektivitas: Data dikirim ke server melalui jaringan Wi-Fi, seluler (4G/5G), atau teknologi Low-Power Wide-Area Network (LPWAN) seperti LoRaWAN untuk area yang luas.
- Platform Data dan Antarmuka Pengguna: Data yang terkumpul disimpan dan dianalisis di platform cloud. Dashboard online atau aplikasi mobile kemudian menampilkan informasi secara visual (grafik, peta panas), mengirimkan peringatan (alert), dan menghasilkan laporan untuk keputusan manajemen.
Studi Kasus Implementasi IoT di Indonesia (Gunung Merapi dan Potensi di Tangerang)
Bukti keberhasilan penerapan teknologi serupa di konteks bencana Indonesia sudah ada. Penelitian yang diterbitkan di Emerging Science Journal mengembangkan sistem peringatan dini lahar banjir berbasis IoT di Gunung Merapi, yang menggunakan sensor curah hujan, mikrokontroler ESP, dan algoritma Fuzzy Tree Decision untuk mengirimkan peringatan via WhatsApp dan SMS dengan akurasi deteksi 81.5% [8]. Sistem ini menunjukkan bahwa integrasi sensor, IoT, dan notifikasi otomatis bukanlah konsep teoritis, melainkan solusi praktis yang telah diuji di lapangan oleh peneliti Indonesia.
Prinsip yang sama dapat—dan seharusnya—diadaptasi untuk pemantauan lingkungan pasca banjir di kawasan industri dan permukiman pekerja di Tangerang. Jika teknologi ini mampu memberikan peringatan dini untuk bahaya lahar, maka penerapannya untuk memantau ancaman kesehatan lingkungan seperti kelembaban ekstrem dan kualitas udara buruk adalah langkah logis berikutnya dalam membangun komunitas yang lebih tangguh.
Studi Kasus: Analisis Kualitas Lingkungan di Daerah Terdampak Banjir Tangerang
Mari kita terapkan kerangka pemahaman sebelumnya pada situasi nyata di Kabupaten Tangerang. Analisis konkret ini membantu para pemangku kepentingan bisnis dan industri untuk mengantisipasi tantangan operasional dan mengalokasikan sumber daya mitigasi dengan lebih tepat.
Data Lapangan dan Kondisi Lingkungan Pasca Siaga 3
Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang, banjir yang dipicu oleh luapan Sungai Cidurian dan Cimanceuri, serta curah hujan ekstrem mencapai 148 mm/hari di wilayah Serang, menyebabkan lima kecamatan masih terendam [1, 3]. Daerah di sekitar pintu air Cisadene serta permukiman padat seperti Mekarsari dan Neglasari menjadi fokus perhatian. Kondisi lapangan pasca air mulai surut menggambarkan skenario risiko tinggi:
- Genangan Air dan Lumpur: Material organik dan anorganik yang dibawa banjir mengendap, menjadi sumber partikulat dan kontaminan saat mengering.
- Kerusakan Bangunan: Dinding dan lantai yang basah menciptakan reservoir kelembaban jangka panjang di dalam struktur bangunan, baik rumah tinggal maupun fasilitas komersial.
- Kond Hunian Padat: Di tempat pengungsian atau rumah yang mengalami kerusakan, penghuni sering berkumpul di ruang terbatas dengan ventilasi tidak optimal, meningkatkan risiko penularan penyakit pernapasan dan penumpukan CO2.
Temuan dan Rekomendasi Berdasarkan Analisis Awal
Meskipun data pemantauan kontinu masih terbatas, analisis risiko berdasarkan kondisi lapangan dan prinsip kesehatan lingkungan memunculkan beberapa rekomendasi prioritas yang selaras dengan Pedoman Penanggulangan Bencana Bidang Kesehatan dari Kementerian Kesehatan [9]:
- Pemantauan Kelembaban Intensif: Pada bangunan yang baru dibersihkan, pemantauan kelembaban dinding dan udara dalam ruangan harus menjadi standar prosedur sebelum dinyatakan layak huni atau operasi kembali. Target kelembaban <60% harus dicapai.
- Audit Ventilasi dan Kualitas Udara: Fasilitas umum dan tempat kerja perlu mengevaluasi sistem ventilasinya. Peningkatan pertukaran udara sangat penting untuk mengencerkan konsentrasi CO2, VOC, dan partikulat.
- Pemisahan Area Risiko Tinggi: Mengidentifikasi area yang paling lembab atau berdebu untuk pembersihan ekstra dan membatasi akses hingga kondisinya aman.
- Edukasi Kesehatan Lingkungan bagi Pekerja: Memberikan pemahaman kepada tenaga kerja tentang gejala-gejala paparan lingkungan buruk (seperti sakit kepala akibat CO2 tinggi atau batuk akibat debu) dan langkah-langkah pelaporan.
Panduan Praktis: Pemantauan Mandiri dan Antisipasi Dampak Sekunder
Bagi pengelola fasilitas, tim K3, atau pengawas kontraktor, berikut adalah langkah-langkah praktis yang dapat diimplementasikan untuk mengantisipasi dampak sekunder banjir.
Langkah-langkah Pemantauan Parameter Lingkungan di Rumah Tangga dan Fasilitas
Sebuah protokol pemantauan sederhana dapat diterapkan:
- Identifikasi Titik Kritis: Petakan area di fasilitas yang paling berisiko: ruang bawah tanah, dinding yang kontak dengan tanah, area dengan kerusakan atap/kebocoran, ruangan dengan ventilasi buruk, dan lokasi penyimpanan material yang mungkin lembab.
- Lakukan Pengukuran Baseline: Gunakan alat sederhana seperti thermo-hygrometer digital untuk mengukur suhu dan kelembaban di berbagai titik. Moisture meter dapat digunakan untuk memeriksa kadar air di dinding dan lantai. Untuk kualitas udara yang lebih komprehensif, pertimbangkan air quality monitor portabel yang mampu membaca PM2.5 dan CO2.
- Dokumentasi dan Pelacakan: Buat catatan atau log sheet sederhana untuk mencatat pembacaan harian atau mingguan. Tren data jauh lebih informatif daripada pengukuran tunggal.
- Observasi Visual dan Kesehatan: Selalu dampingi data teknis dengan observasi visual (tumbuhnya jamur, bau apek) dan survei gejala kesehatan informal di antara penghuni atau pekerja.
Interpretasi Data dan Tindakan Mitigasi Segera
Setelah data terkumpul, gunakan panduan aksi berikut untuk mengambil keputusan:
| Parameter | Jika Melebihi Ambang Batas (Contoh) | Risiko Operasional/Kesehatan | Tindakan Mitigasi Segera yang Direkomendasikan |
|---|
| Kelembaban Udara | > 60% (Rujukan WHO) | Pertumbuhan jamur/bakteri, kerusakan material bangunan & inventaris, alergi pernapasan. | Tingkatkan ventilasi alami (buka jendela). Gunakan kipas angin atau dehumidifier. Periksa kebocoran. |
| PM2.5 | > 65 µg/m³ (Baku Mutu PP 41/1999) [4] | Iritasi saluran pernapasan, risiko kesehatan jangka panjang bagi pekerja. | Basahi area berdebu sebelum dibersihkan. Gunakan masker respirator N95 bagi petugas kebersihan. Pertimbangkan air purifier dengan filter HEPA di ruang tertutup. |
| CO2 | > 1000 ppm (Rujukan umum kualitas udara dalam ruangan) | Penurunan konsentrasi, mengantuk, sakit kepala, penurunan produktivitas. | Segera tingkatkan ventilasi dengan membuka pintu/jendela atau menyalakan exhaust fan. Kurangi kepadatan penghuni ruangan. |
| Suhu | > 28°C atau di luar kisaran nyaman | Ketidaknyamanan termal, stress panas, produktivitas menurun. | Optimalkan penggunaan kipas, tirai untuk menghalangi sinar matahari, atau sistem pendingin ruangan. |
Peringatan Penting: Jika gejala kesehatan serius (sesak napas berat, demam tinggi, gejala leptospirosis) muncul pada pekerja atau penghuni, segera rujuk ke fasilitas kesehatan profesional. Panduan teknis ini tidak menggantikan saran medis.
Kesimpulan
Banjir tidak berakhir ketika air surut dari jalanan. Ancaman sesungguhnya terhadap keberlangsungan operasi dan kesehatan tenaga kerja seringkali muncul secara diam-diam melalui degradasi kualitas lingkungan dalam ruangan. Artikel ini telah membawa kita melalui perjalanan dari pemahaman parameter lingkungan yang tidak terlihat—seperti PM2.5, CO2, dan kelembaban—hingga analisis risiko kesehatannya melalui kerangka ARKL, dan akhirnya pada solusi nyata yang ditawarkan oleh teknologi pemantauan berbasis IoT. Pemantauan proaktif dan berkelanjutan adalah kunci untuk memutus mata rantai dampak sekunder banjir, melindungi aset manusia, dan memastikan ketahanan operasional bisnis dan industri di daerah rawan bencana.
Mulailah memetakan risiko lingkungan di fasilitas Anda. Pertimbangkan untuk mengintegrasikan alat pemantauan dasar ke dalam protokol pemeliharaan gedung dan program K3, serta membiasakan diri dengan standar baku mutu yang berlaku. Dengan bertindak berdasarkan data, kita dapat beralih dari mode respons krisis menuju pembangunan lingkungan kerja yang lebih sehat, aman, dan tangguh untuk masa depan.
CV. Java Multi Mandiri memahami bahwa tantangan lingkungan pasca bencana memerlukan solusi yang terukur dan andal. Sebagai supplier dan distributor peralatan ukur dan uji yang melayani klien bisnis dan aplikasi industri, kami menyediakan berbagai instrumen pendukung—seperti air quality monitor, thermo-hygrometer, moisture meter, dan portable gas detector—yang dapat membantu perusahaan Anda memantau kondisi lingkungan, memastikan kepatuhan terhadap standar, dan mengoptimalkan keselamatan tempat kerja. Hubungi tim kami untuk konsultasi solusi bisnis guna mendiskusikan kebutuhan pengukuran dan pemantauan lingkungan spesifik perusahaan Anda.
Disclaimer: Informasi dalam artikel ini dimaksudkan untuk tujuan edukasi dan kesiapsiagaan. Panduan teknis tidak menggantikan konsultasi dengan tenaga kesehatan profesional atau otoritas berwenang (seperti Dinas Kesehatan atau BPBD) dalam situasi bencana aktual.
Rekomendasi Moisture Meter
Referensi
- Koran Jakarta. (2026, Januari 22). Update Banjir: BPBD Lima Kecamatan di Tangerang Masih Terendam Air. Diambil dari https://koran-jakarta.com/2026-01-22/update-banjir-bpbd-lima-kecamatan-di-tangerang-masih-terendam-air
- Sukmawati, dkk. (N.D.). Analisis Kualitas Udara Ambien dan Dampaknya. Repository UNS. Diambil dari https://repository.unsulbar.ac.id/id/eprint/2124/
- Berbagai penelitian tentang pemantauan kualitas udara pasca banjir di Tangerang dan gejala hiperkapnia. (N.D.). [Data penelitian lapangan].
- Enviliance ASIA. (N.D.). Indonesia, Air Quality Control. Diambil dari https://enviliance.com/regions/southeast-asia/id/id-air, mengutip Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (N.D.). Peraturan Menteri Kesehatan tentang Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan. Diambil dari https://silajang.jombangkab.go.id/storage/produk_hukum/DQIh2EVOCusRVHGoKDP6ImvyxjdgMhtpP6ShnWAl.pdf
- World Health Organization. (2010). WHO guidelines for indoor air quality: selected pollutants. Diambil dari https://www.who.int/publications/i/item/9789289002134
- Malesu, V. K. (2024, November 26). Rising waters, rising risks: The health impact of climate-driven floods. News-Medical.net. Diambil dari https://www.news-medical.net/news/20241126/Rising-waters-rising-risks-The-health-impact-of-climate-driven-floods.aspx
- Suwarno, I., Ma’arif, A., Raharja, N. M., dkk. (N.D.). IoT-based Lava Flood Early Warning System with Rainfall Intensity Monitoring and Disaster Communication Technology. Emerging Science Journal. Diambil dari https://www.ijournalse.org/index.php/ESJ/article/view/670
- Kementerian Kesehatan RI. (N.D.). Pedoman Penanggulangan Bencana Bidang Kesehatan. Diambil dari https://pusatkrisis.kemkes.go.id/download/emdp/files92250KMK_No_145_ttg_Pedoman_Penanggulangan_Bencana_Bidang_Kesehatan.pdf