
Program gentengisasi telah menjadi wacana strategis nasional untuk meningkatkan standar konstruksi dan mendukung industri genteng lokal. Namun, bagi banyak pelaku usaha, khususnya produsen genteng tanah liat skala kecil hingga menengah (UMKM), tuntutan untuk memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) 03-2095-1998 seringkali terasa seperti jurang antara kebijakan dan realitas produksi sehari-hari. Tantangan seperti kualitas yang tidak konsisten, tingginya biaya produksi, dan minimnya akses terhadap metodologi pengendalian mutu yang terstruktur menghambat daya saing.
Artikel ini dirancang sebagai panduan operasional yang menjembatani kesenjangan tersebut. Kami akan membahas program gentengisasi, menguraikan proses produksi optimal, memperkenalkan sistem pengendalian kualitas terstruktur seperti Six Sigma, serta menyajikan strategi praktis yang dapat langsung diadopsi oleh UMKM. Tujuannya adalah memberikan roadmap langkah demi langkah untuk menghasilkan genteng tanah liat berkualitas tinggi dan konsisten, yang tidak hanya memenuhi SNI tetapi juga meningkatkan efisiensi dan profitabilitas bisnis Anda.
Program gentengisasi adalah inisiatif pemerintah untuk menjadikan genteng sebagai standar material atap bangunan nasional. Gerakan ini memiliki implikasi luas, tidak hanya pada sektor konstruksi tetapi terutama pada industri hulu yaitu para produsen genteng. Bagi pelaku usaha, pemahaman mendalam tentang latar belakang dan standar yang berlaku adalah langkah pertama yang krusial untuk beradaptasi dan memanfaatkan peluang ini.
Gentengisasi pada dasarnya adalah upaya standarisasi untuk meningkatkan kualitas, ketahanan, dan estetika bangunan nasional. Berbeda dengan atap seng gelombang yang lebih ringan, genteng tanah liat menawarkan keunggulan termal yang lebih baik, mengurangi kebisingan hujan, dan memiliki masa pakai yang lebih panjang. Dari perspektif industri, program ini bertujuan menciptakan pasar yang lebih terstruktur dan mendorong peningkatan kualitas produksi dalam negeri [1].
Namun, implementasinya membawa tantangan teknis dan ekonomi. Sebagai contoh, bobot mati genteng tanah liat bisa 10 hingga 15 kali lebih berat dibandingkan seng gelombang, yang memerlukan pertimbangan struktur bangunan yang lebih kuat . Dari sisi produsen, tantangan terbesar adalah meningkatkan konsistensi dan mutu produk agar seragam memenuhi standar yang ditetapkan.
Fondasi dari program gentengisasi adalah Standar Nasional Indonesia (SNI) 03-2095-1998 tentang Genteng Keramik . Standar ini, yang ditetapkan oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN), menjadi acuan utama kualitas yang harus dipenuhi. Bagi produsen, memahami parameter dalam SNI ini sama dengan memahami “passing grade” untuk produknya.
Parameter kritis dalam SNI 03-2095-1998 mencakup beberapa aspek utama:
Untuk merujuk pada dokumen standar resmi, Anda dapat mengakses halaman Standar Nasional Indonesia SNI 03-2095-1998 untuk Genteng Keramik.
Memenuhi SNI dimulai dari penguasaan proses produksi. Setiap tahapan, dari pemilihan bahan baku hingga pembakaran, memiliki titik kritis yang menentukan kualitas akhir. Pendekatan produksi yang tradisional dan mengandalkan feeling seringkali menghasilkan variasi kualitas. Oleh karena itu, optimalisasi berbasis data dan kontrol proses menjadi kunci.
Kualitas genteng sangat ditentukan oleh karakteristik tanah liat yang digunakan. Tanah liat lokal Indonesia umumnya memiliki potensi tinggi dengan kandungan silika (SiO₂) yang seringkali melebihi 50%, sebuah indikator positif untuk kekuatan produk akhir . Penelitian oleh Taslimah et al. (2002) tentang mineral lempung juga memberikan dasar ilmiah untuk memahami komposisi ideal .
Formulasi tidak hanya tentang tanah liat murni. Penambahan bahan lain seperti pasir (untuk mengurangi penyusutan) atau bahan plastis (untuk meningkatkan kepadatan dan mengurangi penyerapan air) adalah praktik umum. Eksperimen dengan bahan tambahan lain, seperti limbah industri tertentu, juga sedang diteliti untuk meningkatkan sifat tertentu atau mengurangi biaya. Sebagai contoh, Penelitian Pengaruh Bahan Tambah pada Kualitas Genteng Tanah Liat mengeksplorasi kemungkinan tersebut.
Dua tahap ini adalah jantung dari proses pembuatan genteng keramik. Pengeringan yang tidak sempurna dapat menyebabkan retak selama pembakaran. Sementara pembakaran itu sendiri, pada suhu 700–1100°C, adalah proses transformasi di mana tanah liat berubah menjadi material keramik yang keras dan tahan lama.
Kontrol suhu dan durasi pembakaran sangat krusial. Penelitian yang dilakukan di sentra produksi Lombok Barat menunjukkan bahwa peningkatan suhu pembakaran adalah salah satu strategi efektif untuk mengurangi penyerapan air genteng yang biasanya tinggi . Suhu yang optimal menghasilkan warna gading kekuningan yang menandakan pembakaran sempurna. Studi kasus dari UMKM AR Genteng KTL menemukan bahwa lama pembakaran optimal adalah 10 jam untuk kondisi tertentu .
Namun, proses pembakaran suhu tinggi ini juga menjadi tantangan keberlanjutan, karena menghasilkan emisi karbon yang signifikan dari penggunaan bahan bakar fosil atau biomassa . Investasi dalam teknologi tungku yang lebih efisien atau kontrol suhu semi-otomatis dapat memberikan pengembalian investasi (ROI) yang baik melalui penghematan bahan bakar dan peningkatan konsistensi kualitas.
Mengandalkan pengalaman saja tidak cukup untuk mencapai konsistensi tingkat tinggi. Di sinilah metodologi pengendalian kualitas terstruktur seperti Six Sigma dan penggunaan alat ukur yang tepat berperan. Pendekatan ini mentransformasi produksi dari seni ke ilmu yang terukur.
Six Sigma adalah metodologi berbasis data untuk menghilangkan cacat. Fase DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control) dapat diterapkan di industri genteng skala kecil. Sebuah penelitian yang dilakukan di UMKM AR Genteng KTL memberikan contoh nyata: dengan menerapkan Six Sigma dan metode Taguchi, mereka berhasil menurunkan persentase cacat dari 0,65% menjadi 0,42% .
Secara spesifik, nilai Defect Per Million Opportunities (DPMO) turn dari 1627 menjadi 1055, dan tingkat sigma meningkat dari 4,47 menjadi 4,59 . Fase “Improve” dari penelitian tersebut menghasilkan formulasi proses optimal: penggunaan 1 kg tanah liat, lama pengeringan 8 jam, penjemuran 24 jam, dan pembakaran 10 jam . Implementasi peta kendali statistik (control chart) pada fase “Control” membantu mempertahankan perbaikan ini. Untuk mempelajari studi kasus ini lebih detail, Anda dapat merujuk pada Penelitian Asesmen Kualitas Genteng Tanah Liat Berdasarkan SNI.
Untuk menjalankan fase “Measure” dalam Six Sigma, alat ukur yang tepat mutlak diperlukan. Setiap parameter SNI memerlukan alat verifikasi yang spesifik:
Prosedur pengujian dengan alat-alat ini harus mengacu pada metode yang diuraikan dalam SNI 03-2095-1998 untuk memastikan hasil yang valid dan dapat diperbandingkan.
Bagi produsen dengan sumber daya terbatas, penerapan penuh sistem kompleks mungkin menakutkan. Kuncinya adalah memulai dengan strategi praktis yang memberikan dampak signifikan.
Berdasarkan temuan penelitian, dua intervensi sederhana yang terbukti efektif untuk meningkatkan kualitas genteng tanah liat adalah:
Selain itu, mengadopsi template Prosedur Operasional Standar (SOP) sederhana yang mengintegrasikan parameter SNI pada setiap tahap produksi—dari penerimaan bahan baku, pencampuran, pembentukan, pengeringan, pembakaran, hingga pengemasan—dapat langsung meningkatkan konsistensi. Checklist inspeksi visual sebelum pembakaran juga dapat mengurangi cacat yang berasal dari tahap pembentukan.
Efisiensi biaya adalah kunci keberlangsungan. Fokus pada optimasi proses pembakaran seringkali memberikan ROI tercepat. Pertimbangan untuk menggunakan kontrol suhu semi-otomatis yang terjangkau atau modifikasi tungku untuk meningkatkan efisiensi pembakaran dapat mengurangi konsumsi bahan bakar. Untuk alat ukur, mulailah dengan alat yang paling kritikal terlebih dahulu, seperti alat uji penyerapan air, sebelum berinvestasi lebih luas. Analisis biaya-manfaat sederhana terhadap setiap investasi teknologi dapat membantu pengambilan keputusan yang tepat.
Adopsi penuh standar gentengisasi tidak lepas dari hambatan. Isu keberlanjutan, berupa emisi karbon dari pembakaran, menjadi perhatian global. Di sisi lain, biaya investasi awal untuk teknologi yang lebih baik dan sertifikasi SNI bisa menjadi beban bagi UMKM.
Masa depan industri genteng terletak pada inovasi yang mengatasi tantangan lingkungan tanpa mengorbankan kualitas. Penelitian sedang gencar dilakukan untuk mencari solusi, seperti:
Kolaborasi antara produsen, lembaga penelitian seperti Balai Penelitian Genteng Keramik Bandung, dan pemerintah sangat penting untuk mendorong transisi ini dengan dukungan teknologi, pendanaan, dan kebijakan yang tepat.
Program gentengisasi membuka babak baru bagi industri genteng tanah liat Indonesia, menekankan pada standar, kualitas, dan konsistensi. Keberhasilannya sangat bergantung pada kemampuan produsen, terutama UMKM, untuk beradaptasi. Kunci utamanya terletak pada pemahaman mendalam terhadap SNI 03-2095-1998, optimalisasi proses produksi pada titik-titik kritis (terutama pembakaran), serta penerapan prinsip pengendalian kualitas terstruktur meskipun dalam skala sederhana.
Mulailah evaluasi proses produksi Anda hari ini. Identifikasi satu titik kritis (misal, kontrol suhu pembakaran atau pengujian penyerapan air) dan terapkan satu prinsip pengendalian kualitas dari artikel ini untuk langkah pertama menuju genteng berkualitas SNI.
Bagi para pelaku industri dan bisnis yang serius dalam meningkatkan standar produksi dan kualitas gentengnya, investasi pada alat ukur yang presisi adalah langkah strategis. CV. Java Multi Mandiri, sebagai supplier dan distributor terpercaya untuk berbagai alat ukur dan instrumentasi testing, siap menjadi mitra Anda. Kami menyediakan solusi peralatan yang dapat mendukung kontrol kualitas material, pengujian produk, dan optimalisasi proses produksi genteng tanah liat sesuai standar industri. Untuk mendiskusikan kebutuhan spesifik perusahaan Anda dalam rangka meningkatkan efisiensi dan kualitas produksi, silakan hubungi tim kami melalui halaman konsultasi solusi bisnis.
Disclaimer: Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif. Untuk implementasi standar dan penggunaan alat, konsultasikan dengan ahli dan merujuk pada dokumen resmi SNI.

Pengiriman Produk
Ke Seluruh Indonesia
Gratis Ongkir
S & K Berlaku
Garansi Produk
Untuk Produk Tertentu
Customer Support
Konsultasi & Technical
Distributor Resmi AMTAST di Indonesia
AMTAST Indonesia di bawah naungan Ukurdanuji (CV. Java Multi Mandiri) merupakan distributor resmi AMTAST di Indonesia. AMTAST adalah brand instrumen pengukuran dan pengujian ternama yang menyediakan berbagai macam alat ukur dan uji untuk laboratorium dan berbagai industri sesuai kebutuhan Anda.