Distributor Resmi AMTAST di Indonesia

Strategi Kontrol Kualitas Bahan Baku dan Penyusunan Menu MBG yang Aman

A worn stainless steel countertop in a school kitchen with a quality control checklist, food thermometer, and a four-week menu cycle, illustrating safe menu planning and raw material quality control strategies.

Tahun 2022 mencatat peningkatan mengkhawatirkan: 72 Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan pangan terjadi di Indonesia, naik 44% dari tahun sebelumnya, dengan ribuan korban terdampak . Insiden seperti kontroversi Buah Kecapi di SPPG Gunung Sindur, Bogor, bukanlah kasus terisolasi, melainkan sinyal alarm bagi seluruh pengelola program makanan sekolah. Dalam konteks Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang masif, tantangan pengadaan terpusat, keterbatasan anggaran, dan SDM yang belum terlatih secara optimal menuntut solusi sistemik yang praktis.

Artikel ini hadir sebagai panduan komprehensif untuk kepala sekolah, koordinator MBG, pengawas kantin, dan penjaga gizi puskesmas. Kami akan membahas membangun sistem pangan sekolah yang resilien, dimulai dari strategi kontrol kualitas bahan baku yang ketat, penyusunan menu bergizi yang memenuhi standar, implementasi keamanan pangan yang aplikatif, hingga protokol tanggap darurat jika terjadi masalah. Panduan ini dirancang untuk mengubah teori kompleks menjadi langkah-langkah konkret yang dapat segera diimplementasikan di lapangan.

  1. Sistem Kontrol Kualitas Bahan Baku yang Efektif dan Praktis
    1. Parameter dan Metode Inspeksi Bahan Baku (Fisik & Kimia)
    2. Sistem Penerimaan: Tantangan Kantin Mandiri vs MBG Terpusat
    3. Template Checklist dan SOP Penerimaan Bahan Baku (Siap Unduh)
  2. Penyusunan Menu Bergizi yang Memenuhi 25% AKG dan Anggaran Sekolah
    1. Prinsip Dasar dan Komposisi Menu Seimbang untuk Anak Sekolah
    2. Contoh Siklus Menu 4 Minggu dengan Pertimbangan Anggaran
  3. Implementasi Standar Keamanan Pangan (HACCP, GHP, SSOP) di Sekolah
    1. 7 Prinsip HACCP Sederhana untuk Dapur Sekolah
    2. Sanitasi, Higiene, dan Pengendalian Suhu yang Tepat
  4. Prosedur Monitoring, Inspeksi, dan Evaluasi Pasca Masalah
    1. Protokol Tanggap Darurat dan Investigasi Keracunan
    2. Evaluasi dan Perbaikan Sistem Pasca Insiden
  5. Pemanfaatan Teknologi dan Alat Ukur Sederhana untuk Jaminan Kualitas
    1. Panduan Memilih, Mengkalibrasi, dan Menggunakan pH Meter
    2. Fungsi Refractometer dan Alat Lain dalam Kontrol Kualitas
  6. Kesimpulan
  7. Referensi

Sistem Kontrol Kualitas Bahan Baku yang Efektif dan Praktis

Landasan program makanan sekolah yang aman dimulai dari kualitas bahan baku yang masuk. Pedoman Nasional Kantin Sehat di Satuan Pendidikan menekankan bahwa kantin sehat tidak hanya menyediakan makanan bergizi, tetapi harus memastikan keamanan pangan melalui pengelolaan yang baik, dimulai dari penerimaan bahan baku . Sistem yang efektif harus mampu mengidentifikasi dan menolak bahan yang tidak memenuhi standar kesegaran dan keamanan, baik itu buah, sayuran, protein, maupun bahan pokok lainnya.

Parameter dan Metode Inspeksi Bahan Baku (Fisik & Kimia)

Inspeksi bahan baku harus mencakup parameter fisik dan kimia. Secara fisik, lakukan pemeriksaan visual dan sensorik:

  • Buah dan Sayuran: Periksa warna (hindari yang kusam atau berubah), tekstur (hindari lembek atau berkeriput ekstrem), dan aroma (hindari bau asam atau busuk). Pastikan tidak ada memar besar, lubang, atau tanda-tanda kontaminasi fisik.
  • Protein Hewani (Daging/Ikan): Warna harus khas segar (daging merah cerah, ikan insang merah), tekstur elastis (kembali jika ditekan), dan beraroma khas segar tanpa bau amis menyengat atau busuk.

Dari sisi kimia, parameter kunci seperti pH (tingkat keasaman) sangat krusial bagi keamanan mikrobiologis. Pengetahuan tentang pH minimum pertumbuhan bakteri patogen penting untuk menilai risiko:

  • E. coli dapat tumbuh pada pH minimum 4.4 .
  • Salmonella spp. memiliki pH minimum pertumbuhan sekitar 4-4.5 .
  • Bacillus cereus, salah satu penyebab keracunan makanan, dapat tumbuh pada rentang pH 4.9 hingga 9.3 .

Buah umumnya bersifat asam (pH rendah) sehingga lebih rentan terhadap pembusukan oleh kapang, sedangkan daging dan ikan dengan pH mendekati netral sangat rentan terhadap pertumbuhan bakteri patogen. Penggunaan alat ukur sederhana seperti pH meter dapat membantu memantau parameter ini secara objektif, terutama untuk produk olahan atau bahan yang diragukan kesegarannya.

Sistem Penerimaan: Tantangan Kantin Mandiri vs MBG Terpusat

Sistem penerimaan bahan baku sangat dipengaruhi oleh model pengadaan. Kantin mandiri yang membeli langsung dari pemasok lokal memiliki keunggulan dalam hal kontrol kualitas bahan baku. Penerimaan harian memungkinkan penolakan langsung terhadap bahan yang tidak segar oleh pihak sekolah. Namun, tantangannya terletak pada konsistensi pasokan dan negosiasi harga.

Sebaliknya, sistem pengadaan terpusat MBG, meski dirancang untuk efisiensi dan pemerataan, menghadapi kendala dalam hal kontrol kualitas oleh penerima akhir (sekolah) . Bahan baku yang telah melalui rantai distribusi panjang lebih sulit ditelusur kesegarannya pada saat diterima. Untuk mengatasi ini, sekolah perlu memperkuat koordinasi dengan penyedia (UMKM/BumDes) dan melakukan pemeriksaan ketat saat barang tiba. Pedoman Pengawasan Program MBG dari Kemenkes menekankan pentingnya pengawasan ketat dalam setiap tahapan program ini . Sekolah harus memiliki wewenang dan prosedur yang jelas untuk melaporkan dan menolak bahan yang tidak memenuhi standar yang disepakati.

Template Checklist dan SOP Penerimaan Bahan Baku (Siap Unduh)

Untuk memudahkan implementasi, kami telah merancang Template Checklist dan SOP Penerimaan Bahan Baku yang dapat diadaptasi sekolah. Template ini mengintegrasikan prinsip dari pedoman nasional dan dirancang untuk digunakan secara praktis.

Contoh Pengisian Checklist (Bagian Buah):

  • Bahan: Pisang
  • Parameter Fisik (Visual): Warna kulit kuning dengan bintik coklat sedikit (✔), Tekstur padat (✔), Tidak ada memar/busuk (✔).
  • Parameter Fisik (Bau): Aroma khas pisang segar (✔).
  • Kesimpulan: DITERIMA.

Contoh Pengisian Checklist (Bagian Daging Ayam):

  • Bahan: Daging ayam fillet
  • Parameter Fisik (Visual): Warna merah muda pucat (✔), Tekstur kenyal dan lembap (✔), Tidak ada lendir berlebih (✔).
  • Parameter Fisik (Bau): Aroma segar, amis normal (❌ – terdeteksi bau asam).
  • Kesimpulan: DITOLAK. Alasan: Bau asam mengindikasikan awal pembusukan.
  • Tindakan (SOP): Pisahkan bahan, beri label “Ditolak”, laporkan ke koordinator dan penyedia untuk penggantian.

Unduh Template Checklist dan SOP Penerimaan Bahan Baku di sini – Sesuaikan kolom dengan bahan yang paling sering digunakan di sekolah Anda.

Penyusunan Menu Bergizi yang Memenuhi 25% AKG dan Anggaran Sekolah

Menu sekolah bukan sekadar pengisi perut, tetapi investasi untuk kesehatan dan prestasi belajar. Konteksnya mendesak: prevalensi stunting di Indonesia masih 21.5% dan wasting 8.5% . Program makanan sekolah yang baik dapat berkontribusi signifikan dalam perbaikan gizi. Pedoman Makan Bergizi Gratis (MBG) di Satuan Pendidikan menetapkan prinsip menu harus sesuai kecukupan gizi peserta didik dan berbasis preferensi lokal .

Prinsip Dasar dan Komposisi Menu Seimbang untuk Anak Sekolah

Menu sekolah idealnya memenuhi 25% dari Angka Kecukupan Gizi (AKG) harian anak. Untuk sarapan, energi yang disarankan berkisar 200-300 kalori, setara dengan 20-25% kebutuhan harian . Komposisi menu seimbang harus mencakup:

  1. Makanan Pokok: Sumber karbohidrat (nasi, jagung, singkong, mi, atau sagu).
  2. Lauk Pauk: Sumber protein, baik hewani (ayam, ikan, telur, daging) maupun nabati (tahu, tempe, kacang-kacangan).
  3. Sayuran: Sumber vitamin, mineral, dan serat.
  4. Buah: Sumber vitamin dan serat tambahan.

Data menunjukkan bahwa program MBG yang dijalankan dengan baik dapat meningkatkan asupan energi harian anak sebesar 20-30% , membuktikan dampak langsung terhadap status gizi.

Contoh Siklus Menu 4 Minggu dengan Pertimbangan Anggaran

Kendala anggaran sering menjadi penghalang. Kuncinya adalah perencanaan siklus menu yang memanfaatkan pangan lokal musiman yang biasanya lebih murah dan segar. Berikut adalah kerangka siklus menu 4 minggu yang dapat diadaptasi:

Minggu 1 (Fokus Protein Nabati & Ikan Lokal):

  • Senin: Nasi, Orek Tempe, Sayur Bayam, Pisang.
  • Selasa: Nasi, Ikan Kembung Goreng, Tumis Kangkung, Pepaya.
  • Rabu: Nasi, Tahu Bacem, Sayur Lodeh, Jeruk.
  • Kamis: Nasi, Pepes Ikan, Lalapan, Pisang.
  • Jumat: Nasi, Telur Balado, Sayur Asem, Melon.

(Siklus dapat dilanjutkan untuk minggu 2-4 dengan variasi lauk, sayur, dan teknik masak yang berbeda).

“Gunakan bumbu dasar seperti bawang merah, bawang putih, dan kunyit yang relatif murah untuk menciptakan cita rasa. Variasi teknik memasak seperti dikukus, pepes, atau dibacem selain sehat juga dapat menekan biaya minyak goreng.” – (Kutipan simulasi dari praktisi gizi).

Perbandingan Biaya (Contoh): Menu dengan ikan kembung (lokal) bisa 30-40% lebih hemat dibanding menu dengan daging sapi, namun nilai protein dan omega-3-nya sangat baik untuk pertumbuhan anak.

Pedoman Resep Pangan Lokal untuk Menu Sekolah dari Kemendikbud dapat menjadi sumber inspirasi resep yang tak ternilai .

Implementasi Standar Keamanan Pangan (HACCP, GHP, SSOP) di Sekolah

Penerapan standar keamanan pangan sering dianggap rumit untuk sekolah. Padahal, esensinya adalah mencegah bahaya. Data dari Badan POM tahun 2022 yang mencatat 72 KLB keracunan pangan, dianalisis oleh Prof. Dr. Lily Arsanti Lestari, STP., MP., pakar keamanan pangan UGM, yang mendorong penerapan HACCP sebagai solusi . Landasan regulasinya adalah Peraturan Badan POM Nomor 13 Tahun 2023 tentang Kategori Pangan dan berbagai Permenkes terkait higiene sanitasi.

7 Prinsip HACCP Sederhana untuk Dapur Sekolah

HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point) dapat disederhanakan untuk konteks sekolah:

  1. Analisis Bahaya: Identifikasi bahaya biologis (misal: Bacillus cereus pada nasi yang didiamkan lama), kimia (pestisida pada sayur), atau fisik (kerikil, rambut).
  2. Tentukan Titik Kendali Kritis (CCP): Titik di proses yang dapat dikontrol untuk menghilangkan bahaya. Contoh: Pemasakan (CCP untuk membunuh bakteri patogen) dan Penyimpanan Suhu Dingin (CCP untuk mencegah pertumbuhan bakteri).
  3. Buat Batas Kritis: Standar untuk setiap CCP. Contoh: Suhu inti daging saat memasak minimal 74°C; suhu penyimpanan makanan matang di bawah 5°C atau di atas 60°C.
  4. Sistem Pemantauan: Cara memeriksa batas kritis. Contoh: Gunakan termometer makanan untuk mengecek suhu masak; gunakan thermometer kulkas.
  5. Tindakan Koreksi: Langkah jika batas kritis tidak terpenuhi. Contoh: Jika suhu masak kurang, lanjutkan memasak hingga suhu tercapai.
  6. Prosedur Verifikasi: Memastikan sistem HACCP berjalan. Contoh: Kalibrasi termometer rutin, audit internal bulanan.
  7. Dokumentasi: Catat semua prosedur, pemantauan, dan tindakan koreksi.

Sanitasi, Higiene, dan Pengendalian Suhu yang Tepat

Ini adalah pelaksanaan dari GHP (Good Hygienic Practice) dan SSOP (Sanitation Standard Operating Procedure):

  • Higiene Penjamah Makanan: Cuci tangan dengan sabun sebelum mengolah makanan, setelah ke toilet, dan setelah memegang bahan mentah. Gunakan apron, penutup kepala, dan masker jika perlu. Penjamah yang sakit tidak boleh bekerja.
  • Sanitasi Peralatan: Cuci peralatan masak dan makan dengan air bersih, sabun, dan bilas dengan air panas. Lakukan sanitasi berkala.
  • Pengendalian Suhu: Pisahkan bahan mentah dan matang. Jangan biarkan makanan matang berada pada zona bahaya suhu (5°C – 60°C) lebih dari 2 jam. Segera simpan sisa makanan di kulkas (<5°C) atau panaskan kembali di atas 74°C sebelum disajikan.

Memahami bahwa bakteri patogen seperti Staphylococcus aureus dapat tumbuh pada rentang pH 4 hingga 9.8 mempertegas bahwa pengendalian suhu dan waktu seringkali lebih kritis daripada mengandalkan keasaman alami makanan .

Prosedur Monitoring, Inspeksi, dan Evaluasi Pasca Masalah

Tidak ada sistem yang sempurna, sehingga kesiapan menghadapi insiden dan kemampuan belajar darinya adalah kunci ketahanan. Investigasi terhadap kasus keracunan dalam program MBG menemukan bahwa meski persentasenya sekitar 0.5% dari total penerima manfaat, dampaknya serius dengan puluhan ribu orang terdampak . Bakteri seperti Bacillus cereus, Staphylococcus aureus, Salmonella, dan E. coli serta jamur Candida tropicalis sering menjadi penyebab . Pedoman MBG di Satuan Pendidikan juga mengatur mekanisme pemantauan dan evaluasi berkelanjutan .

Protokol Tanggap Darurat dan Investigasi Keracunan

Jika terjadi laporan gejala keracunan (mual, muntah, diare) pada lebih dari dua orang yang mengonsumsi makanan yang sama, segera aktifkan protokol:

  1. Isolasi dan Identifikasi: Amankan sisa makanan yang dicurigai, beri label, dan simpan di kulkas terpisah untuk keperluan testing. Identifikasi korban dan gejala.
  2. Pelaporan: Segera laporkan ke Puskesmas dan Dinas Kesehatan setempat untuk tindakan medis dan investigasi epidemiologi. Laporkan juga kepada atasan (Dinas Pendidikan) dan orang tua/wali.
  3. Komunikasi: Tunjuk satu juru bicara untuk memberikan informasi yang jelas, faktual, dan empatik kepada orang tua dan masyarakat, hindari spekulasi.
  4. Koordinasi Investigasi: Bantu petugas Dinkes/BPOM dengan memberikan akses ke dapur, catatan penerimaan bahan baku, daftar menu, dan wawancara dengan penjamah makanan.

Evaluasi dan Perbaikan Sistem Pasca Insiden

Setelah situasi darurat tertangani, lakukan evaluasi mendalam:

  • Root Cause Analysis: Cari akar penyebab. Apakah dari bahan baku yang terkontaminasi? Kesalahan pengolahan (suhu/waktu tidak tepat)? Kontaminasi silang? Penyimpanan yang salah? Distribusi yang terlalu lama?
  • Rencana Perbaikan: Susun rencana spesifik. Contoh: Jika penyebabnya nasi didiamkan terlalu lama pada suhu ruang, terapkan sistem memasak dan distribusi bergelombang agar makanan tidak terlalu lama menunggu. Perbaiki prosedur pendinginan nasi.
  • Pelatihan Ulang: Lakukan penyegaran dan pelatihan khusus untuk semua staf dapur terkait titik kritis yang gagal.
  • Revisi Dokumen: Perbarui SOP, flowchart proses, dan checklist berdasarkan temuan investigasi.

Tindakan ini bukan tentang menyalahkan, tetapi tentang menguatkan sistem agar insiden serupa tidak terulang. Pedoman Pengawasan Program MBG dari Kemenkes dapat menjadi acuan dalam menyusun mekanisme evaluasi ini .

Pemanfaatan Teknologi dan Alat Ukur Sederhana untuk Jaminan Kualitas

Dalam konteks keterbatasan sumber daya, alat ukur yang tepat dan terjangkau dapat menjadi “mata” tambahan yang objektif untuk menjamin kualitas dan keamanan pangan di sekolah.

Panduan Memilih, Mengkalibrasi, dan Menggunakan pH Meter

pH meter adalah investasi penting untuk memantau keasaman, parameter yang mempengaruhi keamanan mikrobiologis dan kualitas rasa.

  • Pemilihan: Untuk sekolah, pilih pH meter portabel (pocket) dengan akurasi ±0.1 pH, tahan air (atau setidaknya tahan cipratan), dan mudah dikalibrasi. Model dengan elektroda yang dapat diganti lebih tahan lama.
  • Kalibrasi: Lakukan kalibrasi rutin (minimal seminggu sekali jika sering digunakan) menggunakan larutan buffer standar (biasanya pH 4.01, 7.00, dan 10.01). Ikuti petunjuk kalibrasi di manual alat.
  • Penggunaan dan Interpretasi: Celupkan elektroda ke dalam sampel makanan yang telah dihaluskan/dicairkan. Contoh: Saus tomat yang aman biasanya pH < 4.3 (asam menghambat bakteri); jika pH naik signifikan, bisa jadi indikasi kerusakan. Buah matang umumnya memiliki pH spesifik (contoh: jeruk ~3.5, pisang ~4.5-5.2).
MakananPerkiraan Rentang pH
Jeruk / Lemon2.0 – 3.5
Apel / Pisang3.3 – 4.5
Wortel / Kentang5.3 – 6.0
Daging Ayam / Ikan Segar5.8 – 6.8
Susu Segar6.5 – 6.7
Telur (Putih)7.6 – 9.2

Fungsi Refractometer dan Alat Lain dalam Kontrol Kualitas

  • Refractometer: Alat ini mengukur kadar padatan terlarut, terutama gula, yang dinyatakan dalam derajat Brix. Ia tidak mengukur keasaman (pH). Sangat berguna untuk memeriksa kemanisan buah (contoh: semangka matang minimal ~10°Brix) atau konsistensi sirup/minuman. Cara pakai: teteskan sampel cair, lihat skala melalui lensa.
  • Moisture Meter (Pengukur Kadar Air): Berguna untuk memastikan kelembaban bahan kering seperti tepung atau rempah-rempah agar tidak mudah berjamur.
  • Timbangan Presisi (Digital): Esensial untuk menimbang bahan sesuai resep secara konsisten, terutama untuk bahan pembuat kue atau porsi lauk yang harus memenuhi standar gizi.

Kesimpulan

Membangun sistem pangan sekolah yang aman dan bergizi adalah tugas multidimensi yang membutuhkan komitmen, pengetahuan praktis, dan sistem pendukung yang kokoh. Dari artikel ini, poin kunci yang harus dipegang adalah:

  1. Kontrol Kualitas Bahan Baku adalah garis pertahanan pertama. Gunakan checklist dan SOP yang jelas, terlepas dari sistem pengadaan.
  2. Penyusunan Menu harus memenuhi 25% AKG dengan kreativitas memanfaatkan pangan lokal agar sesuai anggaran.
  3. Standar Keamanan Pangan (HACCP/GHP/SSOP) harus diterjemahkan ke dalam langkah harian yang sederhana, dengan fokus pada pengendalian suhu, waktu, dan higiene.
  4. Kesiapan Krisis melalui protokol tanggap darurat dan budaya evaluasi pasca-insiden adalah ciri organisasi yang resilien.
  5. Alat Ukur Sederhana seperti pH meter dan timbangan presisi adalah mitra objektif untuk menjamin konsistensi dan keamanan.

Unduh Paket Template Praktis: SOP Penerimaan Bahan Baku, Checklist Inspeksi Harian, Contoh Siklus Menu 4 Minggu, dan Protokol Tanggap Darurat Keracunan. Gunakan untuk segera meningkatkan sistem keamanan pangan di sekolah Anda.

CV. Java Multi Mandiri memahami kompleksitas tantangan operasional dalam mengelola program makanan skala institusi seperti sekolah. Sebagai distributor alat ukur dan instrumentasi terpercaya, kami menyediakan perangkat pendukung seperti pH meter, refractometer, timbangan presisi, dan thermometer makanan yang dapat membantu staf Anda melakukan pengawasan kualitas berbasis data dengan lebih akurat dan efisien. Kami berkomitmen menjadi mitra solusi bagi institusi pendidikan dalam mewujudkan lingkungan yang aman dan sehat. Untuk konsultasi solusi bisnis dan discusi mengenai kebutuhan peralatan penunjang keamanan pangan di sekolah Anda, jangan ragu untuk menghubungi tim ahli kami.

Disclaimer: Informasi ini bersifat panduan umum. Setiap sekolah harus merujuk pada peraturan terkini dari Kementerian Kesehatan, Kemendikbud, dan BPOM. Konsultasikan dengan ahli gizi dan keamanan pangan setempat untuk implementasi spesifik.

Rekomendasi Data Logger

Referensi

  1. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah & Kementerian Kesehatan, dkk. (2025). Pedoman Nasional Kantin Sehat di Satuan Pendidikan. Kemendikdasmen. Retrieved from https://repositori.kemendikdasmen.go.id/34104/1/6.%20Pedoman%20Nasional%20Kantin%20Sehat%20di%20Satuan%20Pendidikan.pdf
  2. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. (2024). Pedoman Makan Bergizi Gratis (MBG) di Satuan Pendidikan. Kemendikdasmen. Retrieved from https://mbg.bogorkab.go.id/web/docref/pedoman_mbg_sekolah.pdf
  3. Prof. Dr. Lily Arsanti Lestari, STP., MP. (2025, dalam artikel KAGAMA). Meningkatnya Kasus Keracunan Pangan: Ahli UGM Dorong Penerapan HACCP untuk Keamanan Konsumsi Nasional. KAGAMA.id. Retrieved from https://kagama.id/meningkatnya-kasus-keracunan-pangan-ugm-dorong-penerapan-haccp-untuk-keamanan-konsumsi-nasional/, mengutip data Badan POM tahun 2022.
  4. UNICEF. (2024). Data Malnutrisi dan Stunting Indonesia.
  5. Kementerian Kesehatan. (N.D.). Standar Angka Kecukupan Gizi (AKG) dan Pedoman Gizi Seimbang.
  6. Kementerian Kesehatan. (N.D.). Kebijakan Keamanan Pangan Program MBG dari Kementerian Kesehatan. Retrieved from https://kemkes.go.id/id/kemenkes-tegaskan-keamanan-pangan-sebagai-kunci-keberhasilan-program-makan-bergizi-gratis
  7. Kementerian Kesehatan. (N.D.). Pedoman Pengawasan Program MBG dari Kemenkes. Retrieved from https://kemkes.go.id/id/kemenkes-perketat-pengawasan-dalam-program-makan-bergizi-gratis
  8. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2019). Pedoman Pengembangan Resep Berbasis Pangan Lokal Menu Sarapan Sehat Untuk Anak Sekolah. Kemendikbud. Retrieved from https://repositori.kemendikdasmen.go.id/25500/1/Buku%20Pedoman%20Resep%20Pangan%20Lokal%20Progas%202019.pdf
  9. Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2023). Peraturan Badan POM Nomor 13 Tahun 2023 tentang Kategori Pangan.

Main Menu