
Musim hujan membawa berkah air bagi pertanian, tetapi bagi petani kacang, periode ini justru menjadi tantangan besar yang mengancam hasil panen. Kelembaban tinggi yang konstan, dari lahan hingga gudang, memicu serangkaian masalah: mulai dari genangan air yang merusak perakaran, ledakan penyakit jamur seperti Phytophthora dan Fusarium, hingga ancaman tak kasat mata berupa kontaminasi aflatoksin dari Aspergillus flavus pasca panen. Risiko terbesarnya adalah penurunan kualitas yang drastis, bahkan kehilangan hasil panen sama sekali, yang secara langsung merugikan ekonomi petani.
Artikel ini hadir sebagai panduan definitif dan berbasis riset untuk memutus mata rantai masalah tersebut. Kami tidak hanya membahas gejala, tetapi menyajikan solusi terpadu yang saling terhubung—mulai dari strategi budidaya adaptif di lahan, protokol penanganan pasca panen yang kritis, hingga teknik penyimpanan yang aman di musim penghujan. Dengan menggabungkan data spesifik regional, rekomendasi ilmiah dari lembaga otoritatif, dan tips praktis yang aplikatif, panduan ini dirancang untuk membantu Anda melindungi investasi dari budidaya kacang dan memastikan kualitas hasil panen tetap tinggi meski di tengah cuaca yang tidak bersahabat.
Kunci pertama mengatasi kadar air tinggi dimulai jauh sebelum panen, yaitu pada fase perencanaan dan pengelolaan lahan. Pendekatan proaktif di tahap budidaya akan secara signifikan mengurangi tekanan kelembaban yang harus ditangani pasca panen.
Langkah paling mendasar dan sering diabaikan adalah menyesuaikan waktu tanam dengan pola hujan lokal. Menanam di puncak musim hujan meningkatkan risiko genangan, erosi tanah, dan serangan penyakit tular tanah. Data spesifik dari daerah dengan curah hujan tinggi seperti Kalimantan Selatan (rata-rata 2000 mm/tahun) memberikan pelajaran berharga. Penelitian oleh Sudaryono dari Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi) merekomendasikan waktu tanam kacang tanah di wilayah tersebut pada akhir musim hujan, yaitu dari bulan Maret sampai Mei [1]. Pola ini memanfaatkan sisa kelembaban tanah untuk perkecambahan dan pertumbuhan awal, sekaligus menghindari curah hujan berlebihan saat pembungaan dan pengisian polong yang justru dapat menurunkan produktivitas dari potensi optimal 2 ton/Ha.
Ketika hujan tak terhindarkan, sistem drainase lahan menjadi benteng pertahanan pertama. Genangan air tidak hanya menghambat pertumbuhan akar tetapi juga menciptakan lingkungan ideal bagi patogen penyebab busuk, seperti Phytophthora. Rekomendasi teknis dari Balitkabi mencakup pembuatan saluran drainase dengan interval 3-4 meter dan kedalaman 25-30 cm [1]. Saluran ini harus terhubung dengan parit pembuangan utama. Untuk lahan datar, pembuatan bedengan tinggi sangat dianjurkan, sementara di lahan miring, penerapan terasering wajib dilakukan untuk mencegah erosi tanah yang dapat mencapai 2 ton/Ha. Implementasi teknik ini secara detail dapat dipelajari dari Petunjuk Teknis Teknologi Produksi Benih Kacang Tanah dari Kementerian Pertanian.
Tidak semua varietas kacang merespon kelembaban tinggi dengan cara sama. Memilih varietas yang memiliki ketahanan genetik terhadap kondisi basah dan penyakit terkait adalah strategi pintar. Beberapa varietas kacang tanah, hijau, dan kedelai telah dikembangkan dengan sifat toleran terhadap genangan atau ketahanan terhadap penyakit jamur tertentu. Untuk rekomendasi varietas terbaru yang paling sesuai dengan kondisi agroekosistem lokal Anda, konsultasi langsung dengan penyuluh pertanian setempat atau Balai Penelitian (seperti Balitkabi) adalah langkah terbaik. Informasi mengenai varietas unggul dan paket teknologinya juga tersedia dalam publikasi seperti Teknologi Budidaya Kacang Tanah di Musim Hujan dari Balitkabi.
Fase pasca panen adalah titik kritis yang menentukan nasib akhir komoditas. Menurut penelitian Astanto Kasno dari Balitkabi, kadar air biji kacang tanah saat panen bisa mencapai 35-40%, level yang sangat berbahaya untuk disimpan [3]. Kajian dari Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah memperingatkan bahwa jamur A. flavus, produsen aflatoksin, dapat berkembang pesat jika komoditas disimpan pada suhu >20°C dan kadar air >14% [2]. Riset lain juga menunjukkan bahwa peningkatan kadar air benih sebesar 1% pada suhu 50°C dapat mempersingkat umur benih hingga 50%. Oleh karena itu, penanganan pasca panen harus cepat, tepat, dan terukur.
Pengeringan adalah proses paling kritis pasca panen, terutama di musim hujan. Penjemuran tradisional membutuhkan perencanaan cuaca. Rekomendasi dari pengalaman lapangan adalah menjemur polong selama 2-3 hari dengan paparan sinar matahari penuh 6-7 jam per hari. Target kadar air akhir yang aman adalah di bawah 10% untuk kacang konsumsi dan di bawah 11% untuk benih. Untuk kacang hijau, penelitian menunjukkan pengeringan dengan suhu terkontrol pada 60°C selama 2-3 hari efektif mencapai target kadar air 10-12%. Yang terpenting, proses pengeringan harus dimulai maksimal 24 jam setelah panen untuk mencegah fermentasi dan pertumbuhan jamur awal [3]. Detail protokol yang lebih ketat dapat dilihat pada Panduan Pencegahan Infeksi Aspergillus flavus dan Kontaminasi Aflatoksin.
Tidak semua petani memiliki akses ke moisture meter digital. Beberapa metode sederhana dapat digunakan untuk estimasi awal:
Metode ini bersifat subjektif namun berguna untuk pengambilan keputusan cepat di lapangan.
Kelembaban tinggi adalah “taman bermain” bagi berbagai patogen. Mengenali musuh dan memilih senjata yang tepat adalah kunci perlindungan.
Dua kelompok patogen utama mengintai:
Pendekatan pengendalian terpadu (PHT) paling efektif:
Selalu patuhi aturan pada label kemasan dan gunakan alat pelindung diri. Untuk konteks pengendalian mikotoksin yang lebih luas, referensi seperti Status Cemaran dan Upaya Pengendalian Aflatoksin pada Kacang Tanah memberikan gambaran komprehensif.
Penyimpanan yang buruk dapat menggagalkan semua upaya baik di lahan. Di musim penghujan, prinsip utama penyimpanan adalah menjaga kondisi kering dan sirkulasi udara baik.
Gudang ideal harus berada di lokasi tinggi (tidak lembab), memiliki ventilasi silang (jendela/ventilasi di sisi berhadapan), dan terhindar dari kebocoran. Berikut tips praktis:
Pengalaman dari UPT.PATPH Bedali Lawang menekankan pentingnya penjemuran polong hingga benar-benar kering merata selama 5-6 hari sebelum masuk penyimpanan jangka panjang.
Pemilihan wadah disesuaikan dengan tujuan:
Lakukan pemisahan polong/biji yang cacat atau terinfeksi sebelum penyimpanan. Pantau gudang secara rutin. Jika memungkinkan, gunakan higrometer sederhana untuk memantau kelembaban relatif udara gudang (target di bawah 70%). Standar keamanan pangan, seperti yang tercantum dalam Permentan No. 53 Tahun 2018 tentang Batas Maksimum Cemaran Mikotoksin, harus menjadi acuan.
Keberhasilan mengelola risiko musim hujan terletak pada integrasi semua strategi di atas menjadi satu rencana berkelanjutan.
Berikut ringkasan aksi kunci:
Manfaatkan sumber informasi terpercaya:
Mengelola risiko kadar air tinggi pada kacang di musim hujan bukanlah tentang satu solusi ajaib, melainkan tentang menerapkan serangkaian strategi terpadu yang saling memperkuat. Dimulai dari perencanaan tanam yang cerdas berdasarkan data iklim lokal, diikuti oleh pengelolaan air di lahan yang ketat, penanganan pasca panen yang cepat dan tepat, serta diakhiri dengan penyimpanan yang hati-hati. Inti keberhasilannya adalah pendekatan yang proaktif, berbasis ilmu pengetahuan, dan adaptif terhadap kondisi setempat. Dengan mengadopsi langkah-langkah sistematis ini, petani kacang dapat mengubah tantangan musim hujan dari ancaman kerugian menjadi peluang untuk menghasilkan komoditas yang bermutu tinggi, aman, dan bernilai ekonomi lestari.
Mulailah menerapkan satu strategi dari artikel ini pada musim tanam mendatang. Untuk rekomendasi yang paling spesifik dengan kondisi lahan Anda, segera hubungi penyuluh pertanian atau Dinas Pertanian setempat.
Tentang CV. Java Multi Mandiri
Sebagai distributor dan supplier alat ukur dan alat uji terpercaya di Indonesia, CV. Java Multi Mandiri memahami bahwa keberhasilan pertanian modern didukung oleh data dan pengukuran yang akurat. Kami menyediakan berbagai instrumentasi pendukung, termasuk moisture meter untuk mengukur kadar air bijian secara presisi, thermohygrometer untuk memantau kondisi kelembaban dan suhu gudang penyimpanan, serta peralatan laboratorium pertanian lainnya. Kami berkometmen untuk menjadi mitra bisnis bagi para pelaku industri pertanian dan agroindustri dalam mengoptimalkan operasional, menjaga kualitas produk, dan memenuhi kebutuhan peralatan teknis yang andal. Untuk konsultasi solusi bisnis dan peralatan yang sesuai dengan kebutuhan spesifik perusahaan Anda, tim ahli kami siap membantu melalui halaman kontak kami.
Disclaimer: Informasi ini bersifat edukatif. Konsultasikan dengan penyuluh pertanian atau dinas terkait setempat sebelum menerapkan rekomendasi pestisida. Penulis tidak bertanggung jawab atas kerugian akibat penerapan informasi ini.

Pengiriman Produk
Ke Seluruh Indonesia
Gratis Ongkir
S & K Berlaku
Garansi Produk
Untuk Produk Tertentu
Customer Support
Konsultasi & Technical
Distributor Resmi AMTAST di Indonesia
AMTAST Indonesia di bawah naungan Ukurdanuji (CV. Java Multi Mandiri) merupakan distributor resmi AMTAST di Indonesia. AMTAST adalah brand instrumen pengukuran dan pengujian ternama yang menyediakan berbagai macam alat ukur dan uji untuk laboratorium dan berbagai industri sesuai kebutuhan Anda.