Distributor Resmi AMTAST di Indonesia

Viskositas Bahan Kimia: Panduan Mutu & Stabilitas Produk

Viscometer measuring viscous liquid in a lab, with notebook for chemical quality and stability.

Inkonsistensi produk antar-batch adalah masalah yang membuat manajer Quality Control (QC) dan insinyur proses terjaga di malam hari. Satu batch cat terlalu encer, batch berikutnya terlalu kental. Krim kosmetik yang sempurna hari ini, memisah setelah sebulan di rak. Seringkali, akar dari masalah yang mahal dan merusak reputasi ini adalah satu parameter yang krusial namun sering disalahpahami: viskositas.

Viskositas lebih dari sekadar angka “kekentalan” pada lembar data teknis; ini adalah jantung dari stabilitas, kinerja, dan kualitas produk kimia cair Anda. Mengabaikannya berarti membuka pintu bagi kegagalan produk, pemborosan material, dan keluhan pelanggan.

Panduan ini dirancang sebagai jembatan praktis dari teori ke lantai pabrik. Kami akan membongkar peran fundamental viskositas, menunjukkan cara mendiagnosis masalah umum, dan memberikan kerangka kerja yang dapat ditindaklanjuti untuk menerapkan kontrol kualitas yang ketat. Artikel ini akan membahas:

  • Dasar-dasar viskositas dan faktor-faktor kunci yang memengaruhinya.
  • Cara mengidentifikasi kegagalan produk yang disebabkan oleh viskositas tidak stabil.
  • Penerapan viskositas sebagai pilar utama dalam program Quality Control (QC).
  • Strategi formulasi dan proses proaktif untuk stabilitas jangka panjang.

Mari kita mulai menguasai viskositas untuk menjamin konsistensi dan keunggulan produk Anda.

  1. Dasar-Dasar Viskositas: Mengapa Ini Krusial untuk Mutu Produk?

    1. Definisi Viskositas: Lebih dari Sekadar ‘Kekentalan’
    2. Faktor Kunci yang Mempengaruhi Viskositas: Suhu, Tekanan, dan Laju Geser
    3. Fluida Newtonian vs. Non-Newtonian: Perbedaan Praktis di Industri
  2. Mendiagnosis Masalah: Saat Viskositas Menjadi Akar Kegagalan Produk

    1. Gejala Umum Viskositas Tidak Stabil di Lini Produksi
    2. Studi Kasus: Mengapa Produk Menggumpal atau Memisah?
  3. Viskositas Sebagai Pilar Kontrol Kualitas (QC) di Lantai Produksi

    1. Membangun Program Pengujian Viskositas Rutin (SOP)
    2. Memilih Instrumen yang Tepat: Viskometer vs. Reometer
    3. Praktik Terbaik Pengukuran: Mengacu pada Standar Industri
  4. Strategi Formulasi & Proses Proaktif untuk Stabilitas Jangka Panjang

    1. Merancang Stabilitas: Peran Bahan Pengental (Thickener) dan Stabilizer
    2. Manajemen Suhu: Kunci Konsistensi dari Batch ke Batch
  5. Kesimpulan: Kuasai Viskositas, Kuasai Kualitas
  6. Referensi

Dasar-Dasar Viskositas: Mengapa Ini Krusial untuk Mutu Produk?

Untuk mengontrol viskositas secara efektif, kita harus terlebih dahulu memahami prinsip-prinsip dasarnya. Bagian ini akan mengupas konsep fundamental viskositas, faktor-faktor utama yang memengaruhinya, dan mengapa pemahaman ini adalah langkah pertama menuju kontrol kualitas yang efektif di lingkungan industri.

Definisi Viskositas: Lebih dari Sekadar ‘Kekentalan’

Secara teknis, viskositas adalah ukuran resistansi internal fluida terhadap aliran. Bayangkan menuangkan air dan madu secara berdampingan. Air mengalir dengan bebas karena memiliki viskositas rendah; molekulnya bergerak melewati satu sama lain dengan sedikit gesekan. Sebaliknya, madu mengalir lambat karena viskositasnya tinggi; gaya tarik antarmolekulnya kuat, menciptakan resistansi internal yang besar.

Dalam konteks industri, definisi ini memiliki implikasi langsung terhadap mutu bahan kimia dan produk akhir:

  • Kinerja Aplikasi: Viskositas cat menentukan seberapa mudah cat itu diaplikasikan dengan kuas atau semprotan, seberapa tebal lapisannya, dan apakah cat akan menetes.
  • Pengalaman Konsumen: Viskositas saus, losion, atau sampo secara langsung memengaruhi tekstur dan persepsi kualitas oleh konsumen.
  • Efisiensi Proses: Viskositas bahan kimia cair memengaruhi seberapa banyak energi yang dibutuhkan untuk memompa, mencampur, dan mengisinya ke dalam kemasan.

Memahami viskositas bukan hanya tentang mengukur “kekentalan”, tetapi tentang memahami bagaimana perilaku aliran suatu material akan memengaruhi setiap tahap dari produksi hingga penggunaan akhir.

Faktor Kunci yang Mempengaruhi Viskositas: Suhu, Tekanan, dan Laju Geser

Viskositas bukanlah nilai yang statis. Ia dapat berubah secara dramatis karena dipengaruhi oleh kondisi eksternal. Bagi seorang manajer QC, mengontrol faktor-faktor ini adalah kunci untuk mencapai konsistensi. Menurut pakar di BYK Instruments, produsen alat ukur terkemuka, “Faktor terpenting untuk diketahui atau dikontrol adalah: Suhu… Kecepatan atau laju geser… Waktu…”[1].

  • Suhu: Ini adalah faktor yang paling berpengaruh pada cairan. Umumnya, terdapat hubungan terbalik: saat suhu meningkat, viskositas cairan menurun. Peningkatan suhu memberikan lebih banyak energi kinetik pada molekul, memungkinkan mereka mengatasi gaya tarik antarmolekul dan mengalir lebih mudah. Perubahan suhu sekecil beberapa derajat saja dapat menyebabkan variasi viskositas yang signifikan, yang berpotensi menyebabkan batch produk ditolak.
  • Tekanan: Meskipun pengaruhnya lebih kecil dibandingkan suhu pada sebagian besar aplikasi, tekanan yang sangat tinggi dapat meningkatkan viskositas dengan memaksa molekul menjadi lebih berdekatan.
  • Laju Geser (Shear Rate): Ini adalah ukuran seberapa cepat suatu fluida digerakkan atau dideformasi. Saat Anda mengaduk cat atau memeras saus tomat dari botol, Anda menerapkan laju geser. Pengaruhnya sangat penting saat membedakan antara dua jenis fluida utama.

Fluida Newtonian vs. Non-Newtonian: Perbedaan Praktis di Industri

Memahami perbedaan antara fluida Newtonian dan non-Newtonian sangat penting untuk formulasi dan kontrol kualitas produk-produk kompleks.

  • Fluida Newtonian: Viskositasnya tetap konstan terlepas dari laju geser yang diterapkan. Contohnya termasuk air, minyak, dan pelarut sederhana. Tidak peduli seberapa cepat Anda mengaduknya, kekentalannya tidak berubah.
  • Fluida Non-Newtonian: Viskositasnya berubah tergantung pada laju geser. Sebagian besar produk industri, seperti cat, perekat, kosmetik, dan produk makanan, termasuk dalam kategori ini. Fluida ini bisa menjadi lebih encer saat digeser (shear-thinning) atau lebih kental (shear-thickening).

Wawasan Ahli: Mengapa Perilaku Non-Newtonian Penting

Seorang ahli kimia formulasi cat menjelaskan, “Kami merancang cat agar bersifat shear-thinning (pseudoplastik). Saat cat berada di dalam kaleng (laju geser rendah), kami ingin viskositasnya tinggi untuk mencegah pigmen mengendap. Namun, saat diaplikasikan dengan kuas (laju geser tinggi), viskositasnya harus turun drastis agar mudah menyebar dan membentuk lapisan tipis yang rata. Setelah diaplikasikan dan kuas diangkat (laju geser kembali rendah), viskositasnya harus cepat pulih untuk mencegah cat menetes di dinding. Mengontrol profil viskositas ini adalah kunci untuk produk cat yang berkualitas.”

Untuk pemahaman yang lebih mendalam tentang prinsip-prinsip ini, sumber daya akademis seperti University Guide to Rheology Principles dapat memberikan wawasan tambahan.

Mendiagnosis Masalah: Saat Viskositas Menjadi Akar Kegagalan Produk

Ketika viskositas tidak terkontrol, ia menjadi penyebab utama berbagai kegagalan produk yang mahal. Masalah-masalah ini sering kali baru terlihat setelah produk meninggalkan pabrik, menyebabkan penarikan produk dan merusak kepercayaan konsumen. Sebuah studi ilmiah yang diterbitkan di PubMed Central oleh U.S. National Institutes of Health (NIH) menegaskan bahwa formulasi seperti krim secara inheren tidak stabil. Para peneliti mencatat, “perubahan pH, viskositas, dan warna sering diamati, yang dapat membahayakan stabilitas dan kinerjanya”[2].

Gejala Umum Viskositas Tidak Stabil di Lini Produksi

Ketidakstabilan viskositas dapat muncul dalam berbagai bentuk selama proses produksi dan penyimpanan, yang masing-masing menandakan adanya masalah mendasar.

  • Inkonsistensi Tekstur: Krim kosmetik atau produk makanan mungkin terasa terlalu encer atau kental, memberikan pengalaman yang tidak seragam bagi konsumen.
  • Kesulitan Pemrosesan: Cairan yang tiba-tiba menjadi lebih kental dapat menyumbat nozel pengisi, memperlambat lini produksi, dan membebani motor pompa secara berlebihan.
  • Kinerja Aplikasi yang Buruk: Perekat mungkin tidak menyebar dengan benar, atau lapisan pelindung mungkin terlalu tebal atau tipis, yang menyebabkan kegagalan fungsional.

Sebagai contoh studi kasus singkat dari industri percetakan, viskositas tinta yang tidak stabil adalah masalah umum. Jika viskositas tinta terlalu rendah, ia dapat menyebar terlalu banyak, menyebabkan dot gain (titik cetak menjadi lebih besar dari yang seharusnya) dan gambar yang buram. Jika terlalu tinggi, transfer tinta ke media cetak menjadi tidak efisien, menghasilkan warna yang pucat dan tidak konsisten. Fluktuasi kecil dalam suhu di ruang cetak dapat menyebabkan perubahan viskositas ini, yang mengakibatkan pemborosan material yang signifikan dan penolakan seluruh batch cetakan.

Studi Kasus: Mengapa Produk Menggumpal atau Memisah?

Penggumpalan (agregasi) dan pemisahan fase (misalnya, creaming pada emulsi) adalah dua manifestasi paling umum dari ketidakstabilan produk, dan viskositas memainkan peran sebagai penjaga gerbang fisik untuk mencegahnya.

  • Penggumpalan dan Pengendapan (Suspensi): Dalam suspensi seperti cat atau beberapa obat cair, partikel padat terdispersi dalam cairan. Gravitasi secara konstan menarik partikel-partikel ini ke bawah. Hukum Stokes, sebuah prinsip dasar dalam dinamika fluida, secara sederhana menunjukkan bahwa laju pengendapan partikel berbanding terbalik dengan viskositas cairan di sekitarnya. Dengan kata lain, semakin tinggi viskositas, semakin lambat partikel mengendap. Jika viskositas turun dari waktu ke waktu (misalnya karena perubahan suhu), partikel akan mengendap lebih cepat, membentuk lapisan sedimen keras di dasar yang sulit untuk didispersikan kembali.
  • Pemisahan Fase (Emulsi): Emulsi, seperti losion atau mayones, adalah campuran dari dua cairan yang tidak dapat bercampur (misalnya, minyak dan air). Mereka secara inheren tidak stabil dan akan memisah seiring waktu. Untuk menjaga stabilitas, formulator sering kali menggunakan polimer hidrofilik atau bahan lain untuk meningkatkan viskositas fase kontinu (fase air dalam emulsi minyak dalam air). Viskositas yang lebih tinggi ini bertindak seperti jaring, secara fisik menghalangi tetesan minyak kecil untuk bergerak, bertabrakan, dan bergabung menjadi tetesan yang lebih besar yang pada akhirnya akan memisah sebagai lapisan minyak.

Ketika Anda melihat produk yang menggumpal atau memisah, itu adalah tanda visual bahwa struktur internal yang dirancang untuk menjaga stabilitasnya telah gagal, dan sering kali, perubahan viskositas yang tidak diinginkan adalah pelakunya.

Viskositas Sebagai Pilar Kontrol Kualitas (QC) di Lantai Produksi

Mengingat dampak kritis viskositas terhadap kualitas produk, menjadikannya pilar utama dalam program Quality Control (QC) bukanlah pilihan, melainkan keharusan. Seperti yang dinyatakan dalam publikasi industri CoatingsTech, “Viskositas adalah salah satu properti penentu dari sistem cat komersial dan selalu tercantum pada lembar data teknis untuk memastikan kontrol kualitas dan kinerja”[3]. Pendekatan ini berlaku di hampir semua industri yang menangani bahan kimia cair.

Membangun Program Pengujian Viskositas Rutin (SOP)

Kontrol yang efektif dimulai dengan prosedur yang terstandarisasi. Membangun Prosedur Operasi Standar (SOP) untuk pengujian viskositas memastikan bahwa pengukuran dilakukan secara konsisten, terlepas dari siapa operatornya atau kapan pengujian dilakukan. SOP yang kuat harus mencakup:

  1. Titik Kontrol Kritis: Tentukan pada tahap mana viskositas harus diukur. Ini biasanya mencakup:
    • Bahan Baku Masuk: Untuk memastikan konsistensi dari pemasok.
    • Selama Proses (In-Process): Setelah langkah-langkah pencampuran atau pemanasan yang kritis.
    • Produk Jadi: Sebagai tes rilis akhir sebelum pengemasan.
  2. Prosedur Pengukuran: Rincikan langkah-langkah yang tepat, termasuk persiapan sampel, suhu pengujian, jenis spindel/geometri yang digunakan, dan kecepatan rotasi.
  3. Spesifikasi dan Batas Toleransi: Tetapkan rentang viskositas yang dapat diterima untuk setiap titik kontrol.
  4. Tindakan Korektif: Jelaskan apa yang harus dilakukan jika hasil pengukuran berada di luar spesifikasi (misalnya, menyesuaikan formulasi, mengkarantina batch).

Data dari pengujian rutin ini harus dicatat dan dilacak dari waktu ke waktu, idealnya menggunakan control chart. Grafik ini secara visual menunjukkan variasi viskositas dari batch ke batch, memungkinkan tim QC untuk mengidentifikasi tren atau penyimpangan dari norma sebelum menjadi masalah besar.

Memilih Instrumen yang Tepat: Viskometer vs. Reometer

Memilih alat yang tepat untuk pekerjaan adalah hal yang fundamental. Meskipun istilah ini terkadang digunakan secara bergantian, viskometer dan reometer melayani tujuan yang berbeda.

FiturViskometer RotasionalReometer
Aplikasi UtamaKontrol Kualitas (QC) rutin, pemeriksaan cepatPenelitian & Pengembangan (R&D), analisis mendalam
Jenis DataBiasanya pengukuran viskositas pada satu titik atau beberapa titik (viskositas relatif)Profil reologi lengkap (viskositas vs. laju geser, suhu, waktu), modulus elastisitas & viskositas
Cocok UntukMemastikan konsistensi batch-ke-batch untuk fluida Newtonian dan non-NewtonianMengkarakterisasi fluida non-Newtonian yang kompleks, memprediksi perilaku pemrosesan, studi stabilitas
KompleksitasRelatif sederhana untuk dioperasikanMembutuhkan operator yang terlatih dan pemahaman reologi
BiayaLebih rendahSecara signifikan lebih tinggi

Untuk sebagian besar departemen QC di lantai produksi, viskometer rotasional yang andal adalah alat pilihan untuk memverifikasi bahwa produk berada dalam spesifikasi. Reometer, di sisi lain, adalah alat yang sangat diperlukan bagi tim R&D untuk merancang formulasi baru dan memecahkan masalah reologi yang kompleks.

Praktik Terbaik Pengukuran: Mengacu pada Standar Industri

Untuk memastikan data viskositas Anda akurat dan dapat diandalkan, sangat penting untuk mengikuti praktik terbaik dan mengacu pada standar industri yang diakui. BYK Instruments menekankan pentingnya kalibrasi dan kontrol parameter untuk pengukuran QC yang andal[1].

  • Kontrol Suhu: Karena suhu sangat memengaruhi viskositas, sampel harus selalu diukur pada suhu yang ditentukan dan konsisten. Gunakan penangas air (water bath) dengan kontrol suhu untuk menstabilkan sampel sebelum pengujian.
  • Kalibrasi Instrumen: Viskometer harus dikalibrasi secara teratur menggunakan cairan standar viskositas yang dapat dilacak ke standar nasional atau internasional.
  • Mengikuti Standar: Banyak industri memiliki metode pengujian standar yang diterbitkan oleh organisasi seperti ASTM International dan ISO. Mengikuti metode ini memastikan hasil Anda dapat dibandingkan dan dapat dipertahankan. Contohnya termasuk:

Dengan menerapkan program QC yang kuat berdasarkan SOP, pemilihan instrumen yang tepat, dan kepatuhan terhadap standar industri, Anda mengubah pengukuran viskositas dari sekadar angka menjadi alat yang ampuh untuk mengelola kualitas produk.

Strategi Formulasi & Proses Proaktif untuk Stabilitas Jangka Panjang

Kontrol kualitas yang reaktif—menangkap batch yang buruk—adalah penting, tetapi tujuan utamanya adalah mencegah batch yang buruk terjadi sejak awal. Ini membutuhkan pendekatan proaktif, di mana stabilitas viskositas dirancang ke dalam produk dari tingkat formulasi dan dikelola dengan cermat selama proses manufaktur.

Wawasan Ahli: Memilih Bahan Pengental yang Tepat

Seorang formulator kosmetik berbagi, “Pilihan bahan pengental (thickener) sangat bergantung pada aplikasi akhir. Untuk serum wajah yang jernih, saya mungkin memilih karbomer karena memberikan kejernihan dan tekstur yang elegan. Namun, karbomer sensitif terhadap pH. Untuk emulsi dengan rentang pH yang luas, gom xanthan adalah pilihan yang jauh lebih kuat karena stabilitasnya yang luar biasa di berbagai kondisi. Memahami pro dan kontra dari setiap kelas pengental adalah kunci untuk merancang produk yang stabil.”

Merancang Stabilitas: Peran Bahan Pengental (Thickener) dan Stabilizer

Bahan pengental dan penstabil adalah aditif yang digunakan dalam jumlah kecil untuk memodifikasi reologi suatu produk secara signifikan, membangun struktur internal yang menahan perubahan dari waktu ke waktu.

  • Cara Kerja: Aditif ini bekerja dengan membentuk jaringan tiga dimensi di dalam cairan. Jaringan ini secara fisik menjerat partikel (dalam suspensi) atau tetesan (dalam emulsi), mencegahnya bergerak dan bergabung.
  • Pemilihan: Memilih pengental yang tepat sangat penting dan bergantung pada banyak faktor, termasuk kompatibilitas kimia, pH sistem, penampilan yang diinginkan (jernih vs. buram), dan profil reologi yang dibutuhkan.

Berikut adalah perbandingan sederhana dari beberapa jenis pengental umum:

Jenis PengentalContohKelebihanKekuranganAplikasi Umum
Polimer SintetisKarbomer (Carbopol)Efisiensi tinggi, memberikan kejernihanSensitif terhadap pH dan elektrolitGel, serum, losion
Polisakarida AlamiGom Xanthan, Guar GumStabil di rentang pH & suhu yang luasDapat menghasilkan tekstur yang sedikit “berserabut”, buramSaus makanan, emulsi kosmetik, produk industri
Turunan SelulosaHPMC, CMCMembentuk film, kontrol kelembabanViskositas dapat menurun pada suhu tinggiPerekat, farmasi, bahan bangunan
Tanah Liat (Clay)Bentonit, HectoriteMemberikan perilaku shear-thinning yang kuatDapat memengaruhi warna, membutuhkan energi geser tinggi untuk aktifCat, pelumas, kosmetik

Manajemen Suhu: Kunci Konsistensi dari Batch ke Batch

Kita telah membahas bagaimana suhu memengaruhi viskositas, tetapi penting untuk menekankan kembali hal ini dari perspektif kontrol proses. Variasi suhu yang tampaknya kecil selama produksi dapat menjadi penyebab utama inkonsistensi batch.

Pertimbangkan skenario berikut: Sebuah perusahaan memproduksi perekat di mana spesifikasi viskositasnya sangat ketat. Pada hari Senin, suhu sekitar di pabrik adalah 25°C, dan batch yang diproduksi berada tepat di tengah rentang spesifikasi. Pada hari Selasa, gelombang panas menaikkan suhu di area pencampuran menjadi 30°C. Meskipun formulasi dan prosesnya identik, viskositas produk akhir turun secara signifikan karena suhu yang lebih tinggi. Akibatnya, seluruh batch hari Selasa harus ditolak atau diolah ulang, menyebabkan kerugian waktu dan material.

Untuk mencegah hal ini, terapkan kontrol suhu yang ketat pada titik-titik kritis:

  • Penyimpanan Bahan Baku: Pastikan bahan baku yang sensitif terhadap suhu disimpan dalam kondisi yang terkontrol.
  • Tangki Pencampuran Berjaket: Gunakan tangki dengan jaket pemanas atau pendingin untuk menjaga suhu yang konsisten selama proses pencampuran.
  • Pemantauan Suhu: Pasang sensor suhu di seluruh lini produksi dan integrasikan dengan sistem alarm untuk memperingatkan operator jika suhu menyimpang dari set point.

Dengan merancang formulasi yang kuat dan mengelola variabel proses kritis seperti suhu, Anda dapat secara proaktif memastikan bahwa setiap batch produk memiliki viskositas yang konsisten dan stabil sepanjang umur simpannya.

Kesimpulan: Kuasai Viskositas, Kuasai Kualitas

Viskositas bukanlah sekadar angka pada laporan QC; ini adalah parameter dinamis yang mencerminkan kesehatan, stabilitas, dan kinerja produk kimia cair Anda. Dari tekstur losion di tangan konsumen hingga kemampuan cat untuk melapisi permukaan tanpa menetes, viskositas adalah penentu kualitas yang tak terlihat namun sangat terasa.

Kami telah melihat bahwa dengan memahami prinsip-prinsip dasar, Anda dapat mulai mengontrol hasilnya. Dengan mendiagnosis gejala seperti penggumpalan dan pemisahan, Anda dapat melacak akar masalahnya. Dengan menerapkan program QC yang ketat—menggunakan alat yang tepat dan mengacu pada standar industri—Anda mengubah viskositas menjadi pilar kontrol yang dapat diandalkan. Dan yang terpenting, dengan merancang formulasi dan proses secara proaktif, Anda membangun stabilitas ke dalam DNA produk Anda.

Menguasai viskositas adalah perjalanan dari pemahaman teoretis ke penerapan praktis di lantai pabrik. Terapkan prinsip-prinsip ini hari ini. Mulailah dengan meninjau SOP pengukuran viskositas Anda saat ini atau gunakan kerangka kerja pemecahan masalah kami untuk mengatasi tantangan yang paling mendesak. Dengan melakukannya, Anda akan selangkah lebih dekat untuk mencapai tujuan akhir: konsistensi produk yang sempurna, kepuasan pelanggan yang tak tergoyahkan, dan keunggulan operasional.

Untuk perusahaan yang ingin meningkatkan kontrol kualitas dan efisiensi operasional, memiliki instrumen pengukuran yang tepat adalah langkah fundamental. CV. Java Multi Mandiri adalah supplier dan distributor alat ukur dan uji yang berspesialisasi dalam melayani klien bisnis dan aplikasi industri. Kami memahami tantangan yang dihadapi di lantai produksi dan dapat membantu perusahaan Anda menemukan viskometer, reometer, dan peralatan QC lainnya yang sesuai dengan kebutuhan spesifik Anda. Untuk konsultasi solusi bisnis dan mendiskusikan kebutuhan perusahaan Anda, silakan hubungi tim ahli kami.

Informasi dalam artikel ini ditujukan untuk tujuan edukasi. Selalu konsultasikan dengan insinyur kimia yang berkualifikasi dan patuhi standar industri spesifik untuk proses produksi Anda.

Rekomendasi Alat Laboratorium

Referensi

  1. BYK Instruments. (N.D.). Guide to Viscosity Measurement. BYK-Gardner GmbH. Diakses dari https://www.byk-instruments.com/en/t/knowledge/viscometry-measurement
  2. Ferreira, M., et al. (2023). Rheology of Complex Topical Formulations: An Analytical Quality by Design Approach to Method Optimization and Validation. Pharmaceutics, 15(8), 2056. Diakses dari https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10385475/
  3. American Coatings Association. (2024, May/June). ASTM Standards for Measuring Viscosity. CoatingsTech. Diakses dari https://www.coatingstech-digital.org/coatingstech/may-june_2024/MobilePagedArticle.action?articleId=1971544

Main Menu