Distributor Resmi AMTAST di Indonesia

12 Penerbangan Terganggu Asap di Banjarmasin, Apa yang Perlu Diwaspadai Penumpang?

kabut tebal di area bandara yang mengakibatkan jadwal penerbangan tertunda dan perlu pemantauan reaktif menggunakan alat ukur kualitas udara

Rabu, 19 Agustus 2026, kabut asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melumpuhkan sementara operasional Bandara Internasional Syamsudin Noor, Banjarmasin. Sebanyak 12 penerbangan — 8 keberangkatan dan 4 kedatangan — tertunda setelah jarak pandang di landasan pacu anjlok hingga 350–400 meter [1][7]. Bagi penumpang yang akan bepergian dari dan ke Kalimantan Selatan selama musim kemarau ini, memahami mengapa asap bisa menghentikan penerbangan dan apa yang perlu diantisipasi menjadi krusial.

  1. Kronologi: 12 Penerbangan Terdampak di Syamsudin Noor
  2. Mengapa Asap Karhutla Bisa Menghentikan Penerbangan?
  3. Standar Jarak Pandang untuk Take Off dan Landing
  4. Data Kualitas Udara di Banjarmasin dan Banjarbaru
  5. Dampak Kesehatan Asap Karhutla bagi Penumpang
  6. Panduan Antisipasi bagi Penumpang
  7. Peran Pemantauan Visibilitas dan Kualitas Udara di Bandara
  8. Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
  9. Kesimpulan
  10. Referensi

Kronologi: 12 Penerbangan Terdampak di Syamsudin Noor

General Manager Bandara Internasional Syamsudin Noor, Stephanus Millyas Wardana, mengonfirmasi bahwa jarak pandang di runway sempat turun drastis pada pagi hari, dengan titik terendah 350 meter pada pukul 06.30 WITA sebelum berangsur membaik menjadi 900 meter pada pukul 08.30 WITA [7]. Empat penerbangan kedatangan tertunda — termasuk Citilink QG 484 dari Surabaya dan Super Air Jet IU 628 dari Jakarta — sementara delapan keberangkatan menuju Jakarta, Balikpapan, Surabaya, Semarang, dan Samarinda turut molor dari jadwal [2].

Kondisi ini bukan kejadian pertama pada musim kemarau 2026. Sebulan sebelumnya, pada 20 Juli 2026, enam penerbangan juga sempat delay karena visibility runway turun hingga 500 meter [1]. Dampak asap bahkan meluas ke bandara perintis: penerbangan Wings Air rute Banjarmasin–Muara Teweh dibatalkan dua hari berturut-turut karena jarak pandang hanya 1.000 meter, jauh di bawah standar keselamatan 5.000 meter yang disyaratkan untuk bandara berbasis visual [6].

Penumpang di terminal keberangkatan turut merasakan dampaknya secara langsung. Pihak bandara membagikan masker dan menyalakan blower di dalam terminal karena bau asap tercium hingga ke ruang tunggu [3].

Mengapa Asap Karhutla Bisa Menghentikan Penerbangan?

Asap karhutla terdiri dari partikel halus hasil pembakaran biomassa dan gambut yang menghamburkan cahaya, sehingga menurunkan jarak pandang horizontal secara signifikan — baik bagi pilot maupun petugas menara pengawas [8]. Berbeda dari kabut embun yang biasanya menghilang begitu matahari naik, asap karhutla cenderung bertahan lebih lama karena partikelnya lebih padat dan sering terperangkap di lapisan udara dekat permukaan saat kondisi atmosfer kering dan minim hujan [11].

Visibility bukan sekadar faktor kenyamanan, melainkan variabel keselamatan yang menentukan apakah pilot bisa melihat landasan, marka, dan lampu runway pada ketinggian keputusan tertentu sebelum mendarat [9]. Ketika jarak pandang berada di bawah minima yang ditetapkan, otoritas bandara wajib menahan keberangkatan maupun pendaratan demi mencegah risiko kecelakaan — sekalipun itu berarti penumpang harus menunggu berjam-jam.

Standar Jarak Pandang untuk Take Off dan Landing

Secara umum, jarak pandang yang dianggap aman untuk operasional penerbangan normal adalah di atas 5 kilometer; di bawah angka itu, keberangkatan berpotensi ditunda [8]. Untuk pendaratan dengan bantuan instrumen kategori dasar (ILS CAT I), standar internasional ICAO mensyaratkan jarak pandang minimal 800 meter atau Runway Visual Range (RVR) 550 meter [9]. Saat visibility di Syamsudin Noor menyentuh 350–400 meter, kondisi tersebut sudah berada di bawah ambang aman bagi mayoritas maskapai komersial yang beroperasi di bandara tersebut, sehingga penundaan menjadi keputusan wajar dari sisi keselamatan [1].

Situasi lebih ekstrem terjadi di bandara perintis seperti Muara Teweh, yang mengandalkan penerbangan visual murni tanpa instrumen presisi tinggi. Di sana, standar keselamatan mensyaratkan jarak pandang sekitar 5.000 meter — jauh lebih ketat dibanding bandara besar berinstrumen lengkap [6].

Data Kualitas Udara di Banjarmasin dan Banjarbaru

Bersamaan dengan turunnya visibility, BMKG mencatat konsentrasi partikulat halus PM2.5 di Banjarbaru sempat menembus 389,4 mikrogram per meter kubik — jauh melampaui ambang batas kategori berbahaya di angka 250,5 mikrogram per meter kubik [10]. Kondisi atmosfer yang kering tanpa hujan turut membuat partikel asap lebih sulit tersapu dan cenderung terkonsentrasi di dekat permukaan tanah, termasuk di area bandara [11].

Sebagai acuan, Kementerian Lingkungan Hidup mengklasifikasikan kualitas udara berdasarkan ISPU (Indeks Standar Pencemar Udara) sebagai berikut: Baik (0–50), Sedang (51–100), Tidak Sehat (101–200), Sangat Tidak Sehat (201–300), dan Berbahaya (di atas 300) [12]. Ketika ISPU sudah masuk kategori berbahaya, otoritas kesehatan biasanya merekomendasikan warga membatasi aktivitas luar ruangan sepenuhnya — bukan sekadar mengurangi.

Dampak Kesehatan Asap Karhutla bagi Penumpang

Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan mencatat lonjakan tajam kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), mencapai 7.995 kasus hingga Juli 2026 — hampir dua kali lipat dibanding periode yang sama tahun 2025, dengan Banjarmasin, Banjarbaru, dan Kabupaten Banjar sebagai wilayah paling terdampak [13]. Data mingguan sebelumnya bahkan mencatat 6.329 kasus ISPA hanya dalam sepekan (19–25 Juli 2026), naik 20,1 persen dari pekan sebelumnya [14].

Paparan PM2.5 berisiko tinggi bagi kelompok rentan: bayi dan balita, anak-anak, ibu hamil, lansia, serta penderita asma, penyakit paru, dan penyakit jantung [15]. Bagi penumpang yang harus menunggu berjam-jam di terminal saat kabut asap pekat, gejala seperti iritasi mata, tenggorokan gatal, batuk, dan sesak napas ringan cukup umum dilaporkan [15]. Perempuan hamil juga menghadapi risiko tambahan berupa komplikasi kehamilan dan gangguan tumbuh kembang janin akibat paparan partikel halus dalam waktu lama [14].

Panduan Antisipasi bagi Penumpang

Pihak Bandara Syamsudin Noor secara konsisten mengeluarkan imbauan yang sama setiap kali kabut asap muncul: tiba di bandara 3 jam sebelum keberangkatan, selesaikan check-in 2 jam sebelumnya, dan sudah berada di ruang tunggu 1 jam sebelum jadwal terbang [5]. Berikut ringkasan langkah praktis bagi penumpang selama musim asap:

  • Pantau visibility dan ISPU pagi hari. Gangguan penerbangan akibat asap paling sering terjadi antara pukul 05.00–09.00 WITA, saat udara dingin menahan asap dekat permukaan [7].
  • Siapkan masker standar (N95/KN95). Masker kain biasa kurang efektif menyaring PM2.5 yang berukuran sangat halus [15].
  • Datang lebih awal dan cek status penerbangan secara berkala melalui aplikasi maskapai atau informasi resmi bandara, bukan hanya mengandalkan jadwal cetak [5].
  • Waspadai rute ke bandara perintis seperti Muara Teweh, Kotabaru, atau bandara visual lain yang lebih rentan dibatalkan total dibanding bandara berinstrumen lengkap [6].
  • Perhatikan kondisi kesehatan pribadi, terutama bagi penumpang dengan riwayat asma, gangguan jantung, atau ibu hamil, dan pertimbangkan konsultasi medis bila gejala pernapasan memburuk [15].

Peran Pemantauan Visibilitas dan Kualitas Udara di Bandara

Kasus Syamsudin Noor menunjukkan betapa pentingnya data visibility dan kualitas udara yang akurat dan real-time dalam pengambilan keputusan operasional bandara. Data pada tabel jam-per-jam yang dirilis pihak bandara — dari 1.000 meter pukul 05.30 WITA hingga sempat 350 meter pukul 06.30 WITA [7] — hanya bisa diperoleh dari instrumen pemantau visibilitas otomatis (visibility sensor/transmissometer) yang terpasang di sekitar runway, dipadukan dengan data BMKG.

Di luar sektor penerbangan, prinsip pemantauan yang sama juga relevan untuk kawasan industri, perkebunan, dan area permukiman yang berada di jalur sebaran asap karhutla. Kombinasi pemantau visibilitas, pemantau kualitas udara (PM2.5/PM10/ISPU), dan data logger cuaca yang mencatat kelembapan, suhu, serta arah angin secara kontinu memungkinkan tim K3 atau HSE di lapangan mendapatkan peringatan dini sebelum kondisi memburuk hingga mengganggu operasional — baik itu penerbangan, aktivitas tambang, maupun kegiatan luar ruang lainnya. Sistem seperti ini membantu institusi mengambil keputusan berbasis data, bukan hanya observasi visual, dalam menentukan kapan aktivitas perlu dihentikan sementara demi keselamatan.

Kesimpulan

Gangguan 12 penerbangan di Bandara Syamsudin Noor pada 19 Agustus 2026 menegaskan bahwa asap karhutla bukan sekadar isu kenyamanan visual, melainkan ancaman nyata terhadap keselamatan penerbangan dan kesehatan publik secara bersamaan. Selama musim kemarau di Kalimantan masih berlangsung, potensi delay maupun pembatalan penerbangan tetap terbuka, terutama pada jam-jam pagi. Penumpang yang memahami standar visibility, memantau data kualitas udara, dan mempersiapkan diri lebih awal akan jauh lebih siap menghadapi kondisi ini dibanding yang hanya mengandalkan jadwal tercetak di tiket.

FAQ

Berapa jarak pandang minimum agar pesawat bisa mendarat?

Untuk pendaratan berinstrumen kategori dasar (ILS CAT I), standar ICAO mensyaratkan jarak pandang minimal 800 meter atau RVR 550 meter [9]. Di bawah itu, otoritas bandara umumnya menunda operasional.

Kenapa asap karhutla lebih mengganggu penerbangan dibanding kabut biasa?

Partikel asap karhutla lebih padat dan bertahan lebih lama di udara kering, sehingga menurunkan visibility secara lebih signifikan dan tidak mudah hilang meski matahari sudah naik [11].

Apakah aman bepergian melalui Bandara Syamsudin Noor saat musim asap?

Aman selama penumpang mengikuti imbauan bandara — datang lebih awal, memantau status penerbangan, dan menggunakan masker — karena keputusan penundaan justru diambil untuk mencegah risiko, bukan mengabaikannya [5].

Bagaimana cara memantau kualitas udara sebelum ke bandara?

Penumpang bisa memeriksa nilai ISPU melalui situs Kementerian Lingkungan Hidup atau aplikasi pemantau kualitas udara sebelum berangkat, terutama pada pagi hari saat risiko asap tertinggi [12].

Rekomendasi Alat Penghitung Partikel

Referensi

  1. Tribunnews Banjarmasin. (2026). Kabut Asap, 12 Penerbangan di Bandara Syamsudin Noor Kalsel Delay, Jarak Pandang di Runway 400 Meter. Diakses dari https://banjarmasin.tribunnews.com/kalsel/1372644/12-penerbangan-di-bandara-syamsudin-noor-kalsel-delay-jarak-pandang-di-runway-sempat-400-meter
  2. detikKalimantan. (2026). 12 Penerbangan Terdampak Akibat Asap Karhutla di Banjarbaru Kalsel. Diakses dari https://news.detik.com/berita/d-8625148/12-penerbangan-terdampak-akibat-asap-karhutla-di-banjarbaru-kalsel
  3. Kompas.com. (2026). Cerita Penumpang di Bandara Syamsudin Noor Terjebak Kabut Asap: Rugi Waktu dan Takut Kena ISPA. Diakses dari https://regional.kompas.com/read/2026/08/19/142654778/cerita-penumpang-di-bandara-syamsudin-noor-terjebak-kabut-asap-rugi-waktu
  4. Kompas.com. (2026). Bandara Syamsudin Noor Banjarbaru Diselimuti Kabut Asap 4 Jam, 12 Penerbangan Terdampak. Diakses dari https://regional.kompas.com/read/2026/08/19/114659278/bandara-syamsudin-noor-banjarbaru-diselimuti-kabut-asap-4-jam-12
  5. CNN Indonesia. (2026). Asap Karhutla Ganggu Penerbangan, 12 Pesawat Terdampak di Banjarbaru. Diakses dari https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260819141843-92-1393994/asap-karhutla-ganggu-penerbangan-12-pesawat-terdampak-di-banjarbaru
  6. Liputan6.com. (2026). Imbas Kabut Asap Tebal, Penerbangan ke Muara Teweh Batal 2 Hari. Diakses dari https://www.liputan6.com/news/read/8274347/imbas-kabut-asap-tebal-penerbangan-ke-muara-teweh-batal-2-hari
  7. Newsway.co.id. (2026). Kabut Asap Kepung Bandara, 12 Penerbangan Terdampak Kabut Asap, Visibility Sempat Turun ke 350 Meter. Diakses dari https://newsway.co.id/kabut-asap-kepung-bandara-12-penerbangan-terdampak-kabut-asap-visibility-sempat-turun-ke-350-meter/
  8. Universitas Islam Riau. (2019). Deteksi, Jarak Pandang Aman Sebagai Keselamatan Penerbangan. Diakses dari https://uir.ac.id/deteksi-jarak-pandang-aman-sebagai-keselamatan-penerbangan.html
  9. Winterfervent. (2015). Batasan Cuaca Pendaratan (Approach Weather Limitation). Diakses dari http://winterfervent.blogspot.com/2015/11/batasan-cuaca-pendaratan-approach.html
  10. CNN Indonesia. (2026). Asap Pekat dan Ribuan Titik Panas Karhutla Kepung Kalimantan. Diakses dari https://www.cnnindonesia.com/nasional/20260820105706-20-1394346/asap-pekat-dan-ribuan-titik-panas-karhutla-kepung-kalimantan
  11. Tirto.id. (2026). Titik Karhutla di Kalimantan yang Sebabkan Kabut Asap. Diakses dari https://tirto.id/titik-karhutla-di-kalimantan-yang-sebabkan-kabut-asap-hBvZ
  12. CNN Indonesia. (2026). Asap Karhutla Kalsel Begitu Pekat, Polisi Gelar Salat Istisqa. Diakses dari https://www.cnnindonesia.com/nasional/20260819155507-20-1394080/asap-karhutla-kalsel-begitu-pekat-polisi-gelar-salat-istisqa
  13. RRI.co.id. (2026). Kasus ISPA di Kalsel Meningkat akibat Kabut Asap Karhutla. Diakses dari https://rri.co.id/banjarmasin/berita-video/47037/kasus-ispa-di-kalsel-meningkat-akibat-kabut-asap-karhutla
  14. Mongabay Indonesia. (2026). Karhutla Melanda Kalimantan Selatan, Perempuan Hadapi Dampak Berlapis. Diakses dari https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/karhutla-melanda-kalimantan-selatan-perempuan-hadapi-dampak-berlapis/
  15. Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah. (2026). Dampak Karhutla Bagi Kesehatan: Kualitas Udara Menurun, Aktivitas Terganggu, Kesehatan Terancam. Diakses dari https://dishut.kalteng.go.id/berita/dampak-karhutla-bagi-kesehatan-kualitas-udara-menurun-aktivitas-terganggu-kesehatan-terancam/

Main Menu