Distributor Resmi AMTAST di Indonesia

Kapan Pantau Aktivitas Air dan Kadar Air untuk Ikan Kaleng

Aw meter and moisture analyzer side by side on lab bench with open tuna can, showing water activity and moisture readings for canned fish quality.

Anda adalah produsen ikan kaleng yang telah mengukur kadar air secara rutin. Anda mematuhi standar, menjalankan prosedur, dan yakin produk Anda aman. Namun, suatu hari Anda menghadapi keluhan: tekstur lembek, off-flavor, bahkan temuan mikroba pada produk yang baru saja didistribusikan. Anda memeriksa data kadar air—semua dalam batas normal. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi?

Fenomena ini bukanlah anomali. Ini adalah konsekuensi dari salah satu kesalahan paling umum dalam industri pengalengan ikan di Indonesia: hanya mengukur kadar air tanpa memahami aktivitas air (Aw). Kedua parameter ini sering dianggap sama atau dipertukarkan, padahal secara fundamental berbeda dan memiliki peran yang saling melengkapi dalam menjamin keamanan dan mutu produk.

Artikel ini adalah panduan komprehensif pertama yang mengintegrasikan pemahaman tentang aktivitas air dan kadar air secara spesifik untuk industri ikan kaleng. Anda akan mempelajari perbedaan mendasar keduanya, kapan dan mengapa masing-masing parameter harus dipantau di setiap titik kritis produksi, serta bagaimana memilih alat ukur yang tepat sesuai kebutuhan pabrik Anda. Mari kita mulai dengan memahami dasar-dasarnya.

  1. Perbedaan Fundamental: Aktivitas Air (Aw) vs Kadar Air
    1. Apa Itu Aktivitas Air (Aw)?
    2. Apa Itu Kadar Air?
    3. Mengapa Kadar Air Sama Tidak Berarti Aw Sama?
  2. Mengapa Kedua Parameter Krusial untuk Keamanan dan Mutu Ikan Kaleng?
    1. Risiko Mengabaikan Aktivitas Air
    2. Risiko Mengabaikan Kadar Air
    3. Sinergi Aw dan Kadar Air dalam HACCP
  3. Kapan Harus Memantau Aktivitas Air? Titik Kritis Sepanjang Rantai
    1. Penerimaan Bahan Baku Ikan Segar/Beku
    2. Setelah Proses Exhausting (90-100°C, 10-15 menit)
    3. Setelah Sterilisasi Akhir
    4. Selama Penyimpanan dan Sebelum Distribusi
  4. Kapan Harus Memantau Kadar Air? Titik Kritis dan Alat Ukur
    1. Penerimaan Bahan Baku dan Setelah Exhausting
    2. Setelah Pengisian Saus/Minyak dan Sterilisasi
  5. Alat Ukur yang Tersedia di Indonesia: Water Activity Meter vs Moisture Analyzer
    1. Water Activity Meter: Prinsip Kerja dan Pilihan Merek
    2. Moisture Analyzer: AMTAST MB62 sebagai Solusi Cepat dan Terjangkau
  6. Masalah Umum Akibat Monitoring Tidak Tepat dan Solusinya
    1. Kerusakan Akibat Aktivitas Air Tinggi
    2. Kualitas Rendah Akibat Kadar Air Tidak Terkontrol
    3. Masalah Kelembaban dalam Penyimpanan dan Distribusi
  7. Kesimpulan
  8. Referensi

Perbedaan Fundamental: Aktivitas Air (Aw) vs Kadar Air

Kadar air dan aktivitas air adalah dua parameter yang sama-sama mengukur air dalam produk, namun dari perspektif yang sangat berbeda. Jika dianalogikan seperti sebuah kolam renang, kadar air adalah ukuran total volume air di dalam kolam, sedangkan aktivitas air adalah ukuran seberapa mudah air tersebut dapat digunakan oleh perenang (dalam hal ini, mikroorganisme).

Kadar air mengukur total kandungan air dalam bahan pangan, termasuk air yang terikat kuat dengan molekul protein, karbohidrat, dan lemak. Air yang terikat ini tidak tersedia bagi mikroorganisme untuk pertumbuhan atau bagi reaksi kimia yang menyebabkan kerusakan. Sementara itu, aktivitas air (Aw) adalah ukuran termodinamika yang menunjukkan jumlah air bebas—air yang tidak terikat dan dapat dimanfaatkan oleh mikroba, enzim, dan reaksi kimia. Skala Aw berkisar dari 0 (benar-benar kering) hingga 1,0 (air murni) [1].

Yang membingungkan banyak produsen adalah fakta bahwa kadar air dan aktivitas air tidak selalu berkorelasi linear. Dua produk dengan kadar air yang sama persis dapat memiliki aktivitas air yang sangat berbeda, tergantung pada bagaimana air berinteraksi dengan komponen padatan dalam produk. Hubungan non-linear ini digambarkan melalui kurva isoterm sorpsi air, yang menunjukkan fenomena histeresis—di mana kadar air pada proses pengeringan (desorpsi) berbeda dengan pada proses penyerapan air (absorpsi) pada nilai Aw yang sama [1].

Untuk penjelasan teknis lebih mendalam tentang prinsip aktivitas air, Anda dapat merujuk pada Panduan Teknis FDA tentang Aktivitas Air (Aw) dalam Pangan.

Apa Itu Aktivitas Air (Aw)?

Secara termodinamika, aktivitas air didefinisikan sebagai rasio tekanan uap air dalam produk terhadap tekanan uap air murni pada suhu yang sama. Dalam praktiknya, Aw setara dengan kelembaban relatif kesetimbangan (Equilibrium Relative Humidity/ERH) dibagi 100. Jadi, jika ERH suatu produk adalah 75%, maka Aw-nya adalah 0,75.

Skala Aw dari 0 hingga 1,0 memberikan informasi langsung tentang potensi pertumbuhan mikroba:

  • Bakteri membutuhkan Aw minimal 0,91 untuk tumbuh
  • Khamir membutuhkan Aw 0,80–0,90
  • Kapang membutuhkan Aw 0,60–0,70 [1]

Ikan segar memiliki Aw sekitar 0,99, yang berarti ia sangat rentan terhadap pertumbuhan bakteri. Produk dianggap stabil secara mikrobiologis jika Aw berada di bawah 0,85, di mana sebagian besar bakteri patogen tidak dapat berkembang [1].

Apa Itu Kadar Air?

Kadar air adalah persentase total kandungan air dalam suatu bahan pangan, dihitung berdasarkan berat basah atau berat kering. Metode standar untuk mengukur kadar air adalah metode oven pada suhu 105°C sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI), di mana sampel dipanaskan hingga beratnya konstan dan kehilangan berat dihitung sebagai kadar air.

Dalam konteks ikan kaleng, SNI 8222:2016 secara implisit mengatur kadar air melalui persyaratan bobot tuntas minimum 50% dari berat kaleng [2]. Ini berarti bahwa kandungan padatan (termasuk daging ikan) harus minimal setengah dari total berat isi, sehingga secara tidak langsung membatasi jumlah air yang dapat ditambahkan melalui saus atau medium lainnya.

Meskipun penting untuk konsistensi produk dan kepatuhan regulasi, kadar air memiliki keterbatasan fundamental: ia tidak memberikan informasi tentang ketersediaan air untuk mikroorganisme.

Mengapa Kadar Air Sama Tidak Berarti Aw Sama?

Inilah titik kritis yang sering tidak dipahami. Dua produk dapat memiliki kadar air yang identik namun aktivitas air yang sangat berbeda. Mengapa? Karena air dalam produk pangan tidak semuanya dalam bentuk bebas. Air terbagi menjadi tiga fraksi berdasarkan energi ikatannya: Air Terikat Primer (ATP), Air Terikat Sekunder (ATS), dan Air Terikat Tersier (ATT) [1].

Produk dengan kandungan gula, garam, atau protein tinggi dapat mengikat air lebih kuat, sehingga meskipun kadar airnya tinggi, Aw-nya bisa rendah. Sebaliknya, produk dengan sedikit zat pengikat air mungkin memiliki Aw yang lebih tinggi pada kadar air yang sama. Inilah sebabnya mengapa mengandalkan kadar air saja untuk menilai keamanan produk adalah strategi yang berisiko.

Penelitian oleh Prof. Soewarno T. Soekarto dan Dr. Dede R. Adawiyah dari IPB University menegaskan bahwa pengukuran aktivitas air (Aw), kadar air (M), dan suhu transisi gelas (Tg) bersifat saling melengkapi untuk menganalisis fraksi air terikat dalam produk pangan [1].

Mengapa Kedua Parameter Krusial untuk Keamanan dan Mutu Ikan Kaleng?

Ikan kaleng termasuk dalam kategori pangan low-acid (pH di atas 4,6), yang berarti ancaman utama adalah bakteri patogen seperti Clostridium botulinum yang memproduksi spora tahan panas. Untuk menjamin keamanan, produk harus menjalani sterilisasi komersial—proses pemanasan pada suhu hingga 130°C yang cukup untuk mengeliminasi semua mikroorganisme patogen.

SNI 8222:2016 Pasal 3.2 mendefinisikan produk ikan kaleng sebagai “produk yang dikemas dalam kaleng yang ditutup secara hermetis dan menerima perlakuan proses yang cukup untuk menjamin sterilitas komersial” [2]. Sterilitas komersial ini sangat bergantung pada pengendalian aktivitas air, karena spora bakteri lebih sulit dimatikan jika Aw terlalu tinggi.

Standar internasional Codex Alimentarius untuk sarden dan produk sejenis dalam kaleng (CXS 94-1981) juga mewajibkan proses hermetis dan sterilitas komersial, yang mengacu pada Recommended International Code of Hygienic Practice for Low-Acid and Acidified Low-Acid Canned Foods (CAC/RCP 23-1979) [3]. Standar ini menekankan bahwa pengendalian aktivitas air merupakan bagian integral dari sistem HACCP untuk produk pangan kaleng low-acid.

Untuk referensi internasional yang lebih lengkap, Anda dapat mengakses Standar Codex Alimentarius untuk Sarden dan Produk Sejenis dalam Kaleng (CXS 94-1981). Sementara itu, untuk konteks regulasi nasional, Skema Sertifikasi SNI 8222:2016 Sarden dan Makerel Kaleng dari DKP Lampung memberikan gambaran operasional tentang penerapan standar ini di Indonesia.

Risiko Mengabaikan Aktivitas Air

Ketika produsen hanya mengandalkan pengukuran kadar air, mereka buta terhadap ancaman mikrobiologis yang sebenarnya. Beberapa risiko spesifik meliputi:

  • Pertumbuhan mikroorganisme termofilik. Bakteri membutuhkan Aw minimal 0,91 untuk tumbuh. Jika setelah sterilisasi Aw produk masih di atas 0,91, spora bakteri termofilik yang mungkin bertahan dapat bergerminasi dan menyebabkan kerusakan selama penyimpanan, terutama pada suhu tropis Indonesia.
  • Kebocoran mikro (micro-leak). Kaleng yang tampak utuh mungkin memiliki kebocoran sangat kecil yang tidak terlihat. Kebocoran ini memungkinkan masuknya air dan mikroba dari lingkungan, menaikkan Aw lokal di dalam kaleng, dan memicu pertumbuhan mikroba.
  • Kondensasi internal. Fluktuasi suhu selama transportasi dan penyimpanan—yang sangat umum terjadi di iklim tropis—dapat menyebabkan kondensasi di dalam kaleng. Air kondensasi ini menciptakan kantong Aw tinggi yang ideal untuk pertumbuhan mikroba, meskipun kadar air rata-rata produk masih dalam batas normal.

Data dari jurnal ilmiah Indonesia tentang analisis Critical Control Point (CCP) pada produksi ikan kaleng menegaskan bahwa monitoring aktivitas air merupakan titik kritis yang harus dipantau secara ketat untuk mencegah kegagalan sterilisasi dan kontaminasi pasca-proses [4].

Risiko Mengabaikan Kadar Air

Meskipun Aw lebih kritis untuk keamanan mikrobiologis, mengabaikan kadar air juga membawa risiko tersendiri:

  • Tekstur lembek dan off-flavor. Kadar air yang terlalu tinggi menyebabkan daging ikan menjadi lembek dan kehilangan tekstur khasnya. Ini adalah cacat mutu yang sering dikeluhkan konsumen dan dapat menurunkan reputasi merek.
  • Bobot tuntas tidak sesuai SNI. SNI 8222:2016 mensyaratkan bobot tuntas minimum 50%. Jika kadar air terlalu tinggi akibat bahan baku tidak segar atau proses exhausting yang tidak optimal, produsen berisiko melanggar standar dan menghadapi sanksi regulasi [2].
  • Pengenceran saus atau minyak. Kadar air yang berlebih dari ikan dapat mengencerkan saus atau minyak yang ditambahkan, mengubah profil rasa dan konsistensi produk akhir.

Sinergi Aw dan Kadar Air dalam HACCP

Dalam sistem HACCP, kedua parameter air memiliki peran yang saling melengkapi. Aktivitas air terutama berfungsi sebagai CCP untuk keamanan mikrobiologis—memastikan bahwa produk setelah sterilisasi memiliki Aw yang cukup rendah untuk mencegah pertumbuhan spora yang mungkin bertahan. Kadar air, di sisi lain, berfungsi sebagai parameter untuk mutu fisik dan kepatuhan terhadap standar SNI.

Kedua parameter harus diintegrasikan dalam rencana HACCP yang komprehensif. Mengacu pada CAC/RCP 23-1979, pengendalian Aw harus menjadi bagian dari sistem pengawasan proses sterilisasi, sementara kadar air harus dipantau pada tahap penerimaan bahan baku dan setelah exhausting [3].

Kapan Harus Memantau Aktivitas Air? Titik Kritis Sepanjang Rantai

Pengukuran aktivitas air pada ikan kaleng perlu dilakukan pada beberapa titik kritis sepanjang rantai produksi dan distribusi. Berikut adalah panduan spesifik berdasarkan analisis CCP dari industri pengalengan [4]:

Penerimaan Bahan Baku Ikan Segar/Beku

Ikan segar memiliki Aw sekitar 0,99. Pengukuran Aw pada tahap ini memberikan data baseline yang penting untuk konsistensi proses. Jika Aw bahan baku sudah sangat tinggi atau menunjukkan variasi yang signifikan antar batch, proses exhausting perlu disesuaikan untuk memastikan penurunan Aw yang memadai.

Setelah Proses Exhausting (90-100°C, 10-15 menit)

Ini adalah titik kritis pertama. Proses exhausting bertujuan untuk mengeluarkan udara dan uap air dari dalam kaleng sebelum penutupan hermetis. Setelah tahap ini, Aw ikan harus turun secara signifikan dari ~0,99 menjadi nilai di bawah 0,95—idealnya lebih rendah. Jika Aw setelah exhausting masih tinggi, risiko sterilisasi gagal membunuh spora bakteri meningkat drastis.

Setelah Sterilisasi Akhir

Pengukuran Aw pada produk jadi setelah sterilisasi berfungsi sebagai verifikasi bahwa proses telah memadai. Produk ikan kaleng yang telah disterilisasi dengan benar seharusnya memiliki Aw yang cukup rendah untuk menjamin stabilitas mikrobiologis selama penyimpanan. Aw yang terlalu tinggi mengindikasikan bahwa proses sterilisasi kurang atau ada masalah dengan integritas kaleng.

Selama Penyimpanan dan Sebelum Distribusi

Monitoring sampel acak dari produk yang disimpan di gudang sangat penting untuk mendeteksi kebocoran mikro atau kondensasi internal yang mungkin terjadi. Frekuensi pengukuran dapat disesuaikan berdasarkan riwayat mutu: untuk produsen dengan rekam jejak mutu baik, pengukuran bulanan mungkin cukup; untuk produsen yang pernah mengalami masalah, frekuensi mingguan lebih disarankan.

Kapan Harus Memantau Kadar Air? Titik Kritis dan Alat Ukur

Penerimaan Bahan Baku dan Setelah Exhausting

Kadar air awal ikan mempengaruhi berapa lama waktu exhausting yang diperlukan untuk mencapai penurunan yang diinginkan. Di sinilah alat moisture analyzer seperti AMTAST MB62 sangat berguna. Dengan prinsip thermogravimetri, alat ini dapat memberikan hasil pengukuran kadar air dalam hitungan menit, memungkinkan penyesuaian proses secara real-time.

Untuk panduan lebih lanjut tentang pengendalian kadar air pada produk ikan, Anda dapat merujuk pada Panduan FDA: Pengendalian Bahaya pada Produk Ikan dan Perikanan (Bab 14 – Pengeringan).

Setelah Pengisian Saus/Minyak dan Sterilisasi

Setelah sterilisasi, kadar air total produk mencakup kontribusi dari daging ikan dan medium (saus atau minyak). Pemeriksaan keseragaman kadar air antar batch penting untuk konsistensi mutu. Alat moisture analyzer portabel seperti AMTAST MB62 memudahkan pemeriksaan ini di area produksi tanpa harus menunggu hasil dari laboratorium.

Penting untuk dicatat: AMTAST MB62 adalah moisture analyzer (pengukur kadar air), bukan water activity meter. Alat ini mengukur persentase total air dalam sampel melalui metode pemanasan, bukan mengukur ketersediaan air bebas. Oleh karena itu, alat ini sangat cocok untuk monitoring mutu fisik harian, tetapi tidak dapat menggantikan water activity meter untuk pengukuran keamanan mikrobiologis.

Alat Ukur yang Tersedia di Indonesia: Water Activity Meter vs Moisture Analyzer

Memahami perbedaan fungsi alat ukur adalah langkah penting dalam membangun sistem monitoring yang efektif. Berikut adalah perbandingan kedua jenis alat yang tersedia di pasar Indonesia.

Water Activity Meter: Prinsip Kerja dan Pilihan Merek

Water activity meter bekerja dengan mengukur kelembaban relatif kesetimbangan (ERH) dalam ruang tertutup berisi sampel. Dua metode utama yang digunakan adalah:

  • Metode titik embun (dew point): Dianggap sebagai gold standard karena akurasi tertinggi. Alat seperti Aqualab dan Novasina menggunakan metode ini. Cocok untuk laboratorium QC yang membutuhkan presisi tinggi.
  • Metode sensor kapasitansi: Lebih cepat dan portabel, namun akurasi sedikit lebih rendah. Merek seperti SISCO dan WA-60A termasuk dalam kategori ini. Cocok untuk pemeriksaan rutin di lini produksi.

Rentang harga water activity meter di Indonesia berkisar dari Rp 5 juta hingga Rp 30 juta tergantung fitur, akurasi, dan merek. Kalibrasi dan perawatan rutin sangat penting, terutama di iklim tropis yang lembab.

Untuk kebutuhan water activity-meter, berikut produk yang direkomendasikan:

Moisture Analyzer: AMTAST MB62 sebagai Solusi Cepat dan Terjangkau

AMTAST MB62 adalah moisture analyzer yang menggunakan prinsip thermogravimetri—sampel dipanaskan dan kehilangan berat diukur sebagai kadar air. Keunggulan utamanya adalah kecepatan pengukuran (dalam hitungan menit) dan kemudahan penggunaan, menjadikannya ideal untuk QC harian.

Dengan harga yang lebih terjangkau dibanding oven listrik laboratorium, AMTAST MB62 memberikan solusi praktis bagi produsen skala kecil dan menengah yang ingin meningkatkan frekuensi monitoring kadar air tanpa mengeluarkan biaya besar.

Namun, perlu ditekankan kembali: moisture analyzer tidak dapat mengukur aktivitas air. Untuk menjamin keamanan mikrobiologis produk, water activity meter tetap diperlukan.

Masalah Umum Akibat Monitoring Tidak Tepat dan Solusinya

Berdasarkan pengalaman di industri pengalengan Indonesia, berikut adalah masalah umum yang muncul akibat monitoring parameter air yang tidak tepat, beserta solusi praktisnya.

Kerusakan Akibat Aktivitas Air Tinggi

Gejala: Pertumbuhan mikroba (biasanya termofilik), tekstur lembek, off-flavor, perubahan warna, dan dalam kasus parah, kaleng menggembung.

Penyebab akar: Aw terlalu tinggi setelah sterilisasi, kebocoran mikro pada kaleng, atau kondensasi internal selama penyimpanan.

Solusi:

  • Perbaiki proses exhausting: pastikan suhu 90-100°C selama minimal 10 menit.
  • Verifikasi bahwa sterilisasi mencapai suhu yang cukup (minimal 121°C untuk produk low-acid).
  • Lakukan uji integritas kaleng secara acak.
  • Gunakan desikan (silika gel atau kalsium klorida) dalam kontainer pengiriman untuk menyerap kelembaban.
  • Pantau suhu penyimpanan dan distribusi untuk meminimalkan fluktuasi.

Kualitas Rendah Akibat Kadar Air Tidak Terkontrol

Gejala: Bobot tuntas di bawah SNI 50%, saus atau minyak encer, daging ikan lembek, perubahan rasa.

Penyebab akar: Bahan baku ikan dengan kadar air terlalu tinggi, exhausting tidak optimal, atau waktu sterilisasi terlalu lama.

Solusi:

  • Standarisasi kadar air bahan baku dengan pengukuran rutin saat penerimaan.
  • Optimasi waktu exhausting berdasarkan data kadar air bahan baku.
  • Kalibrasi moisture analyzer secara berkala untuk menjamin akurasi.
  • Dokumentasikan hubungan antara kadar air bahan baku dengan parameter proses untuk membangun database yang dapat digunakan untuk penyesuaian otomatis.

Masalah Kelembaban dalam Penyimpanan dan Distribusi

Gejala: Kondensasi di dalam kaleng (container rain), korosi kaleng internal, pertumbuhan jamur pada label, dan dalam kasus ekstrem, kaleng berkarat.

Penyebab akar: Fluktuasi suhu ekstrem selama transportasi dan penyimpanan di iklim tropis Indonesia.

Solusi:

  • Atur suhu penyimpanan yang stabil (idealnya 20-25°C).
  • Gunakan penghalang kelembaban (moisture barrier) pada kemasan sekunder.
  • Pasang indikator kelembaban dalam kontainer pengiriman.
  • Gunakan desikan yang sesuai dengan volume kontainer dan lama pengiriman.
  • Hindari penyimpanan di area dengan perubahan suhu drastis (misalnya dekat pintu gudang).

Untuk penjelasan lebih lanjut tentang fenomena kondensasi dalam kemasan kaleng, artikel Rahasia Kemasan Kaleng Produk Tetap Segar Lebih Lama memberikan wawasan yang berguna.

Kesimpulan

Aktivitas air dan kadar air adalah dua parameter yang saling melengkapi, bukan substitutif. Kadar air mengukur total air dalam produk dan penting untuk konsistensi mutu fisik serta kepatuhan terhadap SNI. Aktivitas air mengukur air bebas yang tersedia untuk mikroorganisme dan merupakan prediktor yang lebih akurat untuk keamanan mikrobiologis.

Produsen ikan kaleng harus memantau keduanya pada titik kritis yang tepat:

  • Aw pada penerimaan bahan baku, setelah exhausting, setelah sterilisasi, dan selama penyimpanan.
  • Kadar air pada penerimaan bahan baku, setelah exhausting, dan setelah sterilisasi.

Dengan memahami kapan dan mengapa masing-masing parameter diperlukan, produsen dapat membangun sistem monitoring yang komprehensif yang menjamin keamanan produk sesuai standar SNI dan internasional, sekaligus mempertahankan mutu yang konsisten.

CV. Java Multi Mandiri adalah supplier dan distributor alat ukur dan instrumentasi yang melayani kebutuhan bisnis dan industri di Indonesia, termasuk sektor pengalengan ikan. Kami menyediakan Alat Analisa Kelembaban AMTAST MB62 untuk pengukuran kadar air yang cepat dan akurat di lini produksi Anda, serta berbagai pilihan water activity meter untuk pengukuran aktivitas air. Dengan pengalaman melayani pelanggan industri, kami siap membantu perusahaan Anda mengoptimalkan sistem monitoring mutu dan memenuhi kebutuhan peralatan pengukuran. Hubungi tim kami untuk konsultasi solusi bisnis atau diskusikan kebutuhan perusahaan Anda secara lebih detail.

Rekomendasi Water Activity Meter

Referensi

  1. Soekarto, S.T., & Adawiyah, D.R. (2012). Keterkaitan Berbagai Konsep Interaksi Air dalam Produk Pangan [Interrelation on Water Interaction Concepts in Foods]. Jurnal Teknologi dan Industri Pangan, XXIII(1). Institut Pertanian Bogor. Retrieved from https://journal.ipb.ac.id/jtip/article/view/5303
  2. Badan Standardisasi Nasional. (2016). SNI 8222:2016 – Sarden dan Makerel dalam Kemasan Kaleng. Jakarta: BSN. Retrieved from https://pesta.bsn.go.id/produk/detail/10901-sni82222016
  3. Codex Alimentarius. (1981, dengan revisi hingga 2013). CODEX STAN 94-1981 – Standard for Canned Sardines and Sardine-Type Products. Food and Agriculture Organization/World Health Organization. Retrieved from https://www.fao.org/input/download/standards/108/CXS_094e.pdf
  4. Jurnal Teknologi Pangan dan Ilmu Pertanian. (n.d.). Analisa Critical Control Point (CCP) pada Produksi Ikan Kaleng. Retrieved from https://ejournal.unibabwi.ac.id/index.php/jipang
  5. U.S. Food and Drug Administration. (n.d.). Water Activity (aw) in Foods – Inspection Technical Guides. Retrieved from https://www.fda.gov/inspections-compliance-enforcement-and-criminal-investigations/inspection-technical-guides/water-activity-aw-foods
  6. U.S. Food and Drug Administration. (n.d.). Fish and Fishery Products Hazards and Controls Guidance – Chapter 14: Drying. Retrieved from https://www.fda.gov/files/food/published/Fish-and-Fishery-Products-Hazards-and-Controls-Guidance-Chapter-14-Download.pdf
  7. Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung. (2021). Skema Sertifikasi Produk Sarden dan Makarel Dalam Kemasan Kaleng (SNI 8222:2016). Retrieved from https://dkp.lampungprov.go.id/berkas/uploads/sarden_dan_makarel_des_2021_new_(revisi)_1.pdf

Main Menu