Distributor Resmi AMTAST di Indonesia

Faktor Lingkungan Pengalengan yang Mempengaruhi Pengukuran Kadar Air Ikan

Moisture analyzer testing canned fish samples on laboratory workbench with environmental monitoring tools and analytical balance for food quality control measurement.

Fluktuasi hasil pengukuran kadar air ikan kaleng merupakan salah satu tantangan paling umum yang dihadapi oleh tim Quality Control di industri pengalengan. Ketika hasil uji kadar air menunjukkan variasi yang tidak konsisten antar batch atau bahkan antar pengukuran dari sampel yang sama, kebingungan dan keraguan terhadap keandalan data menjadi masalah serius. Tanpa pemahaman yang mendalam tentang faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi akurasi pengukuran, teknisi laboratorium sering kali kesulitan mengidentifikasi akar penyebab fluktuasi tersebut.

Artikel ini menyajikan panduan komprehensif berbasis data riset dan standar industri yang menghubungkan secara langsung faktor lingkungan di lini produksi dan ruang uji dengan variasi hasil pengukuran kadar air menggunakan moisture analyzer. Dengan mengacu pada SNI 2354.2:2015, data penelitian dari Universitas Gadjah Mada, Jurnal Kalwedo Sains, panduan teknis METTLER TOLEDO dan OHAUS, serta standar internasional USDA FSIS, Anda akan memperoleh pemahaman yang utuh tentang faktor-faktor kritis yang perlu dikendalikan serta solusi praktis untuk meningkatkan akurasi dan repeatability pengujian kadar air di laboratorium QC industri pengalengan ikan. [1][2][3][4]

Pembahasan dimulai dari faktor lingkungan di lini produksi pengalengan, dilanjutkan dengan kondisi ruang uji, karakteristik sampel, strategi mitigasi error, dan diakhiri dengan perbandingan metode oven gravimetri versus moisture analyzer untuk aplikasi industri.

  1. Faktor Lingkungan di Lini Produksi Pengalengan yang Mempengaruhi Kadar Air Ikan
    1. Suhu dan Kelembaban Ruang Produksi
    2. Kadar Air Normal Ikan Kaleng Berdasarkan SNI dan Penelitian
    3. Proses Sterilisasi (Retort) dan Dampaknya pada Kadar Air
    4. Pengaruh Lama Penyimpanan Pasca-Produksi
  2. Faktor Lingkungan di Ruang Uji yang Mempengaruhi Akurasi Moisture Analyzer
    1. Suhu Ideal dan Kisaran Toleransi
    2. Kelembaban Relatif dan Kebutuhan Kalibrasi
  3. Pengaruh Karakteristik Sampel Ikan Kaleng terhadap Hasil Pengukuran
    1. Jenis Medium (Saus, Brine, Minyak) dan Pengaruhnya pada Penguapan
    2. Homogenitas Sampel dan Teknik Preparasi yang Tepat
    3. Pengaruh Lama Penyimpanan Sampel Sebelum Uji
  4. Strategi Praktis Meminimalisir Error Pengukuran Kadar Air Ikan Kaleng
    1. Kalibrasi Rutin dan Verifikasi dengan SmartCal
    2. Kontrol Lingkungan Ruang Uji
    3. Pemilihan Parameter Drying Profile yang Tepat
    4. Verifikasi Berkala Menggunakan Metode Oven Gravimetri SNI
  5. Perbandingan Metode: Oven Gravimetri SNI vs Moisture Analyzer untuk Industri Pengalengan
    1. Kapan Menggunakan Metode Oven dan Kapan Menggunakan Moisture Analyzer
    2. Rekomendasi Alat: Ohaus MB62 untuk Aplikasi Ikan Kaleng
  6. Kesimpulan
  7. Referensi

1. Faktor Lingkungan di Lini Produksi Pengalengan yang Mempengaruhi Kadar Air Ikan

Lingkungan produksi pengalengan ikan memiliki karakteristik yang sangat spesifik dan secara langsung mempengaruhi kadar air produk akhir. Memahami variabel-variabel ini menjadi langkah pertama yang krusial sebelum membahas akurasi alat ukur.

Suhu dan Kelembaban Ruang Produksi

Data penelitian dari Jurnal Marine and Coastal Science (2019) pada proses pengalengan di CV. Pasific Harvest Banyuwangi menunjukkan bahwa suhu ruang produksi tercatat rata-rata 27,3±0,44°C dengan suhu bahan baku saat penerimaan 2,8±0,34°C. [5] Sementara itu, suhu precooking mencapai 75,0±2,22°C dan suhu sterilisasi yang jauh lebih tinggi lagi.

Fluktuasi suhu dan kelembaban di area produksi ini tidak hanya mempengaruhi kualitas mikrobiologi produk, tetapi juga berdampak pada konsistensi kadar air. Penerapan Good Manufacturing Practices (GMP) dan Sanitation Standard Operating Procedures (SSOP) yang mencakup 9 kunci pokok—termasuk kondisi lingkungan pabrik, bangunan, peralatan, sanitasi, dan higiene pekerja—menjadi kerangka kerja yang harus dipenuhi untuk meminimalisir variabilitas yang tidak diinginkan.

Kelembaban relatif yang tinggi di lingkungan pabrik pengalengan, terutama di daerah tropis seperti Indonesia, menimbulkan tantangan tersendiri. Data dari SKZ Tester menunjukkan bahwa pada kondisi kelembaban di atas 80%, frekuensi kalibrasi ulang alat ukur meningkat hingga 30% lebih sering dibandingkan kondisi normal. [6] Hal ini berarti bahwa tanpa pengelolaan lingkungan yang baik, akurasi pengukuran kadar air dapat terganggu secara sistematis.

Kadar Air Normal Ikan Kaleng Berdasarkan SNI dan Penelitian

Penelitian yang dipublikasikan di Jurnal Kalwedo Sains (2022) oleh Martha Kaihena dan Abdul Mahid Ukratalo dari Universitas Pattimura memberikan data empiris yang sangat berharga mengenai kadar air ikan kaleng selama penyimpanan: [2]

Lama PenyimpananRata-rata Kadar AirPenurunan
7 hari64,91%
14 hari64,64%0,27%
21 hari62,53%2,38%

Data ini menunjukkan bahwa kadar air ikan kaleng mengalami penurunan yang signifikan secara statistik (uji ANOVA p<0,05) selama penyimpanan. Sementara itu, SNI 01-3548-1994 mengatur persyaratan mutu ikan sarden kaleng, dan SNI 2715:1996 menetapkan batas maksimal kadar air untuk produk perikanan tertentu. [7]

Bagi tim QC, data ini menjadi acuan penting: sampel ikan kaleng dari batch yang berbeda usia penyimpanan dapat memberikan hasil pengukuran yang berbeda meskipun diuji dengan alat yang sama dan dalam kondisi yang identik.

Proses Sterilisasi (Retort) dan Dampaknya pada Kadar Air

Sterilisasi menggunakan retort pada suhu tinggi merupakan tahapan kritis dalam proses pengalengan. Menurut Saraswati (2013) dan Sundari et al. (2015) yang dikutip dalam Jurnal Kalwedo Sains, kadar air pada bahan makanan mengalami penyusutan setelah proses pemasakan menggunakan suhu tinggi. [2]

Tinggi atau rendahnya penurunan kandungan air tergantung pada tiga faktor utama: jenis bahan pangan, suhu yang digunakan, dan lamanya proses pemasakan. Untuk produk ikan kaleng, kombinasi antara precooking dan sterilisasi menyebabkan penguapan air yang cukup signifikan, dan variasi kecil pada parameter proses ini dapat menghasilkan perbedaan kadar air yang terdeteksi oleh moisture analyzer.

Pengaruh Lama Penyimpanan Pasca-Produksi

Selama penyimpanan pasca-produksi, kadar air ikan kaleng terus mengalami penurunan karena migrasi uap air dari daging ikan ke ruang headspace kaleng dan berpotensi keluar melalui seam kaleng jika tidak sempurna. Data dari Jurnal Kalwedo Sains mengkonfirmasi bahwa penurunan kadar air dari hari ke-7 ke hari ke-21 mencapai 2,38% — angka yang sangat signifikan dalam konteks pengendalian mutu. [2]

Bagi laboratorium QC, implikasinya jelas: pengujian kadar air harus mempertimbangkan faktor usia produk. Standarisasi waktu pengujian sejak tanggal produksi menjadi langkah penting untuk memastikan data yang dapat diperbandingkan antar batch.

2. Faktor Lingkungan di Ruang Uji yang Mempengaruhi Akurasi Moisture Analyzer

Setelah memahami faktor produksi, langkah berikutnya adalah mengkaji kondisi lingkungan ruang uji (laboratorium QC). Faktor ini sering kali diabaikan, padahal dampaknya terhadap akurasi moisture analyzer sangat signifikan dan terukur.

Suhu Ideal dan Kisaran Toleransi

Panduan teknis resmi dari OHAUS Corporation—produsen global moisture analyzer—menyatakan bahwa suhu operasi ideal untuk moisture analyzer adalah 20°C dengan kelembaban relatif sekitar 50%. [3] Suhu ruang uji yang melebihi kisaran ini akan mempengaruhi stabilitas sistem pemanas dan penimbangan, yang berujung pada variasi hasil pengukuran.

Data dari SKZ Tester menambahkan bahwa fluktuasi suhu harian lebih dari 15°F (sekitar 8,3°C) cenderung mengganggu pengukuran hambatan listrik pada sensor, yang pada gilirannya mempengaruhi akurasi pembacaan kadar air. [6]

Di Indonesia, tantangannya nyata: suhu ruang laboratorium yang tidak dilengkapi AC dapat dengan mudah mencapai 28-32°C, jauh di luar kisaran ideal 20-25°C yang direkomendasikan oleh pabrikan.

Kelembaban Relatif dan Kebutuhan Kalibrasi

SmartCal™ User Guide yang diterbitkan oleh METTLER TOLEDO—substansi referensi bersertifikat untuk verifikasi moisture analyzer—menyediakan tabel koreksi ambient yang secara langsung mengkuantifikasi pengaruh suhu ruangan dan kelembaban relatif terhadap hasil pembacaan kadar air. Data dari tabel ini sangat mengejutkan: [1]

Suhu RuangRHKoreksi Diperlukan
20°C50%0,00% (referensi)
25°C80%+0,42%
30°C80%+1,47%

Angka +1,47% pada suhu 30°C dan RH 80% adalah koreksi yang sangat signifikan. Ini berarti bahwa jika moisture analyzer menunjukkan kadar air 64,91% pada kondisi lingkungan tersebut, nilai sebenarnya setelah dikoreksi adalah sekitar 63,44%—perbedaan yang dapat menyebabkan keputusan bisnis yang salah jika tidak diperhitungkan.

Sebagaimana dinyatakan dalam SmartCal User Guide: “The balance and heating module should be adjusted: when the moisture analyzer is operated for the first time, after changing the location of the instrument, after major changes to room temperature.” [1]

Panduan OHAUS juga menegaskan: “Because environmental changes can adversely affect the result of a moisture measurement, the moisture analyzer should typically be placed in a location where environmental factors (temperature, humidity, vibration, etc.) are as stable as possible.” [3]

Kesimpulannya, lingkungan ruang uji bukan sekadar faktor kenyamanan—ia adalah variabel kritis yang harus dikontrol dan dikompensasi untuk memperoleh hasil pengukuran yang akurat dan dapat direproduksi.

3. Pengaruh Karakteristik Sampel Ikan Kaleng terhadap Hasil Pengukuran

Karakteristik intrinsik sampel ikan kaleng—mulai dari jenis medium hingga homogenitas—memiliki pengaruh yang tidak kalah penting dibandingkan faktor lingkungan eksternal.

Jenis Medium (Saus, Brine, Minyak) dan Pengaruhnya pada Penguapan

Ikan kaleng tersedia dalam berbagai medium: saus tomat, brine (larutan garam), minyak, atau bahkan tanpa medium (natural). Setiap medium memiliki titik didih dan laju penguapan yang berbeda, yang secara langsung mempengaruhi proses pengeringan dalam moisture analyzer.

Medium saus tomat, misalnya, mengandung gula dan padatan terlarut yang meningkatkan titik didih dan memperlambat laju penguapan. Sebaliknya, medium brine memiliki titik didih yang lebih rendah. Medium minyak, dengan titik didih yang sangat tinggi, memerlukan pendekatan yang berbeda karena air terperangkap di dalam matriks minyak dan membutuhkan suhu yang lebih tinggi atau waktu pengeringan yang lebih lama untuk menguap sepenuhnya.

Penelitian optimasi parameter dari Universitas Gadjah Mada (2017) menekankan pentingnya pemilihan drying profile yang tepat untuk setiap jenis medium. [8] Medium saus, misalnya, memerlukan suhu awal yang lebih rendah untuk mencegah spattering (percikan) yang dapat menyebabkan kehilangan sampel dan hasil yang tidak akurat.

Homogenitas Sampel dan Teknik Preparasi yang Tepat

Panduan OHAUS secara tegas menyatakan: “Sample collection and sample preparation have great influence on moisture readings and reproducibility… To ensure reproducible results, it is important that the test sample be a representative, homogenous mix.” [3]

Studi kasus dalam panduan yang sama mendemonstrasikan dampak homogenitas secara dramatis: sampel kue yang tidak homogen memberikan standar deviasi 1,58%, sedangkan setelah dihomogenkan, standar deviasi turun menjadi 0,2%. [3] Untuk ikan kaleng yang memiliki variasi tekstur antara daging, kulit, dan tulang, homogenisasi menjadi langkah yang tidak bisa ditawar.

Data dari BPMHP Semarang yang dipublikasikan di Jurnal Juvenil (2022) menunjukkan rentang standar deviasi kadar air pada berbagai produk perikanan: [9]

  • Ikan asin: SD 0,063%
  • Cumi beku: SD 0,668%
  • Tepung ikan: SD 0,061%

Variasi SD antar produk ini menegaskan bahwa karakteristik matriks sampel sangat mempengaruhi reprodusibilitas pengukuran.

Teknik preparasi yang direkomendasikan untuk sampel ikan kaleng meliputi: pencacahan atau penghalusan seluruh isi kaleng (termasuk medium) hingga homogen, penggunaan sampel minimal 3 gram (menurut data Ohaus MB62, repeatability 0,10% untuk sampel 3g dan 0,018% untuk sampel 10g), [10] serta penempatan sampel secara merata di atas sample pan.

Pengaruh Lama Penyimpanan Sampel Sebelum Uji

Sampel yang telah dibuka dari kaleng dan disimpan sebelum diuji dapat mengalami perubahan kadar air karena penguapan atau penyerapan uap air dari udara. Data dari Jurnal Kalwedo Sains menunjukkan bahwa perubahan kadar air pada produk jadi sudah terjadi secara signifikan selama penyimpanan dalam kaleng tertutup. [2]

Oleh karena itu, rekomendasi praktisnya adalah: lakukan pengujian segera setelah membuka kaleng (dalam waktu kurang dari 2 jam), atau simpan sampel dalam wadah kedap udara jika pengujian harus ditunda. Standarisasi prosedur ini akan mengurangi satu variabel yang tidak perlu dalam pengukuran.

4. Strategi Praktis Meminimalisir Error Pengukuran Kadar Air Ikan Kaleng

Setelah mengidentifikasi faktor-faktor penyebab error, langkah selanjutnya adalah menerapkan strategi mitigasi yang sistematis dan berbasis data.

Kalibrasi Rutin dan Verifikasi dengan SmartCal

METTLER TOLEDO merekomendasikan prosedur routine testing menggunakan SmartCal—substansi referensi bersertifikat—untuk deteksi dini penyimpangan alat. SmartCal memungkinkan verifikasi menyeluruh terhadap seluruh fungsi moisture analyzer, termasuk unit pemanas dan unit penimbangan, dalam satu pengukuran sederhana. [1]

Frekuensi kalibrasi yang direkomendasikan adalah setiap 30 hari atau lebih sering jika:

  • Alat baru pertama kali digunakan
  • Lokasi alat dipindahkan
  • Terjadi perubahan suhu ruang yang signifikan
  • Lingkungan ruang uji memiliki kelembaban >80% (frekuensi kalibrasi perlu ditingkatkan hingga 30% lebih sering) [6]

Penting untuk dicatat bahwa koreksi ambient dari tabel SmartCal harus diterapkan ketika kondisi lingkungan ruang uji tidak berada pada kondisi referensi (20°C, 50% RH). [1]

Kontrol Lingkungan Ruang Uji

Langkah-langkah praktis untuk mengontrol lingkungan ruang uji meliputi:

  1. Pasang AC untuk menjaga suhu ruang stabil di kisaran 20-25°C
  2. Gunakan dehumidifier jika kelembaban ruang melebihi 60%
  3. Hindari penempatan alat di dekat sumber panas (oven, retort) atau di area yang terkena sinar matahari langsung
  4. Gunakan meja anti-getaran yang stabil dan bebas dari draft (angin dari AC atau kipas)
  5. Pasang termohigrometer untuk pemantauan suhu dan kelembaban secara real-time

Panduan OHAUS menegaskan: “If the operating conditions change, the device must be recalibrated using a temperature adjustment kit.” [3]

Pemilihan Parameter Drying Profile yang Tepat

Ohaus MB62—salah satu moisture analyzer yang banyak digunakan di industri pengalengan—menawarkan 4 drying profiles yang dapat dipilih sesuai karakteristik sampel: [10]

  1. Ramp Profile: Pemanasan bertahap, ideal untuk sampel yang sensitif terhadap suhu tinggi
  2. Standard Profile: Pemanasan konstan pada suhu yang ditetapkan
  3. Step Profile: Pemanasan bertahap dengan beberapa level suhu
  4. Fast Profile: Pemanasan cepat untuk sampel dengan kadar air tinggi

Untuk sampel ikan kaleng, terutama yang mengandung medium saus atau minyak, disarankan untuk memulai dengan suhu yang lebih rendah (misalnya 105°C) untuk mencegah spattering, kemudian secara bertahap meningkatkan suhu. Tujuh shut-off criteria yang tersedia pada MB62 memungkinkan penghentian pengeringan secara otomatis ketika berat sampel telah stabil, meningkatkan konsistensi antar pengukuran.

Verifikasi Berkala Menggunakan Metode Oven Gravimetri SNI

Meskipun moisture analyzer menawarkan kecepatan dan kemudahan, verifikasi periodik terhadap metode standar SNI 2354.2:2015 (oven gravimetri) tetap diperlukan. SNI 2354.2:2015 menetapkan prosedur pengeringan pada suhu 105°C selama 16-24 jam—metode yang menjadi referee method atau acuan emas untuk pengujian kadar air produk perikanan. [11]

Penelitian UGM (2017) membandingkan akurasi dua merek moisture analyzer terhadap metode oven: [8]

  • HR 83: Error rata-rata 0,3% dengan SD 0,2% — dinyatakan lolos uji akurasi
  • Kett PM-410: Error rata-rata 0,91% dengan SD 0,4% — dinyatakan tidak lolos uji akurasi

Data ini menegaskan bahwa tidak semua moisture analyzer memiliki tingkat akurasi yang sama. Verifikasi berkala (misalnya setiap 3 bulan) menggunakan metode oven akan memastikan bahwa alat yang digunakan di laboratorium QC Anda masih memberikan hasil yang dapat diandalkan.

USDA FSIS CLG-MOI.05, metode kuantifikasi kadar air untuk produk daging dan unggas olahan, juga dapat dijadikan referensi internasional untuk prosedur laboratorium yang ketat. [4]

5. Perbandingan Metode: Oven Gravimetri SNI vs Moisture Analyzer untuk Industri Pengalengan

Pemilihan metode pengujian kadar air harus disesuaikan dengan kebutuhan spesifik industri pengalengan: kecepatan untuk pengendalian proses harian versus ketelitian untuk validasi dan sertifikasi.

Kapan Menggunakan Metode Oven dan Kapan Menggunakan Moisture Analyzer

AspekOven Gravimetri (SNI 2354.2:2015)Moisture Analyzer (Halogen)
Waktu Pengujian16-24 jam5-15 menit
AkurasiReferensi / Gold StandardSangat baik (error <0,5% pada alat berkualitas)
Biaya AwalLebih rendah (oven standar)Lebih tinggi (investasi alat)
Biaya OperasionalLebih tinggi (listrik 16-24 jam)Lebih rendah (pengujian cepat)
Kemudahan OperasiMemerlukan lebih banyak langkahOtomatis, mudah dioperasikan
Kesesuaian untuk QC HarianTidak praktisSangat praktis
Kesesuaian untuk SertifikasiWajib (metode standar)Sebagai pendukung

Rekomendasi untuk industri pengalengan: Gunakan moisture analyzer untuk pengujian harian pengendalian mutu dan proses, serta gunakan metode oven gravimetri untuk verifikasi periodik dan keperluan sertifikasi produk.

Rekomendasi Alat: Ohaus MB62 untuk Aplikasi Ikan Kaleng

Ohaus MB62 moisture analyzer menawarkan spesifikasi yang sangat sesuai untuk aplikasi ikan kaleng: [10]

  • Kapasitas: 90 gram (cukup untuk sampel representatif)
  • Readability: 0,01% atau 0,001 gram
  • Repeatability: 0,10% untuk sampel 3 gram; 0,018% untuk sampel 10 gram
  • Rentang Suhu: 40-200°C (fleksibel untuk berbagai medium)
  • Drying Profiles: 4 pilihan (Ramp, Standard, Step, Fast)
  • Shut-off Criteria: 7 pilihan untuk fleksibilitas maksimum

Dengan harga sekitar $3.842 hingga $4.521, [12] MB62 merupakan investasi yang sangat terjangkau untuk laboratorium QC yang membutuhkan hasil pengujian cepat dan akurat. Teknologi pemanas halogen yang digunakan memastikan distribusi panas yang merata dan waktu pengeringan yang lebih singkat dibandingkan dengan pemanas infra merah konvensional.

Kesimpulan

Fluktuasi hasil pengukuran kadar air ikan kaleng bukanlah misteri yang tidak dapat dipecahkan. Dengan pemahaman yang mendalam tentang tiga kelompok faktor utama—lingkungan produksi (suhu ruang, sterilisasi, lama penyimpanan), lingkungan ruang uji (suhu, kelembaban, stabilitas), dan karakteristik sampel (medium, homogenitas, preparasi)—tim QC dapat mengidentifikasi dan mengendalikan sumber-sumber variabilitas secara sistematis.

Data dari SmartCal Mettler Toledo menunjukkan bahwa pada kondisi yang umum ditemui di pabrik pengalengan Indonesia (suhu 30°C, RH 80%), koreksi yang diperlukan mencapai +1,47% —angka yang sangat signifikan dan tidak boleh diabaikan. [1] Sementara itu, panduan OHAUS menekankan pentingnya homogenitas sampel dengan data yang menunjukkan penurunan standar deviasi dari 1,58% menjadi 0,2% setelah homogenisasi yang tepat. [3]

Verifikasi berkala menggunakan metode oven gravimetri SNI 2354.2:2015 tetap menjadi langkah penting untuk memastikan keandalan jangka panjang alat ukur Anda, sebagaimana didemonstrasikan oleh penelitian UGM yang membandingkan akurasi berbagai merek moisture analyzer. [8][11]

Dengan menerapkan strategi kalibrasi rutin, kontrol lingkungan ruang uji, pemilihan drying profile yang tepat, dan standarisasi prosedur preparasi sampel, laboratorium QC di industri pengalengan ikan dapat mencapai hasil pengukuran kadar air yang konsisten, akurat, dan sesuai dengan standar nasional maupun internasional.

CV. Java Multi Mandiri adalah supplier dan distributor terpercaya alat ukur dan instrumen pengujian untuk industri pengalengan di Indonesia. Kami menyediakan Alat Analisa Kelembaban AMTAST MB62 yang telah teruji akurasinya untuk aplikasi pengukuran kadar air ikan kaleng dan produk perikanan lainnya. Dengan dukungan teknis dari tim kami yang berpengalaman, kami siap membantu perusahaan Anda mengoptimalkan operasional QC dan memenuhi kebutuhan peralatan komersial yang sesuai dengan standar industri. Untuk konsultasi solusi bisnis lebih lanjut, hubungi tim kami atau kunjungi halaman produk kami untuk informasi spesifikasi lengkap.

Rekomendasi Moisture Meter

Referensi

  1. METTLER TOLEDO. (N.D.). SmartCal™ User Guide – Reference Substance to Test Halogen Moisture Analyzers. METTLER TOLEDO AG. Retrieved from https://www.mt.com/dam/P5/labtec/05_Moisture_Analyzer/04_Smartcal/03_Documents/01_Brochures/SmartCal_UserGuide_EN.pdf
  2. Kaihena, M., & Ukratalo, A.M. (2022). Analisis Kandungan Gizi dan Jumlah Mikroba Produk Ikan Kaleng yang Dijual di Beberapa Supermarket di Kota Ambon Berdasarkan Lama Penyimpanan. Jurnal Kalwedo Sains, 3(1), 55-62. Retrieved from https://ojs3.unpatti.ac.id/index.php/kalwedosains/article/download/5780/4081
  3. OHAUS Corporation. (N.D.). A Guide to Moisture Content Analysis – OHAUS MB Series Moisture Analyzers. Retrieved from https://www.techadv.com.au/literature/ohaus/userguides/ohaus-moisture-analysis-guide.pdf
  4. USDA FSIS. (N.D.). CLG-MOI.05 Quantitation of Moisture. United States Department of Agriculture Food Safety and Inspection Service. Retrieved from https://www.fsis.usda.gov/sites/default/files/media_file/documents/CLG-MOI.05.pdf
  5. Universitas Airlangga. (2019). Proses Pengalengan Ikan di CV. Pasific Harvest Banyuwangi. Jurnal Marine and Coastal Science, 8(2). Retrieved from https://e-journal.unair.ac.id/JMCS/article/download/21149/11689/79783
  6. SKZ Tester. (N.D.). Panduan Kalibrasi dan Perawatan Moisture Meter. Retrieved from https://www.skztester.com/id/blog/moisture-meter-calibration-and-maintenance-tips
  7. Badan Standardisasi Nasional. (1996). SNI 2715:1996 – Ikan Asin Kering. Jakarta: BSN.
  8. Universitas Gadjah Mada. (2017). Penelitian Pengujian Meter Kadar Air. UGM Repository. Retrieved from https://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/113876
  9. Hayati, & Hafiludin. (2022). Karakteristik Kimia (Kadar Air, TVB-N, dan Protein) pada Produk Perikanan di BPMHP Semarang. Jurnal Juvenil, Universitas Trunojoyo. Retrieved from https://journal.trunojoyo.ac.id/juvenil/article/view/17389
  10. Ohaus Corporation. (N.D.). MB62 Moisture Analyzer Specifications. Retrieved from https://www.fishersci.com/shop/products/mb62-moisture-analyzer-1/01670762
  11. Badan Standardisasi Nasional. (2015). SNI 2354.2:2015 – Cara Uji Kimia – Bagian 2: Pengujian Kadar Air pada Produk Perikanan. Jakarta: BSN. Retrieved from https://pesta.bsn.go.id/produk/detail/10154-sni235422015
  12. Marshall Scientific. (N.D.). OHAUS MB62 Moisture Analyzer Product Page. Retrieved from https://new.marshallscientific.com/products/ohaus-mb62-moisture-analyzer

Main Menu