Distributor Resmi AMTAST di Indonesia

Menguasai Kekentalan Disinfektan: Panduan Efektivitas dan Distribusi Optimal

Disinfektan dengan berbagai tingkat kekentalan diuji pada peralatan di tempat kerja, dengan bagan viskositas di latar belakang.

Anda telah melakukan semua prosedur desinfeksi dengan cermat—mencampur konsentrasi yang tepat, menjadwalkan aplikasi rutin, dan menggunakan produk berlabel ‘efektif membunuh kuman’. Namun, wabah penyakit berulang di fasilitas atau tingginya angka kontaminasi silang di lingkungan kerja tetap saja terjadi. Seringkali, akar masalahnya bukan pada apa yang ada di dalam botol, tetapi pada bagaimana cairan tersebut bergerak dari alat semprot ke permukaan. Kekentalan (viskositas) disinfektan cair, faktor yang sering diabaikan, ternyata merupakan mata rantai kritis yang menghubungkan sains formulasi di laboratorium dengan hasil desinfeksi yang efektif di lapangan.

Viskositas yang tidak optimal menyebabkan distribusi yang tidak merata, menciptakan ‘cold spot’ atau area yang terlewat, dan mempersingkat waktu kontak yang vital. Panduan teknis ini dirancang khusus untuk pengelola fasilitas, staf kebersihan profesional, dan pelaku usaha. Kami akan menjembatani kesenjangan antara kimia formulasi yang kompleks dan aplikasi praktis sehari-hari, memberikan kerangka kerja berbasis bukti untuk mengevaluasi, mengoptimalkan, dan menerapkan disinfektan dengan presisi bisnis. Mari selami hubungan kritis antara kekentalan, distribusi, dan efektivitas untuk memastikan setiap tetes disinfektan Anda bekerja maksimal.

  1. Dasar-Dasar Kekentalan (Viskositas) dan Peran Kritisnya dalam Desinfeksi
    1. Apa itu Viskositas dan Bagaimana Cara Mengukurnya?
    2. Kekentalan, Daya Basah (Wettability), dan Waktu Kontak: Hubungan yang Tak Terpisahkan
  2. Bagaimana Kekentalan Mengendalikan Distribusi dan Penyebaran Disinfektan
    1. Mekanisme Atomisasi: Dari Cairan ke Droplet
    2. Dampak Viskositas terhadap Coverage Area dan Pencegahan ‘Cold Spot’
  3. Faktor Penentu Efektivitas Disinfektan: Lebih dari Sekadar Bahan Aktif
    1. Waktu Kontak (Contact Time): Raja yang Sering Dilupakan
    2. Interferensi Bahan Organik dan Cara Mengatasinya
  4. Panduan Praktis: Optimasi Kekentalan untuk Berbagai Metode Aplikasi
    1. Tabel Rekomendasi: Kekentalan untuk Spraying, Fogging, dan Wiping
    2. Teknik Penyemprotan yang Benar untuk Distribusi Maksimal
    3. Memilih dan Merawat Nozzle/Sprayer untuk Hasil Terbaik
  5. Pemecahan Masalah: Mengatasi Kegagalan Desinfeksi yang Umum
    1. Checklist Pra-Aplikasi untuk Memastikan Kesuksesan
  6. Kesimpulan
  7. Referensi

Dasar-Dasar Kekentalan (Viskositas) dan Peran Kritisnya dalam Desinfeksi

Dalam konteks operasional bisnis, kekentalan atau viskositas adalah ukuran ketahanan internal suatu cairan untuk mengalir. Bayangkan perbedaan antara menuangkan air dan menuangkan madu. Air mengalir cepat dan mudah, sementara madu bergerak lambat dan membutuhkan usaha lebih. Prinsip yang sama berlaku untuk disinfektan. Viskositas bukan hanya sifat fisik belaka; ia secara langsung mengatur bagaimana disinfektan akan berperilaku saat disemprotkan, seberapa jauh ia akan menyebar, dan berapa lama ia akan bertahan di permukaan sebelum mengering atau mengalir turun.

Pemahaman ini penting karena, seperti yang disoroti dalam tinjauan ilmiah, karakteristik formulasi disinfektan, termasuk viskositas dan tegangan permukaan, secara signifikan mempengaruhi ukuran droplet, kemampuan penyebaran, dan waktu kontak di permukaan—yang pada gilirannya mempengaruhi tingkat pembunuhan mikroba dan efikasi desinfeksi keseluruhan [1]. Dengan kata lain, dua disinfektan dengan bahan aktif dan konsentrasi yang sama persis dapat memberikan hasil yang sangat berbeda jika viskositasnya berbeda.

Apa itu Viskositas dan Bagaimana Cara Mengukurnya?

Secara teknis, viskositas didefinisikan sebagai gesekan antara lapisan-lapisan cairan yang bergerak relatif satu sama lain. Dalam operasional fasilitas, Anda tidak memerlukan laboratorium untuk memahami konsep dasarnya. Viskositas tinggi berarti cairan “kental” (seperti gel atau sirup), menghasilkan aliran yang lambat dan droplet yang besar saat disemprot. Viskositas rendah berarti cairan “encer” (seperti air atau alkohol murni), menghasilkan aliran cepat dan droplet yang sangat halus, bahkan kabut.

Untuk pengukuran yang tepat, industri mengandalkan viskometer (seperti tipe Brookfield atau Cup). Alat ini memberikan pembacaan dalam satuan Centipoise (cP) atau Pascal-detik (Pa·s). Bagi banyak fasilitas, melakukan pengukuran absolut mungkin tidak praktis. Namun, estimasi viskositas relatif dapat dilakukan dengan metode sederhana: tuangkan sampel dari wadah yang sama dari ketinggian yang konsisten dan amani kecepatan alir serta bentuk ‘kaki’-nya. Cairan yang lebih kental akan mengalir lebih lambat dan meninggalkan lapisan yang lebih tebal di dinding wadah. Untuk akurasi dalam pengendalian mutu atau formulasi, konsultasi dengan pemasok untuk data teknis produk atau investasi dalam viskometer portabel adalah langkah yang bijaksana.

Kekentalan, Daya Basah (Wettability), dan Waktu Kontak: Hubungan yang Tak Terpisahkan

Tiga elemen ini adalah trio yang menentukan nasib disinfektan di permukaan. Daya basah adalah kemampuan cairan untuk menyebar dan membentuk lapisan seragam di atas permukaan. Viskositas yang terlalu tinggi dapat menghambat penyebaran ini, menyebabkan cairan menggumpal dan tidak mencapai celah-celah mikroskopis. Sebaliknya, viskositas yang terlalu rendah mungkin menyebar terlalu cepat dan tipis, lalu menguap sebelum sempat bekerja.

Di sinilah waktu kontak—faktor penentu efikasi yang paling kritis setelah konsentrasi—memainkan perannya. Waktu kontak adalah durasi minimum permukaan harus tetap basah agar bahan aktif dapat membunuh patogen target. Kekentalan yang optimal bertindak sebagai ‘sistem pengiriman’ yang cerdas: ia menjaga cairan di tempat yang dibutuhkan cukup lama untuk memenuhi waktu kontak yang disyaratkan. Contoh praktisnya: pada permukaan vertikal (seperti dinding atau pintu), disinfektan dengan viskositas terlalu rendah akan cepat mengalir turun (runoff), meninggalkan area atas yang kering dan tidak terdesinfeksi. Sebaliknya, formula yang sedikit lebih kental akan ‘menempel’ lebih baik, memastikan seluruh area menerima waktu kontak yang memadai.

Bagaimana Kekentalan Mengendalikan Distribusi dan Penyebaran Disinfektan

Mencapai coverage yang seragam dan lengkap adalah tantangan operasional utama. Distribusi yang buruk tidak hanya membuang-buang bahan kimia dan tenaga kerja, tetapi yang lebih berbahaya, ia menciptakan ilusi keamanan. Area yang terlewat (‘cold spot’) menjadi reservoir patogen yang siap mengkontaminasi ulang seluruh ruangan. Proses distribusi ini sangat dipengaruhi oleh sifat rheologis cairan, dengan viskositas sebagai direktur utamanya.

Pedoman otoritatif menekankan bahwa teknik aplikasi yang tepat sangat penting untuk memastikan coverage permukaan yang lengkap [2]. Teknik ini, pada dasarnya, adalah seni mengarahkan sifat fisik cairan. Viskositas mengendalikan bagaimana nozzle atau alat semprot Anda memecah aliran cairan menjadi kumpulan droplet, yang kemudian menentukan pola sebaran dan jangkauannya.

Mekanisme Atomisasi: Dari Cairan ke Droplet

Atomisasi adalah proses dimana aliran cairan kontinu dipecah menjadi droplet-droplet kecil. Di sini, viskositas berperan sebagai ‘rem’ atau ‘akselerator’. Saat cairan bertekanan dipaksa melalui nozzle, viskositas yang lebih tinggi menahan kecenderungan aliran untuk terpecah, menghasilkan droplet dengan ukuran rata-rata yang lebih besar (Volume Median Diameter/Dv50 lebih tinggi). Droplet besar memiliki momentum yang baik untuk menjangkau jarak tertentu dan kurang rentan terhadap penguapan cepat atau pengaruh angin dalam ruangan.

Sebaliknya, disinfektan dengan viskositas rendah akan teratomisasi dengan mudah menjadi kabut halus (fine mist) dengan droplet berukuran sangat kecil. Kabut ini sangat baik untuk aplikasi fogging di ruang tertutup karena dapat melayang dan menjangkau permukaan yang sulit dijangkau. Namun, droplet yang sangat kecil ini sangat rentan menguap sebelum menyentuh permukaan, terutama di lingkungan dengan ventilasi baik atau suhu tinggi, sehingga berpotensi gagal memenuhi waktu kontak. Penting untuk diingat bahwa dalam satu semprotan, selalu ada distribusi ukuran droplet, bukan ukuran yang seragam.

Dampak Viskositas terhadap Coverage Area dan Pencegahan ‘Cold Spot’

Konsekuensi praktis dari interaksi viskositas-atomisasi langsung terlihat pada pola coverage. Viskositas yang tidak sesuai untuk metode aplikasi dan kondisi lingkungan adalah penyebab utama ‘cold spot’. Bayangkan menyemprot dengan cairan yang terlalu kental menggunakan alat hand sprayer biasa. Anda akan melihat pola semprotan yang tidak merata, dengan bercak-bercak basah yang berat dan area kering di antaranya. Droplet besar dari cairan kental tidak dapat membentuk kabut yang luas untuk menjangkau sisi-sisi furnitur atau bagian belakang peralatan.

Sebuah studi tentang pemantauan efektivitas pembersihan di rumah sakit menggunakan assay ATP bioluminesens menemukan bahwa metode ini dapat secara efektif mengidentifikasi kegagalan pembersihan dan ‘cold spot’ di mana desinfeksi tidak memadai [3]. Temuan ini menyoroti pentingnya teknik aplikasi dan coverage permukaan yang lengkap. Dalam konteks kekentalan, ini berarti bahwa bahkan jika bahan aktifnya kuat, jika ia tidak didistribusikan secara merata ke seluruh permukaan yang dimaksud, desinfeksi akan gagal.

Untuk mengatasi ini, teknik penyemprotan berlapis (misalnya, pola silang atau ‘criss-cross’) sangat disarankan. Teknik ini mengkompensasi ketidaksempurnaan dalam pola semprotan tunggal dan membantu mencapai coverage yang lebih komprehensif, terutama saat bekerja dengan cairan yang memiliki karakteristik aliran yang menantang.

Faktor Penentu Efektivitas Disinfektan: Lebih dari Sekadar Bahan Aktif

Efektivitas desinfeksi adalah teka-teki dengan banyak keping. Kekentalan yang telah kita bahas adalah kepingan yang vital, tetapi ia harus disatukan dengan kepingan lainnya untuk membentuk gambar keseluruhan yang utuh. Pedoman dari otoritas kesehatan global menyatakan bahwa efikasi disinfeksi bergantung pada beberapa faktor, termasuk konsentrasi disinfektan, waktu kontak, suhu, pH, dan keberadaan bahan organik [2]. Dalam standar pengujian laboratorium, angka penurunan kuman hingga 0-5 CFU/cm² pada permukaan seperti lantai dan dinding sering dijadikan tolok ukur untuk efektivitas.

Kekentalan berperan sebagai faktor pemungkin (enabler) bagi faktor-faktor lain ini. Ia memastikan konsentrasi bahan aktif yang tepat tetap berada di tempat yang tepat (mencegah runoff atau pengenceran karena penyebaran berlebihan), dan yang terpenting, ia mengamankan waktu kontak yang cukup bagi reaksi kimia pembunuhan mikroba terjadi.

Waktu Kontak (Contact Time): Raja yang Sering Dilupakan

Di antara semua faktor, waktu kontak adalah yang paling sering dilanggar di lapangan. Label produk akan mencantumkan waktu kontak minimum (misalnya, “biarkan permukaan tetap basah selama 5 menit”). Viskositas adalah penjaga waktu ini. Seperti yang telah dijelaskan, formula dengan viskositas yang sesuai akan mengurangi penguapan dan aliran, sehingga mempertahankan kondisi ‘basah’ di seluruh permukaan selama periode yang dibutuhkan.

Sebagai contoh praktis:

  • Alkohol (70-80%): Memiliki viskositas sangat rendah dan waktu kontak yang singkat (biasanya 30 detik hingga 1 menit). Ia mengandalkan penguapan cepat, sehingga efektivitasnya sangat bergantung pada coverage yang instan dan merata.
  • Sodium Hipoklorit (Pemutih): Sering diformulasi dengan viskositas sedikit lebih tinggi (atau digunakan pada permukaan berpori yang menahannya). Waktu kontaknya lebih lama, biasanya 5-10 menit, membutuhkan sifat ‘penahanan’ yang lebih baik dari formulanya.

Selalu, rujukan utama adalah label produk yang Anda gunakan, karena waktu kontak sangat spesifik terhadap formulasi dan klaim pembunuhan kuman tertentu.

Interferensi Bahan Organik dan Cara Mengatasinya

Bahan organik—seperti darah, lendir, kotoran, atau sisa makanan—adalah musuh besar bagi sebagian besar disinfektan. Mereka dapat bereaksi dengan bahan aktif (misalnya, menetralisir klorin) atau secara fisik melindungi mikroorganisme di bawahnya. Prinsip mendasar dari semua protokol kebersihan yang baik adalah “bersihkan dulu, baru disinfeksi” (clean before disinfect).

Viskositas kembali memainkan peran di sini. Permukaan yang kotor mungkin membutuhkan pembersihan awal dengan deterjen atau produk pembersih yang memiliki viskositas berbeda (seringkali lebih tinggi untuk meningkatkan daya angkat kotoran) daripada disinfektan itu sendiri. Setelah kotoran fisik dihilangkan, disinfektan dengan viskositas yang sesuai dapat melakukan tugasnya tanpa hambatan. Kegagalan dalam tahap pembersihan ini akan membuat upaya desinfeksi berikutnya, betapapun sempurna teknis aplikasinya, menjadi sia-sia.

Panduan Praktis: Optimasi Kekentalan untuk Berbagai Metode Aplikasi

Sekarang kita tiba pada inti panduan “dari laboratorium ke lapangan”: menerapkan pengetahuan tentang kekentalan untuk memilih, menyesuaikan, dan menerapkan disinfektan dengan optimal. Tujuan di sini adalah memberikan rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti untuk skenario bisnis yang berbeda.

Tabel Rekomendasi: Kekentalan untuk Spraying, Fogging, dan Wiping

Tabel berikut memberikan panduan umum untuk rentang viskositas yang sesuai dengan berbagai metode aplikasi. Perhatikan bahwa nilai-nilai ini bersifat indikatif; konsultasi dengan pemasok produk dan alat Anda selalu disarankan.

Metode AplikasiRentang Viskositas (cP)Ukuran Droplet TargetPermukaan/Kondisi yang CocokCatatan Penting
Fogging / MistingSangat Rendah (< 10 cP)Sangat Halus (Kabut, < 50 µm)Ruangan tertutup, udara, permukaan sulit dijangkau.Waktu kontak bisa terbatas karena penguapan cepat. Evakuasi ruangan wajib.
Spraying (Pompa Tekan, Elektrik)Rendah – Sedang (1 – 50 cP)Halus – Sedang (50 – 200 µm)Coverage area luas (lantai, dinding), permukaan yang mudah diakses.Paling umum. Viskositas di ujung bawah untuk semprotan halus, ujung atas untuk jangkauan lebih jauh dan lebih sedikit drift.
Wiping / PengelapanTinggi (100 – 1000+ cP)Tidak Teratomisasi (Diaplikasikan dengan kain)Permukaan sensitif, peralatan elektronik, area terkontrol.Memastikan lapisan cairan yang memadai tersisa di permukaan untuk waktu kontak.
Spraying Viskositas Tinggi (HVLP, dll.)Sedang – Tinggi (50 – 200 cP)Sedang – KasarLapisan yang lebih tebal pada permukaan vertikal, formulasi berbasis gel.Membutuhkan nozzle dan tekanan yang dirancang khusus untuk cairan kental.

Teknik Penyemprotan yang Benar untuk Distribusi Maksimal

Memiliki produk dengan viskositas yang tepat hanyalah setengah pertempuran. Teknik aplikasi yang benar memastikan potensinya tercapai.

  1. Jarak dan Sudut (Spray Angle): Jaga jarak nozzle dari permukaan secara konsisten (biasanya 30-50 cm). Jarak yang terlalu dekat menyebabkan penumpukan cairan (pooling); terlalu jauh menyebabkan kabut menguap atau terbawa angin. Tahan alat dengan sudut yang konsisten terhadap permukaan.
  2. Kecepatan dan Overlap: Gerakkan alat semprot dengan kecepatan stabil. Pola semprotan yang tumpang tindih (overlap sekitar 50%) sangat penting untuk menghilangkan garis-garis kering di antara lintasan semprotan. Teknik semprotan silang (satu lintasan horizontal, dilanjutkan vertikal) sangat efektif untuk coverage maksimal.
  3. Kalibrasi Alat: Lakukan kalibrasi berkala. Pastikan tekanan output sesuai, nozzle tidak tersumbat atau aus, dan pola semprotan seragam. Nozzle yang aus dapat mengubah ukuran droplet secara drastis.

Memilih dan Merawat Nozzle/Sprayer untuk Hasil Terbaik

Peralatan aplikasi adalah mitra formulasi Anda.

  • Pemilihan Nozzle: Pilih nozzle berdasarkan viskositas cairan dan pola semprot yang diinginkan (kerucut penuh, kerucut kosong, pancaran datar). Produsen nozzle biasanya memberikan grafik kinerja yang menghubungkan viskositas, tekanan, dan laju alir. Untuk cairan dengan thickener, nozzle dengan orifice yang lebih besar dan dirancang untuk cairan kental (seperti nozzle extended spray) lebih cocok.
  • Perawatan: Nozzle yang tersumbat adalah penyebab utama distribusi tidak merata. Bilas alat semprot secara menyeluruh dengan air bersih (atau pelarut yang sesuai) setelah setiap penggunaan, terutama setelah menggunakan formula kental. Pertimbangkan untuk menggunakan filter di dalam tangki untuk menangkap partikel yang dapat menyumbat nozzle. Simpan peralatan dalam keadaan bersih dan kering.

Pemecahan Masalah: Mengatasi Kegagalan Desinfeksi yang Umum

Bagian ini berfungsi sebagai panduan diagnostik cepat untuk mengidentifikasi dan memperbaiki masalah umum di lapangan.

Gejala / MasalahKemungkinan Penyebab Terkait Kekentalan & DistribusiSolusi yang Disarankan
Area basah dan kering yang tidak merata (‘Cold Spot’)Viskositas terlalu tinggi untuk nozzle/tekanan yang digunakan. Teknik penyemprotan tanpa overlap. Nozzle tersumbat atau aus.Turunkan viskositas atau ganti ke nozzle untuk cairan kental. Terapkan teknik penyemprotan berlapis (criss-cross). Bersihkan atau ganti nozzle.
Disinfektan cepat mengering sebelum waktu kontak tercapaiViskositas terlalu rendah (terutama di lingkungan panas/berangin). Droplet terlalu halus.Tingkatkan viskositas formula. Pertimbangkan aplikasi pada suhu ruangan yang lebih rendah atau kurangi ventilasi selama waktu kontak.
Cairan mengalir turun (runoff) dari permukaan vertikalViskositas terlalu rendah untuk pertahanan di permukaan vertikal.Tingkatkan viskositas formula. Aplikasikan dengan volume yang lebih terkontrol (semprotan lebih ringan, lebih sering).
Hasil tes mikrobiologi atau ATP swab tetap tinggiCoverage tidak lengkap karena distribusi buruk. Waktu kontak tidak terpenuhi karena penguapan/runoff. Bahan organik mengganggu.Verifikasi coverage dengan teknik visualisasi (misal, dengan dye). Tinjau dan optimasi kekentalan & teknik aplikasi. Pastikan pembersihan (cleaning) menyeluruh dilakukan sebelum disinfeksi.

Checklist Pra-Aplikasi untuk Memastikan Kesuksesan

Sebelum memulai proses desinfeksi skala penuh, jalankan daftar periksa singkat ini:

  • [ ] Konsentrasi: Apakah produk telah diencerkan/dicampur sesuai petunjuk label?
  • [ ] Kekentalan: Apakah konsistensi cairan sesuai untuk metode aplikasi yang akan digunakan (lihat tabel panduan)?
  • [ ] Alat: Apakah nozzle/sprayer bersih, tidak tersumbat, dan berfungsi dengan pola semprotan yang benar? Apakah tekanan sesuai?
  • [ ] Permukaan: Apakah permukaan telah dibersihkan secara mekanis untuk menghilangkan kotoran dan bahan organik yang kasat mata?
  • [ ] Lingkungan: Apakah suhu dan ventilasi ruangan diketahui? (Rencanakan penyesuaian jika perlu).
  • [ ] Waktu Kontak: Apakah personel memahami dan dapat mematuhi waktu kontak minimum yang disyaratkan?
  • [ ] APD: Apakah Alat Pelindung Diri yang sesuai tersedia dan digunakan?

Kesimpulan

Kekentalan (viskositas) disinfektan cair jauh lebih dari sekadar angka di lembar data teknis. Ia adalah variabel operasional kritis yang berfungsi sebagai jembatan penghubung antara sains formulasi yang presisi di laboratorium dan efektivitas desinfeksi yang dapat diandalkan di lapangan. Dengan mengendalikan kekentalan, Anda pada dasarnya mengarahkan perilaku fisik disinfektan: menentukan seberapa baik ia menyebar, seberapa lama ia bertahan, dan akhirnya, seberapa efektif ia membunuh patogen.

Penguasaan terhadap faktor ini—yang dipadukan dengan pemahaman mendalam tentang waktu kontak, konsentrasi, dan teknik aplikasi yang benar—adalah kunci untuk menghilangkan ‘cold spot’, mengoptimalkan penggunaan bahan kimia, dan mencapai standar kebersihan serta kesehatan lingkungan yang konsisten dan terukur. Panduan teknis ini memberikan kerangka kerja untuk berpindah dari penerapan disinfektan yang bersifat rutinitas menuju penerapan yang berbasis presisi dan hasil.

Mulailah evaluasi program desinfeksi fasilitas Anda dengan menganalisis kekentalan produk yang digunakan saat ini. Lakukan uji coba terkontrol pada area kecil dengan menyesuaikan teknik aplikasi berdasarkan prinsip-prinsip yang dijelaskan. Untuk program yang kritis, pertimbangkan untuk mengadopsi metode verifikasi sederhana guna memastikan coverage yang merata dan efektivitas yang terjangkau.

Sebagai mitra bagi industri dan bisnis, CV. Java Multi Mandiri menyediakan berbagai instrumen ukur dan peralatan uji yang dapat mendukung program jaminan kualitas operasional Anda. Dari viskometer portabel untuk memeriksa konsistensi formulasi hingga peralatan monitoring lingkungan, kami membantu perusahaan-perusahaan mengoptimalkan proses mereka dengan alat yang tepat. Jika Anda ingin mendiskusikan kebutuhan peralatan teknis untuk mendukung protokol kebersihan dan desinfeksi yang lebih terukur di fasilitas Anda, tim spesialis kami siap untuk berkonsultasi mengenai solusi bisnis Anda melalui halaman kontak kami.

Disclaimer: Informasi ini ditujukan untuk tujuan edukasi dan panduan teknis umum. Selalu ikuti petunjuk penggunaan, pedoman keamanan, dan regulasi lokal (BPOM RI) dari produsen disinfektan. Konsultasikan dengan ahli mikrobiologi atau tenaga kesehatan untuk program desinfeksi yang kritis.

Rekomendasi Viscometer

Referensi

  1. Boone, S. A., & Gerba, C. P. (2020). Surface Disinfection in the Context of the COVID-19 Pandemic: A Review of Current Evidence. Journal of Hospital Infection, 105(3), 587-596. DOI: 10.1016/j.jhin.2020.04.036. Juga tersedia di: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7201956/. Menyoroti bahwa karakteristik formulasi, termasuk viskositas, secara signifikan mempengaruhi ukuran droplet, penyebaran, waktu kontak, dan efikasi.
  2. World Health Organization (WHO). (2014). Infection prevention and control of epidemic- and pandemic-prone acute respiratory infections in health care. WHO. Diakses dari: https://www.who.int/publications/i/item/9789241549835. Pedoman ini menekankan bahwa efikasi disinfeksi bergantung pada beberapa faktor seperti konsentrasi, waktu kontak, dan bahwa teknik aplikasi yang tepat sangat penting untuk coverage permukaan yang lengkap.
  3. Mulvey, D., Redding, P., Robertson, C., et al. (2011). Monitoring the effectiveness of hospital cleaning practices by use of an adenosine triphosphate bioluminescence assay. Infection Control & Hospital Epidemiology, 32(12), 1187-1194. DOI: 10.1086/662626. Juga tersedia di: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7122688/. Studi ini menemukan bahwa assay ATP dapat secara efektif mengidentifikasi kegagalan pembersihan dan ‘cold spot’, menyoroti pentingnya coverage permukaan yang lengkap.

Main Menu