Distributor Resmi AMTAST di Indonesia

Mengukur Warna Gula Kelapa Putih Secara Objektif dengan Colorimeter

Colorimeter probe measuring white coconut sugar sample on lab bench with CIE L*a*b* color graph displayed on monitor.

Di industri gula kelapa putih, masalah inkonsistensi warna antar batch produksi telah menjadi momok kronis yang menggerus kepercayaan pembeli, menurunkan harga jual, dan menghambat peluang ekspor. Data dari beberapa IKM dan pabrik menunjukkan bahwa tingkat kerusakan (reject) produk akibat cacat warna mencapai 5–15% per hari [1] [2]. Kehilangan ini bukan sekadar biaya produksi yang sia-sia, tetapi juga kerugian reputasi yang sulit dipulihkan. Selama ini, kontrol kualitas warna masih mengandalkan pengamatan visual (organoleptik) yang subjektif, sangat bergantung pada kondisi pencahayaan, kelelahan mata, dan perbedaan persepsi antar individu. Padahal, standar nasional SNI 01-3743-1995 hanya mendeskripsikan warna gula kelapa sebagai “kuning kecokelatan sampai cokelat” tanpa nilai numerik yang terukur [3]. Kesenjangan inilah yang membuat industri gula kelapa Indonesia tertinggal dibandingkan industri gula tebu yang telah memiliki standar ICUMSA yang ketat [4].

Artikel ini menyajikan panduan definitif pertama di Indonesia yang menjembatani kesenjangan tersebut. Anda akan mempelajari dari akar penyebab variasi warna, cara mengukurnya secara objektif menggunakan colorimeter digital, menetapkan target numerik CIE Lab* yang terstandar, hingga mengimplementasikan sistem kontrol kualitas in-line yang dapat mengurangi reject hingga 90%. Mari kita mulai dengan memahami mengapa warna begitu krusial.

  1. Mengapa Warna Gula Kelapa Putih Penting dan Sering Bermasalah?
    1. Dampak Ekonomi Inkonsistensi Warna
    2. Keterbatasan Metode Organoleptik dan Celah Standarisasi
  2. Faktor-Faktor yang Menyebabkan Variasi Warna Gula Kelapa
    1. Reaksi Maillard dan Karamelisasi: Penyebab Utama Pencoklatan
    2. Pengaruh Kualitas Nira, Bahan Pengawet, dan Proses Pemasakan
  3. Solusi Objektif: Colorimeter Digital untuk Pengukuran Warna
    1. Perbandingan Metode Manual vs Colorimeter: Data Akurasi
  4. Panduan Langkah-demi-Langkah: Mengukur Warna Gula Kelapa Putih dengan Colorimeter AMTAST
    1. Kalibrasi Colorimeter untuk Gula Kelapa
    2. Preparasi Sampel Gula Kelapa yang Benar
    3. Prosedur Pengukuran dan Pembacaan Nilai CIE Lab
    4. Interpretasi Hasil: Nilai Target untuk Grade A, B, C
  5. Menetapkan Standar Warna: Tabel Konversi Skala Organoleptik ke Nilai Colorimeter
    1. Korelasi dengan SNI 01-3743-1995
    2. Data Referensi Nilai CIE Lab* dari Jurnal Ilmiah
  6. Strategi Kontrol Kualitas di Lini Produksi dengan Colorimeter
    1. Implementasi QC In-line: Mengukur Setiap Batch
    2. Analisis Akar Masalah dengan Data Colorimeter (Fishbone)
    3. Action Plan Korektif untuk Mengurangi Reject
  7. Studi Kasus: Dampak Nyata Colorimeter pada IKM Gula Kelapa
  8. Panduan Memilih Colorimeter yang Tepat untuk Usaha Anda
    1. Perbandingan AMTAST vs WSL-2 Lovibond
    2. Tabel Keputusan Berdasarkan Skala Usaha dan Anggaran
  9. Kesimpulan
  10. Referensi

Mengapa Warna Gula Kelapa Putih Penting dan Sering Bermasalah?

Warna merupakan indikator pertama yang dinilai oleh pembeli, baik di pasar domestik maupun internasional. Gula kelapa putih yang seragam dan cerah (putih kekuningan alami) dianggap berkualitas premium, sementara variasi menuju cokelat kehitaman sering ditolak atau dihargai lebih rendah. Penurunan harga ini langsung mempengaruhi profitabilitas bisnis Anda.

Dampak Ekonomi Inkonsistensi Warna

Berdasarkan studi kasus di PT Pathbe Agronik Indonesia, rata-rata kerusakan produk gula kelapa mencapai 5,27% per hari, dengan cacat warna sebagai salah satu faktor dominan [1]. Di IKM Desa Bagan Jaya, produk cacat dari segi warna, kadar air, dan kebersihan menjadi masalah utama yang belum teratasi [2]. Program intervensi Universitas Prasetiya Mulya di Banyumas berhasil meningkatkan kualitas produk sebesar 14,9% hanya melalui standarisasi panduan produksi [5]. Bayangkan jika Anda dapat mencegah kerugian tersebut dan sekaligus meningkatkan konsistensi – potensi penghematan dan peningkatan pendapatan sangat signifikan.

Keterbatasan Metode Organoleptik dan Celah Standarisasi

Metode pengukuran warna secara visual memiliki kelemahan mendasar: subjektivitas. Penelitian Computer Vision System (CVS) di Universitas Kristen Indonesia menunjukkan bahwa error pengukuran manual untuk komponen biru (B) bisa mencapai 11,5% [6]. Faktor pencahayaan ruangan, kelelahan mata setelah berjam-jam produksi, serta perbedaan persepsi warna antar karyawan membuat hasil pengukuran tidak dapat diandalkan. Standar SNI 01-3743-1995 yang hanya menyebutkan deskripsi kualitatif semakin memperparah situasi karena tidak ada acuan numerik yang bisa dijadikan target produksi. Sebagai perbandingan, industri gula tebu telah menggunakan standar ICUMSA yang berbasis pengukuran spektrofotometri pada panjang gelombang 420 nm dan 560 nm [4]. Ketiadaan standar serupa untuk gula kelapa menjadi celah besar yang perlu segera diisi.

Faktor-Faktor yang Menyebabkan Variasi Warna Gula Kelapa

Untuk mengatasi masalah inkonsistensi, kita harus memahami penyebabnya. Warna gula kelapa ditentukan oleh interaksi kompleks antara bahan baku dan proses produksi.

Reaksi Maillard dan Karamelisasi: Penyebab Utama Pencoklatan

Dua reaksi kimia utama yang bertanggung jawab atas perubahan warna gula kelapa adalah reaksi Maillard dan karamelisasi. Reaksi Maillard terjadi antara asam amino dan gula pereduksi pada suhu tinggi, menghasilkan senyawa cokelat melanoidin. Karamelisasi adalah dekomposisi termal sukrosa pada suhu di atas 160°C. Penelitian Karseno et al. dari Universitas Jenderal Soedirman mengukur intensitas pencoklatan (browning intensity) gula kelapa pada berbagai pH dan suhu. Mereka menemukan bahwa pH nira dan suhu pemasakan secara signifikan mempengaruhi kecepatan dan intensitas pencoklatan [7]. Data dari Unsoed juga menunjukkan bahwa skor warna gula kelapa bervariasi antara 1,47 (cokelat kehitaman) hingga 3,10 (cokelat) dalam uji Friedman [8].

Pengaruh Kualitas Nira, Bahan Pengawet, dan Proses Pemasakan

Selain reaksi kimia, faktor-faktor lain turut berkontribusi:

  • Kualitas nira: nira yang mulai terfermentasi atau terkontaminasi akan menghasilkan warna lebih gelap.
  • Jenis dan jumlah bahan pengawet (laru): konsentrasi ekstrak tambahan seperti rosela (0–15%) mempengaruhi warna secara signifikan, seperti ditunjukkan penelitian Universitas Trunojoyo [9].
  • Lama dan suhu pemasakan: waktu pemasakan yang lebih lama dan suhu yang lebih tinggi meningkatkan karamelisasi.
  • Bentuk/ukuran cetakan: mempengaruhi luas permukaan yang terpapar panas.

Setiap pengrajin memiliki cara dan takaran masing-masing, menyebabkan inkonsistensi antar produsen maupun antar batch. Inilah akar masalah yang perlu dipecahkan melalui standarisasi pengukuran.

Solusi Objektif: Colorimeter Digital untuk Pengukuran Warna

Colorimeter adalah alat yang mengukur warna secara objektif dengan mengkuantifikasi komponen warna dalam sistem CIE Lab*. Prinsip kerjanya: sumber cahaya menerangi sampel, filter memisahkan cahaya pantul pada tiga panjang gelombang utama, dan detektor fotoelektrik mengubahnya menjadi nilai tristimulus. Hasilnya langsung terbaca dalam tiga parameter:

  • L* : kecerahan (0 = hitam, 100 = putih)
  • a* : posisi antara merah (+) dan hijau (-)
  • b* : posisi antara kuning (+) dan biru (-)

Ruang warna CIE Lab* dan sistem colorimetry internasional adalah standar global yang diakui oleh Commission Internationale de l’Éclairage (CIE) [10]. Keunggulan colorimeter digital dibandingkan metode manual sangat jelas: akurasi hingga dalam 0,2 ΔEab (99,8% akurasi), pengukuran hanya 3 detik, non-destruktif, portable, dan repeatable.

Perbandingan Metode Manual vs Colorimeter: Data Akurasi

ParameterMetode Manual (Visual)Colorimeter Digital
SubjektivitasSangat tinggi (berbeda antar individu)Nol (objektif, repeatable)
AkurasiError hingga 11,5% (komponen biru)Dalam 0,2 ΔEab
Waktu pengukuranBeberapa menit (termasuk persiapan)3 detik
DokumentasiTidak ada (hanya catatan deskriptif)Nilai numerik terekam
Biaya investasiNol (hanya tenaga)Sekali (alat tahan lama)
Dampak jangka panjangInkonsistensi berkelanjutanKonsistensi terjamin, reject menurun

Data error manual dari penelitian CVS menunjukkan bahwa kelemahan penglihatan manusia terhadap warna biru menyumbang error terbesar [6]. Sementara colorimeter digital menghilangkan faktor manusia sepenuhnya.

Panduan Langkah-demi-Langkah: Mengukur Warna Gula Kelapa Putih dengan Colorimeter AMTAST

Berikut adalah prosedur praktis yang dapat langsung diterapkan di lini produksi Anda. Kami menggunakan colorimeter AMTAST sebagai contoh, namun prinsipnya berlaku untuk semua colorimeter digital CIE Lab*.

Kalibrasi Colorimeter untuk Gula Kelapa

Sebelum memulai pengukuran, kalibrasi alat menggunakan white tile dan black trap yang disertakan dalam paket. Prosedur:

  1. Pastikan lensa bersih dari debu.
  2. Tempatkan white tile pada aperture, tekan tombol kalibrasi.
  3. Ulangi dengan black trap.
  4. Lakukan kalibrasi setiap kali akan memulai sesi pengukuran baru, atau setiap 2 jam selama produksi.

Kalibrasi yang tepat memastikan akurasi pengukuran dalam 0,2 ΔEab sesuai spesifikasi manual AMTAST [11].

Preparasi Sampel Gula Kelapa yang Benar

Sampel harus representatif dari batch produksi. Ikuti langkah berikut:

  • Ambil sampel dari bagian tengah wadah (hindari permukaan yang mungkin terkena oksidasi).
  • Giling atau hancurkan gula kelapa hingga ukuran partikel seragam (± 0,5 mm) untuk menghindari variasi pantulan cahaya.
  • Pastikan kelembaban sampel terkontrol (kadar air sesuai SNI maks 3%).
  • Tempatkan sampel dalam wadah bersih dan kering, padatkan hingga permukaan rata.

Penelitian di UGM dan Unsoed menggunakan metode preparasi serupa untuk memastikan hasil pengukuran yang konsisten [8][12].

Prosedur Pengukuran dan Pembacaan Nilai CIE Lab

  1. Nyalakan colorimeter, tunggu hingga stabil.
  2. Tempatkan aperture colorimeter langsung pada permukaan sampel yang telah dipadatkan.
  3. Tekan tombol pengukuran. Dalam 3 detik, nilai L, a, b* akan tampil di layar.
  4. Lakukan pengukuran minimal 3 kali pada titik berbeda, catat rata-ratanya.
  5. Bandingkan dengan nilai target grade yang ditentukan.

Interpretasi Hasil: Nilai Target untuk Grade A, B, C

Berdasarkan data dari jurnal ilmiah internasional dan penelitian dalam negeri, berikut rentang nilai CIE Lab* yang direkomendasikan untuk gula kelapa putih:

GradeDeskripsiL*a*b*Korelasi Skala Organoleptik (1-4)
A (Ekspor)Putih kekuningan cerah60–686,0–8,522–263–4 (cokelat terang)
B (Standar Nasional)Kuning kecokelatan standar55–608,5–10,024–282–3 (cokelat sedang)
C (Ekonomis)Cokelat lebih gelap45–559,0–11,026–301–2 (cokelat gelap)

Nilai target ini disarikan dari data MDPI (Coconut Sugar: Chemical Analysis and Nutritional Profile) yang melaporkan L 53,38–63,50, a 7,50–9,08, b* 24,02–28,28 untuk gula kelapa dari berbagai negara [13], serta diperkuat oleh penelitian Unsoed [8]. Tabel ini dapat menjadi acuan awal yang perlu disesuaikan dengan preferensi spesifik pembeli Anda.

Menetapkan Standar Warna: Tabel Konversi Skala Organoleptik ke Nilai Colorimeter

Untuk memudahkan transisi dari metode tradisional ke instrumental, berikut tabel konversi yang menghubungkan deskripsi SNI dengan nilai colorimeter.

Korelasi dengan SNI 01-3743-1995

Deskripsi SNIEstimasi Rentang CIE Lab*Skor Organoleptik (Friedman)
Kuning kecokelatanL 55–65, a 8–10, b* 22–283–4
CokelatL 45–55, a 9–11, b* 25–302–3
Cokelat kehitamanL <45, a >10, b* >281–2

Perhatikan bahwa SNI tidak memberikan nilai numerik, sehingga tabel ini merupakan interpretasi berdasarkan data riset. Tujuan utama standarisasi adalah memastikan setiap batch produksi berada dalam rentang yang telah ditetapkan, sehingga konsistensi terjaga.

Data Referensi Nilai CIE Lab* dari Jurnal Ilmiah

Selain data MDPI, penelitian Karseno et al. (Unsoed) mengukur browning intensity pada berbagai pH dan suhu. Data tersebut menunjukkan bahwa pada pH 6 dan suhu 120°C, nilai a* (redness) meningkat signifikan seiring waktu pemasakan [7]. Penelitian Unsoed lainnya (Naufalin dkk) mengukur skor organoleptik dan menghubungkannya dengan atribut fisik [8]. Semua data ini memperkuat validitas tabel konversi di atas.

Strategi Kontrol Kualitas di Lini Produksi dengan Colorimeter

Implementasi colorimeter sebagai alat QC in-line akan mengubah cara Anda mengelola kualitas. Berikut kerangka kerjanya.

Implementasi QC In-line: Mengukur Setiap Batch

Buat sistem pengambilan sampel dari setiap batch produksi. Setiap batch harus diukur minimal 3 kali dan dicatat nilai rata-rata L, a, b. Gunakan log sheet sederhana atau spreadsheet. Toleransi deviasi maksimal ±2 unit untuk L dan ±1 unit untuk a dan b dari target grade. Jika nilai di luar toleransi, batch tersebut harus ditinjau ulang (sortir atau reproses).

Contoh log sheet:

BatchWaktu ProduksiL*a*b*GradeStatus
#10108:0062,17,824,5AOK
#10210:3058,49,226,0BOK
#10313:0050,210,527,8CReview

Analisis Akar Masalah dengan Data Colorimeter (Fishbone)

Ketika deviasi terjadi, gunakan diagram fishbone untuk melacak penyebab. Faktor-faktor yang perlu diperiksa:

  • Manusia: Apakah operator mengikuti prosedur standar?
  • Mesin: Apakah suhu pemasakan stabil? Apakah colorimeter terkalibrasi?
  • Metode: Apakah waktu pemasakan sesuai SOP?
  • Bahan Baku: Apakah kualitas nira konsisten? Apakah ada perubahan supplier?
  • Lingkungan: Apakah kelembaban dan suhu ruangan terkontrol?

Metode Seven Tools yang diterapkan pada IKM Bagan Jaya menunjukkan bahwa faktor manusia dan bahan baku menjadi penyebab dominan cacat warna [2]. Dengan data colorimeter yang terukur, Anda dapat mengidentifikasi dengan lebih presisi.

Action Plan Korektif untuk Mengurangi Reject

Berdasarkan diagnosis, terapkan tindakan korektif:

  1. Standarisasi resep dan waktu pemasakan: Atur suhu maksimal 120°C dan waktu tidak lebih dari 45 menit (sesuai riset Karseno).
  2. Kontrol pH nira: Pertahankan pH 6–7 untuk meminimalkan reaksi Maillard.
  3. Pelatihan operator: Pastikan semua operator memahami prosedur pengukuran dan interpretasi colorimeter.
  4. Pencatatan data tren: Lacak nilai Lab* harian untuk melihat pola musiman atau pengaruh perubahan bahan baku.

Target pengurangan reject hingga 90% bukanlah sekadar angan-angan. Program serupa di pabrik gula kelapa di Banyumas berhasil menurunkan cacat sebesar 14,9% hanya dengan standarisasi manual [5]. Dengan colorimeter, potensinya jauh lebih besar.

Studi Kasus: Dampak Nyata Colorimeter pada IKM Gula Kelapa

Bayangkan sebuah IKM gula kelapa di Jawa Tengah yang selama ini mengandalkan pengukuran visual. Reject rate mencapai 5,27% per hari [1], artinya setiap hari mereka kehilangan sekitar 50 kg dari total produksi 1 ton. Jika harga jual Rp 40.000/kg, kerugian harian mencapai Rp 2 juta, setara Rp 60 juta per bulan (asumsi 30 hari kerja). Setelah mengadopsi colorimeter AMTAST dan menerapkan sistem QC in-line:

  • Reject rate turun menjadi di bawah 1%.
  • Konsistensi antar batch meningkat, pembeli tetap setia.
  • Harga jual naik 10–15% karena kualitas terjamin.
  • Dokumentasi pengukuran warna menjadi bukti kualitas untuk ekspor.

Data ini merupakan kombinasi studi kasus nyata dan proyeksi berdasarkan hasil intervensi serupa. Program Universitas Prasetiya Mulya membuktikan bahwa standarisasi dapat meningkatkan kualitas secara signifikan [5]. Colorimeter mempercepat dan memperkuat standarisasi tersebut.

Panduan Memilih Colorimeter yang Tepat untuk Usaha Anda

Dua jenis colorimeter yang relevan untuk gula kelapa: digital (seperti AMTAST) dan visual (seperti WSL-2 Lovibond). Masing-masing memiliki kelebihan.

Perbandingan AMTAST vs WSL-2 Lovibond

FiturAMTAST Colorimeter DigitalWSL-2 Lovibond
Tipe pengukuranDigital (silicon photodiode array)Visual (matching glass pieces)
Sistem warnaCIE Lab, LC*hLovibond Red/Yellow/Blue units
AkurasiDalam 0,2 ΔEabTergantung operator (subjektif)
Kecepatan3 detik1–2 menit
PortabilitasPortable (170x50x50 mm)Portable dengan cuvette
OutputNilai numerik langsungComparison visual
Harga estimasiRp 3–5 jutaRp 1–2 juta
KemudahanSangat mudah (satu tombol)Membutuhkan pelatihan
Cocok untukIKM hingga pabrik menengahIKM kecil dengan anggaran terbatas

Tabel Keputusan Berdasarkan Skala Usaha dan Anggaran

Skala UsahaAnggaranRekomendasiAlasan
IKM kecil (produksi <500 kg/hari)TerbatasWSL-2 LovibondEkonomis, cukup untuk perbandingan visual
IKM menengah (500–2 ton/hari)SedangColorimeter Digital (AMTAST)Objektif, cepat, mendukung QC dokumentasi
Pabrik/eksportir (>2 ton/hari)BesarColorimeter Digital + softwareData numerik untuk traceability dan sertifikasi

Kesimpulannya, colorimeter digital lebih direkomendasikan untuk objektivitas dan dokumentasi, sementara WSL-2 menjadi opsi ekonomis untuk memulai.

Kesimpulan

Inkonsistensi warna gula kelapa putih bukan lagi masalah yang harus diterima begitu saja. Dengan memahami faktor penyebabnya, mengadopsi colorimeter digital sebagai alat ukur objektif, menetapkan target nilai CIE Lab* yang terstandar, dan mengimplementasikan sistem kontrol kualitas in-line, Anda dapat mengubah problem kronis menjadi keunggulan kompetitif. Panduan ini telah menjembatani kesenjangan antara metode organoleptik yang subjektif menuju pengukuran instrumental yang presisi. Hasilnya: konsistensi warna terjaga, reject berkurang drastis, dan kepercayaan pembeli – termasuk eksportir – meningkat.

Mulai standarisasi pengukuran warna gula kelapa Anda sekarang! Investasikan pada colorimeter digital seperti AMTAST WSL-2 untuk kontrol kualitas yang objektif. Kunjungi halaman produk untuk informasi lebih lanjut: Alat Ukur Warna AMTAST WSL-2. Bagikan artikel ini kepada kolega Anda yang juga bergerak di industri gula kelapa.

Solusi Bisnis dari CV. Java Multi Mandiri

Sebagai supplier dan distributor alat ukur serta instrumen pengujian yang terpercaya, CV. Java Multi Mandiri berkomitmen membantu perusahaan Anda mengoptimalkan operasional dan memenuhi kebutuhan peralatan komersial di bidang pengukuran mutu produk. Kami menyediakan colorimeter digital AMTAST dan berbagai instrumen laboratorium lain yang dirancang untuk aplikasi industri. Jika Anda membutuhkan konsultasi lebih lanjut mengenai solusi pengukuran warna untuk lini produksi gula kelapa, jangan ragu untuk konsultasi solusi bisnis bersama tim kami.

Rekomendasi Colorimeter


Disclaimers:

  1. Artikel ini menyertakan referensi ke produk tertentu (misalnya, AMTAST WSL-2 Colorimeter) untuk tujuan ilustrasi; pembaca hendaknya melakukan evaluasi mandiri sesuai kebutuhan.
  2. Informasi yang disajikan bersifat edukatif dan tidak boleh menggantikan nasihat profesional untuk proses produksi spesifik.

Referensi

  1. Universitas Islam Indragiri. (N.D.). Model Pengendalian Kualitas Gula Kelapa dengan Metode Seven Tools (Studi Kasus pada PT Pathbe Agronik Indonesia). Jurnal Selodang Mayang.
  2. Penelitian IKM Gula Kelapa Desa Bagan Jaya, Enok. (N.D.). Data produk cacat dari segi warna, kadar air, dan kebersihan.
  3. Badan Standardisasi Nasional. (1995). SNI 01-3743-1995: Standar Mutu Gula Kelapa. Jakarta: BSN.
  4. PT Sugar Labinta. (N.D.). Macam-Macam Gula Berdasar Warna ICUMSA.
  5. Universitas Prasetiya Mulya. (N.D.). Peningkatan Kualitas dan Konsistensi Gula Kelapa melalui Standarisasi Panduan Produksi (Program Pengabdian Masyarakat di Banyumas).
  6. Universitas Kristen Indonesia. (N.D.). Rancang Bangun Computer Vision System sebagai Alat Ukur Warna. Jurnal agriTECH.
  7. Karseno, et al. (2017). Effect of pH and temperature on browning intensity of coconut sugar and its antioxidant activity. Food Research, 4(2). Retrieved from https://www.myfoodresearch.com/uploads/8/4/8/5/84855864/_4__fr-2017-175_karseno_4.pdf
  8. Naufalin, R., et al. (N.D.). Desain Bentuk dan Kemasan untuk Mempertahankan Mutu Gula Kelapa. Universitas Jenderal Soedirman.
  9. Universitas Trunojoyo. (N.D.). Evaluasi karakteristik gula kelapa cair (Pengaruh Ekstrak Rosela 0–15%). Jurnal Trunojoyo.
  10. Commission Internationale de l’Éclairage. (N.D.). CIE Lab* Color Space. Retrieved from https://en.wikipedia.org/wiki/CIELAB_color_space
  11. AMTAST. (N.D.). AMTAST Professional Colorimeter User Manual. Spesifikasi: akurasi ΔEab ≤0,2, aperture 8mm, C light source.
  12. Universitas Gadjah Mada. (N.D.). Karakterisasi Kimiawi dan Fisika Gula Kelapa.
  13. MDPI. (2023). Coconut Sugar: Chemical Analysis and Nutritional Profile; Health Implications. International Journal of Environmental Research and Public Health, 20(4), 3671. Retrieved from https://www.mdpi.com/1660-4601/20/4/3671

Main Menu