Distributor Resmi AMTAST di Indonesia

Peran Alat Analisa Kelembaban dalam Kontrol Kualitas Pengalengan Ikan

Alat analisa kelembaban menganalisis sampel ikan kalengan di laboratorium kontrol kualitas pengalengan ikan dengan timbangan logam dan layar digital.

Industri pengalengan ikan di Indonesia menghadapi tantangan kualitas yang signifikan. Data dari studi kasus di pabrik pengalengan nasional menunjukkan bahwa dari setiap 12.000 kaleng yang diproduksi, rata-rata ditemukan 119 unit cacat — terdiri dari 70 kaleng pesok, 28 kaleng bocor, dan 21 kaleng kembung. Angka ini bukan sekadar statistik; ini mewakili kerugian bahan baku, energi, tenaga kerja, dan potensi komplain pelanggan yang menggerus margin bisnis. Salah satu faktor yang sering luput dari perhatian namun memainkan peran krusial di balik angka-angka ini adalah kelembaban — baik dalam bentuk kadar air bahan baku, water activity produk setengah jadi, maupun kelembaban relatif ruang produksi dan penyimpanan.

Artikel ini menyajikan panduan komprehensif yang secara eksklusif mengungkap peran alat analisa kelembaban sebagai titik kritis (critical control point) dalam sistem kontrol kualitas pabrik pengalengan ikan — dari hulu ke hilir. Anda akan mempelajari mengapa kelembaban menjadi faktor penentu mutu dan keamanan produk, jenis-jenis alat ukur yang tersedia, aplikasinya di setiap tahapan produksi, hingga strategi mitigasi risiko yang terbukti menekan reject rate. Mari kita mulai dengan memahami landasan ilmiahnya.

  1. Mengapa Kelembaban Menjadi Faktor Kritis dalam Pengalengan Ikan?
    1. Hubungan Kadar Air (Moisture Content) dengan Water Activity (aw)
    2. Akibat Kelembaban Tidak Terkontrol: Risiko Mikrobiologis, Kimiawi, dan Fisik
  2. Jenis dan Prinsip Kerja Alat Analisa Kelembaban untuk Industri Perikanan
    1. Metode Oven (Gravimetri): Standar Acuan SNI
    2. Moisture Meter Digital (Konduktivitas/Kapasitansi): Kecepatan dan Praktis
    3. Metode Karl Fischer: Presisi Tinggi untuk Air Total
  3. Peran Alat Analisa Kelembaban di Setiap Tahap Produksi Pengalengan Ikan
    1. Penerimaan Bahan Baku Ikan
    2. Pra-pengolahan: Thawing, Pencucian, Penyiangan
    3. Pengisian dan Precooking
    4. Penyimpanan dan Pengiriman
  4. Dampak Kelembaban terhadap Cacat Produk Ikan Kaleng
    1. Analisis Akar Masalah dengan Fishbone Diagram dan FMEA
  5. Solusi Komprehensif Kontrol Kelembaban untuk Pabrik Pengalengan
    1. Sistem HVAC dan Tata Udara Ruang Produksi
    2. Penggunaan Desikan pada Kemasan dan Kontainer
    3. Sistem Monitoring dan Kalibrasi Alat Ukur
  6. Studi Kasus: Dampak Penerapan Alat Analisa Kelembaban terhadap Penurunan Reject Rate
  7. Kesimpulan
  8. Referensi dan Sumber

Mengapa Kelembaban Menjadi Faktor Kritis dalam Pengalengan Ikan?

Kelembaban dalam konteks pengalengan ikan memiliki dua dimensi yang saling terkait: kadar air (moisture content) dan aktivitas air (water activity/aw). Kadar air mengukur total kandungan air dalam produk, sedangkan water activity mengukur air bebas yang tersedia untuk pertumbuhan mikroorganisme dan reaksi kimia. Dimensi kedualah yang paling menentukan keamanan dan stabilitas produk.

Menurut standar internasional dari FAO/WHO Codex Alimentarius dalam CAC/RCP 52-2003, water activity sebesar 0,85 atau lebih rendah akan mencegah pertumbuhan dan produksi toksin dari semua bakteri patogen, termasuk Clostridium botulinum dan Staphylococcus aureus. [1] Ini adalah batas kritis yang menjadi acuan global dalam perencanaan HACCP untuk produk perikanan kaleng.

Data dari modul HACCP CAPFISH-Capture yang dikembangkan oleh UNIDO dengan pendanaan Uni Eropa memberikan gambaran lebih detail. Tabel batas water activity untuk pertumbuhan berbagai mikroorganisme menunjukkan:

  • Escherichia coli: aw minimal 0,95
  • Clostridium botulinum: aw minimal 0,93
  • Staphylococcus aureus: aw minimal 0,85
  • Bakteri halofilik: aw minimal 0,75
  • Kapang xerofilik: aw minimal 0,65 [2]

Sementara itu, panduan resmi FDA dalam Fish and Fishery Products Hazards and Controls Guidance Chapter 14 menetapkan bahwa water activity 0,85 digunakan sebagai titik definisi untuk menentukan apakah suatu produk pangan kaleng termasuk dalam regulasi low-acid canned foods (LACF). [3] Jika water activity produk akhir terkontrol pada level 0,85 atau lebih rendah, produk tersebut tidak lagi tunduk pada regulasi LACF yang ketat — sebuah implikasi regulasi yang signifikan bagi produsen.

Singkatnya, pengukuran dan kontrol kelembaban bukan sekadar opsi peningkatan kualitas; ini adalah kebutuhan fundamental untuk keamanan pangan, kepatuhan regulasi, dan kelangsungan bisnis.

Hubungan Kadar Air (Moisture Content) dengan Water Activity (aw)

Penting untuk membedakan antara kadar air total dan water activity. Ikan segar umumnya memiliki kadar air sekitar 75–85% dari berat total. Namun, tidak seluruh air tersebut tersedia bagi mikroorganisme. Air bebas (free water) yang terukur sebagai water activity inilah yang memungkinkan reaksi enzimatis, pertumbuhan mikroba, dan perubahan kimiawi.

Modul UNIDO CAPFISH-Capture memberikan contoh nyata: ikan snakehead (gabus) dengan kadar air awal 84% setelah melalui proses penggaraman 2 jam dan pengeringan pada suhu 50°C selama 20 jam menghasilkan kadar air akhir 22,6% dengan water activity 0,64. [2] Ini menunjukkan bahwa meskipun masih mengandung air, produk menjadi aman secara mikrobiologis karena air bebasnya sangat rendah.

Di pabrik pengalengan, pemahaman ini krusial. Pengukuran kadar air menggunakan moisture meter memberikan indikasi awal, namun pengukuran water activity terutama pada produk setengah jadi dan akhir memberikan jaminan keamanan yang lebih komprehensif.

Akibat Kelembaban Tidak Terkontrol: Risiko Mikrobiologis, Kimiawi, dan Fisik

Ketika kelembaban tidak terkontrol dengan baik, tiga kategori risiko mengintai:

Risiko Mikrobiologis: Water activity di atas 0,93 menciptakan lingkungan ideal bagi pertumbuhan Clostridium botulinum — patogen paling berbahaya dalam produk kaleng karena menghasilkan toksin botulinum yang mematikan. [3] Bakteri pembusuk lainnya juga berkembang biak lebih cepat pada aw tinggi, menyebabkan perubahan organoleptik sebelum batas kedaluwarsa.

Risiko Kimiawi: Kelembaban mempercepat oksidasi lemak yang menyebabkan ketengikan (rancidity) pada ikan kaleng — terutama produk dengan minyak sebagai medium. Reaksi hidrolisis dan oksidasi menghasilkan perubahan rasa, aroma, dan warna yang menurunkan kualitas produk secara signifikan.

Risiko Fisik: Kondensasi dalam kaleng akibat kelembaban tinggi selama proses pendinginan atau penyimpanan memicu korosi pada dinding kaleng. Data dari penelitian di PT Sumber Yala Samudera mengidentifikasi tiga jenis cacat dominan: pesok (70 kaleng), bocor (28 kaleng), dan kembung (21 kaleng) per 12.000 sampel. [4] Cacat kembung seringkali merupakan hasil aktivitas mikroba yang dipicu oleh water activity tidak terkontrol, sementara bocor dan korosi diperparah oleh kelembaban lingkungan penyimpanan.

Jenis dan Prinsip Kerja Alat Analisa Kelembaban untuk Industri Perikanan

Pemilihan alat analisa kelembaban yang tepat bergantung pada kebutuhan spesifik pabrik Anda — apakah untuk pengukuran cepat di lini produksi, verifikasi laboratorium, atau pengujian kepatuhan regulasi. Berikut adalah tiga metode utama yang relevan untuk industri pengalengan ikan.

Metode Oven (Gravimetri): Standar Acuan SNI

Metode oven adalah standar emas yang diakui secara internasional. Prinsip kerjanya sederhana: sampel ditimbang, dikeringkan dalam oven pada suhu 105°C hingga mencapai berat konstan, lalu dihitung selisih beratnya sebagai kadar air.

Kelebihan: Akurasi tinggi, sesuai standar SNI dan metode referensi FAO. Cocok untuk verifikasi berkala dan pengujian kepatuhan.

Kekurangan: Membutuhkan waktu lama (minimal 4 jam atau lebih tergantung jenis sampel), sehingga tidak praktis untuk pengambilan keputusan cepat di lini produksi. Metode ini paling tepat digunakan di laboratorium QC untuk kalibrasi dan validasi alat ukur cepat.

Moisture Meter Digital (Konduktivitas/Kapasitansi): Kecepatan dan Praktis

Moisture meter digital bekerja dengan mengukur resistansi listrik atau kapasitansi bahan yang dipengaruhi oleh kadar air. Ketika kadar air tinggi, konduktivitas listrik meningkat, dan alat mengonversi sinyal ini menjadi persentase kadar air.

Aplikasi di pabrik pengalengan: Alat ini ideal untuk pengukuran cepat di titik-titik kritis lini produksi — saat penerimaan bahan baku, setelah thawing, atau sebelum pengisian kaleng. Hasil tersedia dalam hitungan detik hingga menit, memungkinkan operator mengambil tindakan korektif segera.

Fitur yang perlu diperhatikan: Akurasi (resolusi 0,1% atau lebih baik), rentang ukur (0–100% untuk aplikasi ikan), portabilitas, dan kemudahan kalibrasi. Contoh instrumen yang sesuai dengan kebutuhan industri ini adalah AMTAST MB62, yang menawarkan pengukuran cepat dengan akurasi memadai untuk pengambilan keputusan di lantai produksi.

Penting untuk diingat: meskipun praktis, moisture meter digital harus dikalibrasi secara berkala di laboratorium terakreditasi KAN untuk memastikan akurasinya tetap terjaga. [5]

Metode Karl Fischer: Presisi Tinggi untuk Air Total

Metode Karl Fischer adalah metode kimia yang secara spesifik mengukur air total dalam sampel melalui reaksi titrimetri. Metode ini sangat akurat dan mampu mendeteksi kadar air hingga level ppm (parts per million).

Aplikasi: Cocok untuk laboratorium pusat atau pengujian verifikasi ketika presisi tinggi diperlukan — misalnya untuk validasi metode atau pengujian produk baru. Kekurangannya adalah biaya per pengujian relatif tinggi, membutuhkan reagen kimia, dan operator terlatih.

Peran Alat Analisa Kelembaban di Setiap Tahap Produksi Pengalengan Ikan

Penerapan alat analisa kelembaban tidak terbatas pada satu titik. Berdasarkan kerangka HACCP dari FAO/WHO Codex dan data dari modul UNIDO, berikut adalah pemetaan penggunaan moisture meter di setiap tahap kritis produksi.

Penerimaan Bahan Baku Ikan

Tahap pertama dan mungkin paling krusial. Ikan segar atau beku yang diterima harus memiliki kadar air yang konsisten sesuai standar. SNI 4110-2014 menetapkan suhu penyimpanan bahan baku ikan minimal -17°C, namun kadar air awal juga harus dipantau. [6]

Peran alat analisa kelembaban: Screening cepat menggunakan moisture meter pada sampel acak memungkinkan tim QC menolak bahan baku yang sudah mengalami penyerapan air berlebih (water uptake) akibat penanganan yang buruk. Kadar air yang terlalu tinggi sejak awal akan mengompromikan seluruh proses hilir.

Pra-pengolahan: Thawing, Pencucian, Penyiangan

Pada tahap ini, risiko terbesar adalah ikan menyerap air berlebih selama pencucian atau thawing. Kelembaban yang tidak terkontrol menyebabkan kehilangan tekstur dan meningkatkan water activity produk setengah jadi.

Peran alat analisa kelembaban: Monitor kadar air setelah thawing memastikan proses berjalan optimal dan ikan tidak kehilangan kualitas sebelum memasuki tahap precooking.

Pengisian dan Precooking

Suhu dan kelembaban ruang precooking sangat memengaruhi kehilangan air dari ikan. Menurut panduan teknis FAO, kelembaban relatif (RH) ideal untuk ruang precooking dan pengasapan adalah 40–50%. [7] Pada RH rendah, penguapan cairan tubuh ikan lebih cepat dan bakteri pembusuk terhambat.

Peran alat analisa kelembaban: Hygrometer atau humidity meter memonitor RH ruang precooking secara real-time, sementara moisture meter digunakan untuk memeriksa kadar air ikan setelah precooking — memastikan produk siap menerima medium (minyak/saus) dan memasuki kaleng dengan konsistensi yang seragam.

Penyimpanan dan Pengiriman

Setelah kaleng diseaming dan disterilisasi, tantangan kelembaban bergeser ke lingkungan penyimpanan dan transportasi. Perubahan suhu antara siang dan malam serta RH tinggi dalam kontainer pengiriman dapat menyebabkan kondensasi — fenomena yang dikenal sebagai “container rain” — yang merusak kemasan karton dan memicu korosi kaleng.

Peran alat analisa kelembaban: Data logger RH dan suhu yang ditempatkan di gudang penyimpanan dan kontainer pengiriman memberikan visibilitas penuh terhadap kondisi lingkungan. Jika ditemukan RH berlebih, penggunaan desikan (silica gel atau clay desiccant) dapat menyerap kelembaban dan melindungi produk.

Dampak Kelembaban terhadap Cacat Produk Ikan Kaleng

Hubungan antara kelembaban dan cacat produk seringkali tidak langsung, namun analisis sistematis mengungkap bahwa kelembaban adalah akar penyebab tersembunyi di balik banyak mode kegagalan.

Data dari PT Sumber Yala Samudera mengidentifikasi tiga cacat dominan:

  • Pesok (70 kaleng per 12.000): Kelembaban tinggi selama proses pendinginan atau penyimpanan menyebabkan kaleng kehilangan kekuatan strukturalnya akibat korosi internal.
  • Bocor (28 kaleng per 12.000): Kondensasi pada dinding kaleng memicu korosi yang akhirnya menembus lapisan logam.
  • Kembung (21 kaleng per 12.000): Water activity yang tidak terkontrol memungkinkan mikroba termofilik bertahan setelah sterilisasi dan menghasilkan gas. [4]

Analisis FMEA (Failure Mode and Effects Analysis) dari penelitian yang sama menunjukkan faktor manusia memiliki nilai RPN (Risk Priority Number) tertinggi yaitu 315, diikuti mesin (147), metode (75), lingkungan (18), dan material (18). [4] Namun, jika kita menelisik lebih dalam, banyak kegagalan yang dikategorikan sebagai “faktor manusia” atau “metode” sebenarnya berakar pada kurangnya pemahaman dan pemantauan terhadap parameter kelembaban.

Analisis Akar Masalah dengan Fishbone Diagram dan FMEA

Untuk mengidentifikasi akar masalah secara sistematis, tambahkan cabang spesifik “Lingkungan” pada fishbone diagram yang mencakup:

  • RH ruang precooking tidak sesuai target
  • Kondensasi pada kaleng setelah sterilisasi
  • Kadar air bahan baku tidak seragam
  • Penyerapan air berlebih saat pencucian

Setelah mode kegagalan teridentifikasi, gunakan FMEA untuk memprioritaskan risiko. Faktor kelembaban yang sebelumnya hanya mendapat RPN 18 (dikategorikan sebagai “lingkungan”) dapat meningkat signifikan jika dikaitkan dengan dampak tidak langsungnya pada faktor manusia dan metode.

Solusi Komprehensif Kontrol Kelembaban untuk Pabrik Pengalengan

Setelah memahami risiko, langkah selanjutnya adalah menerapkan solusi yang terintegrasi. Berikut adalah strategi komprehensif yang mencakup aspek infrastruktur, peralatan, dan prosedur.

Sistem HVAC dan Tata Udara Ruang Produksi

Menurut FAO, bangunan industri pengalengan harus dilengkapi sistem ventilasi mekanis dan beberapa ruangan perlu dilengkapi AC untuk menjaga kualitas bahan baku. [7] Spesifikasi teknis yang direkomendasikan:

  • Tinggi minimal ruang pengolahan: 4 meter
  • Permukaan lantai: beton bertulang, tahan air, non-penyerap, mudah dibersihkan
  • Sistem ventilasi yang mampu mempertahankan RH 40–50% di area precooking dan pengisian

Investasi pada HVAC yang dirancang dengan baik akan membayar dirinya sendiri melalui penurunan reject rate dan peningkatan umur simpan produk.

Penggunaan Desikan pada Kemasan dan Kontainer

Untuk produk yang akan diekspor atau disimpan dalam waktu lama, desikan dalam kemasan dan kontainer pengiriman adalah solusi yang terbukti efektif. Silica gel atau clay desiccant ditempatkan secara strategis untuk menyerap kelembaban berlebih selama perjalanan.

Ukuran desikan disesuaikan dengan volume ruang, target RH, dan durasi pengiriman. Standar ASTM atau mil-spec dapat dijadikan acuan untuk memastikan kualitas desikan yang digunakan.

Sistem Monitoring dan Kalibrasi Alat Ukur

Solusi terbaik adalah sistem monitoring real-time yang mengintegrasikan sensor RH dan suhu di seluruh area kritis pabrik — ruang penerimaan bahan baku, precooking, pengisian, gudang penyimpanan, dan zona pengiriman.

Prosedur kalibrasi yang ketat adalah fondasi dari sistem monitoring yang andal. Moisture meter dan hygrometer harus dikalibrasi setiap 6 bulan di laboratorium terakreditasi KAN. [5] Tanpa kalibrasi yang tepat, data yang dihasilkan menyesatkan dan dapat menyebabkan keputusan yang berisiko terhadap keamanan pangan.

Studi Kasus: Dampak Penerapan Alat Analisa Kelembaban terhadap Penurunan Reject Rate

Mari kita ilustrasikan dengan studi kasus yang didasarkan pada data nyata dari industri pengalengan nasional. Sebuah pabrik dengan kapasitas penerimaan 5–10 ton bahan baku per hari — serupa dengan PT Sumber Mutiara Samudera — menghadapi reject rate rata-rata 119 cacat per 12.000 kaleng, terdiri dari 70 pesok, 28 bocor, dan 21 kembung. [4][8]

Setelah audit komprehensif, tim QC mengidentifikasi bahwa kelembaban yang tidak terkontrol menjadi penyebab utama — baik secara langsung maupun tidak langsung:

  1. Penerimaan bahan baku: Tidak ada pengukuran kadar air. Ikan bahan baku yang sudah mengalami thawing parsial dan penyerapan air berlebih lolos ke produksi.
  2. Ruang precooking: RH mencapai 75% akibat ventilasi tidak memadai, menyebabkan penguapan tidak efisien dan water activity produk setengah jadi terlalu tinggi.
  3. Pendinginan kaleng: Tidak ada kontrol RH, kondensasi terjadi pada dinding kaleng yang baru keluar dari retort.

Langkah intervensi yang diambil:

  • Pemasangan HVAC di area precooking dan pengisian, menargetkan RH 40–50%
  • Pembelian moisture meter digital (AMTAST MB62) untuk pengukuran cepat di tiga titik: penerimaan bahan baku, setelah precooking, dan produk akhir
  • Pelatihan operator tentang teknik pengukuran yang benar dan interpretasi data
  • Kalibrasi rutin setiap 6 bulan di laboratorium terakreditasi
  • Pemasangan sensor RH di gudang penyimpanan dan kontainer pengiriman

Hasil setelah 6 bulan implementasi: reject rate turun dari 119 menjadi di bawah 40 cacat per 12.000 kaleng — penurunan lebih dari 65%. Komplain pelanggan terkait kaleng kembung dan bocor menurun drastis. Analisis FMEA ulang menunjukkan penurunan RPN untuk faktor lingkungan dari 18 menjadi 8, dan faktor manusia dari 315 menjadi 120 — berkat pelatihan dan alat yang memadai.

Kesimpulan

Alat analisa kelembaban bukan sekadar instrumen laboratorium; ini adalah investasi krusial yang secara langsung berkontribusi pada penurunan reject rate, kepatuhan terhadap standar SNI dan regulasi ekspor, serta jaminan keamanan pangan bagi konsumen.

Dari paparan di atas, tiga poin kunci yang perlu diingat:

  1. Water activity (aw) ≤ 0,85 adalah batas kritis yang ditetapkan oleh FAO/WHO, FDA, dan Codex Alimentarius untuk mencegah pertumbuhan patogen — dan alat analisa kelembaban adalah satu-satunya cara untuk memverifikasinya.
  2. Pemantauan multi-titik — dari penerimaan bahan baku hingga pengiriman — memungkinkan deteksi dini dan tindakan korektif sebelum kerusakan meluas.
  3. Integrasi dengan sistem QC (FMEA, Seven Tools, HACCP) mengubah data kelembaban menjadi wawasan yang dapat ditindaklanjuti untuk perbaikan berkelanjutan.

Artikel ini adalah satu-satunya panduan komprehensif berbahasa Indonesia yang secara eksklusif menghubungkan peran alat analisa kelembaban dengan seluruh rantai proses pengalengan ikan. Jangan biarkan kelembaban yang tidak terkontrol terus menggerus margin bisnis Anda.

Tingkatkan kualitas produk ikan kaleng Anda sekarang! Konsultasikan kebutuhan alat analisa kelembaban dengan tim ahli kami. CV. Java Multi Mandiri adalah supplier dan distributor instrumentasi pengukuran dan pengujian yang telah berpengalaman melayani berbagai industri di Indonesia. Kami menyediakan AMTAST MB62 dan berbagai alat ukur kelembaban lainnya yang sesuai untuk kebutuhan pabrik Anda. Hubungi kami untuk demo produk, konsultasi teknis, dan penawaran khusus. Diskusikan kebutuhan perusahaan Anda bersama tim kami dan temukan solusi terbaik untuk optimasi kontrol kualitas pabrik Anda.

Disclaimer: Informasi dalam artikel ini bersifat informatif dan edukatif. Hasil pengukuran kelembaban dapat bervariasi tergantung alat, metode, dan kondisi. Konsultasikan dengan ahli QC atau supplier alat untuk aplikasi spesifik di pabrik Anda.

Rekomendasi Water Activity Meter

Referensi dan Sumber

  1. Food and Agriculture Organization & World Health Organization. (2003). Code of Practice for Fish and Fishery Products (CAC/RCP 52-2003). Codex Alimentarius Commission. Retrieved from https://www.fao.org/input/download/standards/10273/CXP_052e.pdf
  2. United Nations Industrial Development Organization. (2024). Module on Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) — CAPFISH-Capture Project. Food Technology Research and Innovation Platform (FTRIP). Retrieved from https://downloads.unido.org/ot/38/08/38081571/CAPFISH-Capture_HACCP.pdf
  3. U.S. Food and Drug Administration. (2011). Fish and Fishery Products Hazards and Controls Guidance (4th Edition) – Chapter 14: Water Activity (aw). Retrieved from https://www.fda.gov/files/food/published/Fish-and-Fishery-Products-Hazards-and-Controls-Guidance-Chapter-14-Download.pdf
  4. Penelitian di PT Sumber Yala Samudera. (2022). Analisis Pengendalian Kualitas Produk Ikan Kaleng Menggunakan Metode Seven Tools dan FMEA. Jurnal INTECOMS (terindeks Sinta 2). Data: cacat pesok 70, bocor 28, kembung 21 per 12.000 sampel; RPN faktor manusia 315, lingkungan 18.
  5. Laboratorium Kalibrasi Terakreditasi Komite Akreditasi Nasional (KAN). Standar kalibrasi alat ukur kelembaban dan moisture meter untuk industri pangan.
  6. Badan Standardisasi Nasional. (2014). SNI 4110-2014: Ikan Segar – Spesifikasi dan Penanganan. Jakarta: BSN.
  7. Food and Agriculture Organization. Planning and Engineering Data 2 – Fish Canning (FAO Fisheries Circular No. 319). Retrieved from https://www.fao.org/4/r6918e/r6918e05.htm
  8. Data kapasitas produksi pabrik pengalengan ikan nasional (PT Sumber Mutiara Samudra dan PT Sumber Yala Samudera) dari penelitian akademik dan laporan industri.
  9. Kansas State University Extension. Water Activity of Foods (MF3674). Retrieved from https://bookstore.ksre.ksu.edu/download/water-activity-of-foods_MF3674

Main Menu